Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Dinkes Matim: Ada 2.401 Kasus Akibat Gigitan Hewan Penular Rabies, 13 Orang Meninggal
KESEHATAN

Dinkes Matim: Ada 2.401 Kasus Akibat Gigitan Hewan Penular Rabies, 13 Orang Meninggal

By Redaksi1 Agustus 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Staf pengelola Pengendalian Penyakit Menular Rabis Dinkes Matim, Peligia Yurince Indel saat melakukan suntikan VAR kepada salah satu anak dari Kecamatan Lamba Leda yang diduga digigit anjing rabies (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Sejak tahun 2009  sebanyak 2.401 kasus akibat gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi NTT. Dari angka itu, 13 orang di antaranya meninggal dunia.  

Data itu diungkapkan staf Pengelola Pengendalian Penyakit Menular Rabies Dinas Kesehatan (Dinkes) Matim, Peligia Yurince Indel yang ditemui sejumlah awak media di gudang tempat penyimpan VAR Kompleks Puskesmas Borong, Kamis (01/08/2019).

Peligia menjelaskan, kasus meninggal terakhir terjadi pada tahun 2018 sebanyak satu orang dan untuk tahun 2019, priode Januari hingga Juni ada 400 kasus yang terjadi.

Dia mengungkapkan, Kabupaten Manggarai Timur dan Pulau Flores umumnya merupakan daerah endemik rabies. Sebab itu, untuk pengendalian zoonosis lebih difokuskan pada upaya menanggulangi penyakit rabies.

“Pemerintah tentu berkewajiban untuk menjaga dan melindungi agar masyarakat tidak ancaman penyakit zoonosis,” katanya.

Rabies terang dia, adalah penyakit hewan menular yang akut bersifat zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia) dan sulit diberantas. Sekali muncul gejala klinis penyakit rabies pada penderita, baik pada hewan maupun manusia selalu diakhiri dengan kematian.

Bahaya rabies ini akan mengakibatkan timbulnya rasa cemas, rasa takut, serta keresahan masyarakat pada umumnya.

Apalagi kata dia, pertumbuhan populasi hewan penular rabies di Kabupaten Manggarai Timur kurang terkendali. Ditambah dengan pola pemeliharaan yang kurang tertib merupakan potensi yang besar bagi penyebaran penyakit rabies.

Peligia juga mengatakan ada tiga masalah dalam upaya penanggulangan rabies di Kabupaten Manggarai Timur.

Keduanya antara lain, pertama, kesadaran masyarakat dalam mendukung upaya penanggulangan rabies masih rendah. Kedua, pola pemeliharaan HPR yang kurang tertib. Ketiga, kasus gigitan HPR tersangka rabies cukup tinggi, sementara persediaan VAR terbatas.

Pencegahan Dini

Pelegia menjelaskan puskemas yang menangani VAR dinamakan Puskesmas Rabies Center. Di Manggarai Timur ada 25 puskesmas yang dtetapkan. Saat ini stok VAR sebanyak 256 vial.

“Karena VAR stoknya terbatas, untuk semua sementara dipusatkan di Puskemas Borong dan salah satunya anak-anak dari Kecamatan Lamba Leda yang digigit anjing kemarin di Kampung Lamba, Desa Tengku Leda,” imbuhnya.

“Mereka datang berobat dan mendapat suntik VAR di Gudang Penyimpan VAR di Kompleks Puskesmas Borong Kamis (1/8),” tambahnya.

Peligia mengatakan, pihaknya siap melayani warga yang diduga digigit anjing rabies. Pertolongan pertama saat digigit anjing rabies yakni membersihkan luka bekas gigit menggunakan air.

“Nanti bersihkan dengan menggunakan sabun dan juga deterjen lalu diantar ke puskesmas agar mendapat pertolongan. Harapan semua masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan memelihara anjing dengan tertib,” tandas Peligia.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Dinkes Matim Manggarai Timur
Previous ArticleSituasi di Perbatasan Matim dan Ngada Masih Kondusif
Next Article Berseteru dengan Bupati Deno, Ahang Jadi Tersangka

Related Posts

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

Warga Swadaya Perbaiki Jalan Rusak Benteng Jawa–Bawe, Sindir Minimnya Perhatian Pemerintah

3 Juli 2026
Terkini

Eco-enzyme: Solusi Sederhana Mengolah Limbah Dapur Perkotaan

16 Juli 2026

Dua Wisatawan Asal China Tewas Tenggelam saat Snorkeling di Perairan Pulau Kelor

15 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.