Ibu-ibu dari berbagai kelompok dasa wisma tampak berbaur mengolah pangan lokal menjadi bahan makanan (Foto: Ian Bala/Vox NTT)
alterntif text

Ende, Vox NTT-Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah penghasil pangan lokal. Mulai dari ubi, pisang bahkan beberapa tanaman lain yang masih terawat baik.

Pangan lokal kini mulai diangkat menjadi menu konsumsi di Kabupaten Ende karena sedianya mengandung nilai gizi untuk kesehatan.

Hal ini memicu Dinas Ketahanan Pangan serta kelompok dasa wisma di Ende untuk kembali membangkitkan semangat menjaga dan melestarikan tanaman lokal.

Selain itu, secara bersama-sama untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan kepada ibu-ibu kelompok dasa wisma melalui pelatihan pengelolaan pangan lokal di Lokasi Pembinaan Industri dan Kerajinan Rakyat (Lokabinkra), Jalan Gatot Subroto.

Dalam pelatihan itu, para ibu-ibu kelompok dasa wisma ini dilatih untuk meracik pangan lokal menjadi bahan makanan siap saji. Misalnya, keripik ubi, keripik pisang, pia kacang ijo, rampeye bayam, keripik talas hingga puding daun kelor.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan Ende, Ny. Matilda Gaundensia I. Petu mengatakan, kegiatan pengelolaan pangan lokal tersebut diangkat dari kelompok-kelompok dasa wisma dari desa. 

alterntif text

Kelompok ini menginginkan untuk dilatih mengelola pangan lokal sebagaimana menjadi potensi desa.

“Ya, semua desa-desa diinput dan kegiatan dimasukan di Dinas Ketahanan Pangan. Jadi, ini bentuk pemberdayaan sesuai dengan potensi desa yang ada. Ya, tentu pangan lokal menjadi fokus kita,”ucap Matilda kepada VoxNtt.com, Kamis (08/08/2019) siang.

“Mereka semua ini mewakili kelompok dasa wisma dan kelompok wanita tani,” sambung dia.

Secara teknis, jelas Matilda, bahan dari pangan lokal disediakan untuk diolah menjadi bahan makanan. Sedangkan pengolahan dilakukan secara lokal pula.

“Jadi pada prinsipnya, semua diolah seperti dulu kala. Bahwa, pangan lokal merupakan menu makanan yang memiliki nilai gizi bagi kesehatan,” katanya.

Atasi “Stunting”

Matilda menerangkan bahwa proses pelatihan tersebut dalam rangka untuk menurunkan angka stunting atau kekerdilan otak dan fisik anak. Sebab, hal itu merupakan salah satu program atau misi pemerintah saat ini.

“Sehingga pangan lokal yang memiliki kandungan gizi yang baik ini dapat menurunkan angka stunting. Salah satu adalah kelor. Karena, kelor memiliki nilai gizi untuk kesehatan terutama terhadap ibu hamil. Menurut penelitian, konsumsi satu porsi kelor sama dengan meminum 15 gelas susu. Jadi, ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi stunting,” ucap dia.

Untuk itu, Matilda berharap agar di setiap pekarangan rumah warga menanam minimal lima pohon kelor. Hal, ini merupakan himbauan ketua PKK Provinsi NTT.

“Tapi gerakan menanam kelor itu adalah kewenangan Dinas Pertanian. Kami bertugas untuk mengelola hasil pertanian warga,” ucap Matilda.

Untuk menurunkan angka stunting, ia berharap agar para kelompok pelatihan tersebut dapat menerapkan di lingkungan keluarga. Selain itu kepada anggota kelompok tani lainnya yang ada di masing-masing desa.

Sementara itu Maria Nata, anggota kelompok dasa wisma Durian, Kelurahan Mautapaga berharap agar pemerintah terus bersosialisasi untuk mempertahankan pangan lokal sebagai produk petani.

Hal ini dianggap penting, sebab mayoritas di Kabupaten Ende bermata pencarian bertani.

“Kita harap terus didorong untuk meningkatkan kesehatan dan ekonomi masyakarat. Jadi, pangan lokal ini memiliki nilai gizi terutama untuk ibu  dan anak,” katanya.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba