Yusuf Soru (kedua dari kiri) dalam kampanye Pemilu 2019 lalu tampak langsung terjun mendatangi masyarakat tanpa menggunakan baliho. (Foto: Ist)

Soe, Vox NTT- Yusuf Nikolaus Soru (YNS) merupakan salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Timor Tengah Selatan (DPRD TTS) terpilih periode 2019-2024.

Kendati disebut sebagai wajah baru di parlemen, YNS bukan pemain baru dalam percaturan politik di TTS.

Periode 2009-2014 lalu, YNS pernah menjadi anggota DPRD TTS dengan usia paling muda yakni 23 tahun.

Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang ini pun pernah tercatat sebagai Ketua Komisi A DPRD TTS periode 2009-2014 lalu.

Kini, ia kembali terpilih menjadi anggota dewan dari Dapil 1 TTS, yang meliputi Kecamatan Batuputih, Kuatnana, Amanuban Barat dan Kota Soe.

YNS tidak memakai baliho untuk meraup suara pada kampanye Pemilu lalu. Walau kampanye Pemilu kali lalu, ditandai dengan perang baliho para calon legislatif.

Pemandangan demikian, bukan lagi hal baru tatkala hajatan demokrasi lima tahunan dihelat.

Tampak baliho akan bertebaran di mana-mana, menghiasi sudut keramainan kota hingga hutan di kampung-kampung.

Kendati demikian, kampanye dengan baliho ini, dianggap tidak zamannya lagi bagi YNS.

Ia mengaku pada tahapan kampanye tidak memilih metode dengan media baliho. Metode demikian, kata politisi PDI Perjuangan ini, selain terkesan menghamburkan uang juga tidak efektif.

“Saya memilih mendatangi warga dengan memberikan pendidikan politik. Bagaimana coblos yang benar. Kalau menggunakan baliho, pesan yang disampaikan bisa saja tak nyangkut bahkan tak sampai sama sekali,” ujar Sekretaris DPC PDI Perjuangan TTS ini.

YNS yang disebut-sebut sebagai calon kuat Wakil Ketua DPRD TTS ini juga mengakui, jika dinamika politik terus berubah setiap saat. Oleh karena itu, baginya, seorang politisi tidak boleh hanya terpola dengan gaya lama.

“Dalam berpolitik harus kreatif, tak bisa kaku melulu. Ini karena waktu terus berjalan dan politik itu dinamis selalu,” ujar politisi kelahiran Tepas, Kecamatan Batuputih, 1 Juni 1984 ini.

Penulis: L. Ulan
Editor: Ardy Abba

alterntif text