Dewi Regina Ano (24) dan anak kembarnya masih terkapar bersimbah darah. Ketiganya diduga menjadi korban pembunuhan (Foto: Istimewa)

Kupang, Vox NTT- Dua anak berumur 5 tahun, masing-masing, AM dan AM ditemukan tewas di Mess Karyawan Hotel Ima, Jalan Timor Raya, RT 009, RW 003, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Keduanya diduga menjadi korban pembunuhan.

AM dan AM tewas dengan luka sayatan senjata tajam di kepala.

Tak hanya dua bocah kembar tersebut, ibu kandung mereka Dewi Regina Ano (24)  juga tewas bersimbah darah dengan meninggalkan luka gorok di leher dan perut.

Saat ditemukan, Dewi masih bernapas dan dalam keadaan kritis. Ia terkapar di samping dua anaknya yang sudah tewas.

Ketiga korban kemudian dilarikan ke RSU S.K Lerik Kota Kupang.

Informasi yang dihimpun VoxNtt.com, kasus dugaan pembunuhan tragis itu terjadi, Kamis (05/09/2019), sekitar pukul 17.10 Wita.

Obir Masus (31), saksi mata sebagaimana dirilis dalam dalam laporan Polisi mengaku, sekitar pukul 17.10 Wita ia pulang ke Mess Hotel Ima.

Obir yang adalah suami dan ayah korban langsung mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam kos mereka.

Ia kemudian duduk di kursi di depan rumah karena mengira istri dan anak-anaknya masih tidur.

Namun karena sudah terlalu lama menunggu, Obir kemudian berinisiasi untuk mendobrak pintu rumah.

Setelah pintu terbuka, saat itu pula pria yang berprofesi sebagai tukang batu itu menemukan dua buah hatinya dan istri masih tergeletak dengan bersimbah darah.

Melihat kejadian tersebut, Obir langsung keluar rumah dan melaporkannya di Pos Satpam Hotel Ima.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Boby Mooynafi saat dikonfirmasi, Kamis Malam, mengatakan Polisi masih melakukan penyelidikan di balik kasus pembunuhan tersebut.

Ibu kedua bocah itu, kata dia, masih dirawat intensif di RSU Kota Kupang.

Beta (saya) kebetulan masih di Rote, kita masih opname jenazah di RSB,  besok dokter forensik tiba langsung otopsi kaka untuk pastikan meninggalnya para korban,” jelas Boby.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba

alterntif text