Bupati Malaka, Stef Bria Seran saat mengendarai traktor yang akan membantu masyarakat mengola lahan pertanian (Foto: Likurai)

Betun, Vox NTT-Revolusi Pertanian merupakan salah satu program prioritas pemerintah kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan bupati Stef Bria Seran.

4 prioritas lain adalah Pembangunan Infrastruktur, Air Bersih, Peningkatan Kesehatan dan Pendidikan.

Dari 4 program di atas, program Revolusi Pertanian menjadi perhatian serius Pemda Malaka.

Pemerintah terus mendorong masyarakat untuk mengelola semua lahan untuk menanam berbagai komoditi.

Tujuan pemda mendorong program ini agar masyarakat memiliki ketersediaan pangan yang cukup serta meningkatkan pendapatan ekonomi dari hasil komoditas.

”Masyarakat yang tidak mampu mengola lahannya Pemerintah siap membantu dan masyarakat siap menanam. Intinya masyarakat tidak boleh lapar,” kata Bupati Stef beberapa waktu lalu.

Tanaman Pangan

Tanaman pengan merupakan salah satu sektor unggulan sekaligus peluang pengembangan revolusi pertanian Malaka.

Tanaman unggulan tersebut terdiri dari padi, jagung dan ubi.

Berdasarkan data BPS Belu 2019, luas panen dari komoditas padi hingga tahun 2018 mencapai 8.883.1 Ha dengan jumlah paling luas di kecamatan Weliman yakni 2.092.6 Ha.

Adapun total produksi padi di seluruh kecamatan di Malaka hingga tahun 2018 yakni sebanyak 40,962.01 ton.

Produksi terbanyak disumbang dari kecamatan Weliman dengan total produksi sebesar 9.898 ton.

Sementara untuk jagung, luas lahan panen di seluruh Malaka sebesar 26,066 Ha. Kecamatan Kobalima menyumbang luas paling besar yakni 3.757 Ha.

Dengan total produksi sebanyak 84,340.32. Sumbangan terbesar berasal dari kecamatan Kobalima yakni 14. 050 ton.

Selain padi dan jagung, tanaman pangan unggulan lainnya yakni ubi kayu dan ubi jalar.

Luas panen ubi kayu sebesar 2.301 Ha, dengan total produksi sebanyak 59,428.55 ton.

Sedangkan ubi jalar luas lahan panen sebesar 104 Ha, dengan total produksi sebesar 14,249.6.

Dari sektor Hortikultura khususnya untuk tanaman bawang, Malaka juga cukup menjanjikan.

Hingga tahun 2018, produksi bawang merah Malaka mencapai 3,134.72 ton. Angka ini mengalami kenaikan sangat drastis dibanding tahun sebelumnya (2017) yang hanya berjumlah 6,51 ton.

Intervensi Pemda

Untuk mendorong produktivitas tanaman-tanaman ini, Pemda terus gencar membantu masyarakat dengan pengadaan bibit, penyuluhan pertanian serta yang tak kala penting yakni traktor sebagai alat produksi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Malaka, Yustinus Nahak, mengatakan, Pemerintah Kabupaten Malaka terus memberikan pelayanan optimal bagi rakyat melalui program Revolusi Pertanian, yakni pacul tanah rakyat secara gratis.

Informasi yang dihimpun VoxNtt.com, telah tersedia 22 unit traktor yang siaga membantu masyarakat secara gratis.

Traktor yang disiapkan Pemda Malaka untuk menyukseskan Program Pacul Tanah Rakyat. (Sumber: radarmalaka.com).

Melalui program ini, pemerintah mengolah tanah rakyat tanpa memungut biaya sepeser pun.

Kegiatan pacul tanah rakyat tahun 2019, jelas Yustinus, direncanakan sebanyak 2.500 hektar yang tersebar di 12 Kecamatan di Kabupaten Malaka.

Saat ini, pemerintah telah melakukan pembekalan bagi para operator traktor dan para petugas yang akan bekerja, agar mereka memiliki pemahaman yang baik tentang implementasinya di lapangan.

Ekspor ke Timor Leste

Malaka yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste menjadi peluang tersendiri khususnya kegiatan ekonomi di kawasan itu.

Pada tahun 2017 lalu, Indonesia mengekspor 30 ton bawang merah organik ke Timor Leste.

Pasokan bawang ini diproduksi oleh petani asal kabupaten Malaka dan Belu. Total ekspor bawang pada tahun itu sebesar 200 ton.

Staf Ahli Menteri Pertanian, Ani Andayani dilansir Bisnis.com mengatakan, tingginya produktivitas tersebut berdampak terhadap persentase kontribusi Malaka terhadap total produksi bawang merah di NTT yang mencapai 20%.

Adapun di tingkat nasional, kontribusi NTT baru 0,16 persen.

Selain bawang merah, komoditas pertanian lainnya yang berpeluang ekspor dari wilayah perbatasan adalah jagung, kacang hijau, jambu mete, babi dan unggas.

Ekspor bawang merah organik tentu akan menjadi pintu pembuka ekspor pertanian Malaka.

Di sisi lain, keluhan para petani yang sering kali mengaku kesulitan memasarkan hasil pertanian bisa segera teratasi.

Jika produktivitas pertanian Malaka terus digenjot lewat Revolusi Pertanian, maka kawasan ini akan menjadi sentra pertanian untuk Timor Leste bahkan untuk kabupaten-kabupaten lain di NTT.

Revolusi Pertanian yang dicanangkan Pemda Malaka akan menghasilkan Revolusi ekonomi dan kesejahtraan bagi masyarakat setempat apabila berhasil mengatasi berbagai tantangan pembangunan. Baik itu tantangan internal maupun eksternal. (VoN).

alterntif text