Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Pebisnis Keluhkan Kualitas Sandal Jepit Wela Pau
Ekbis

Pebisnis Keluhkan Kualitas Sandal Jepit Wela Pau

By Redaksi15 September 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sandal jepit Wela Pau (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Pebisnis di Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mengeluhkan kualitas sandal jepit hasil produksi BUMDes Wela Pau, Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan.

Pasalnya, kualitas sandal jepit tersebut masih rendah dan tidak bertahan lama saat digunakan. Pebisnis pun mengaku belum puas.

Baca: BUMDes Wela Pau Matim Produksi Sandal Jepit

“Kita dukung dengan karya masyarakat Manggarai Timur, tetapi justru yang bagus itu kemasannya bukan kualitasnya,” ujar Damianus pemilik kios di Borong saat ditemui VoxNtt.com, Jumat (13/09/2019).

Ia mengaku sandal jepit Wela Pau tidak diminati oleh konsumen atau tidak laku terjual saat dipasaran.

Menurut Damianus, produk itu hanya bisa dimanfaatkan oleh konsumen dalam tempo waktu satu Minggu.

“Itu pun kalu kita tidak banyak beraktivitas, kalau tidak mungkin hanya 3 hari atau 4 hari sandalnya sudah rusak,” ucapnya.

Damianus pun berharap hasil produk itu bisa dikembangkan sebaik mungkin, sehingga bisa berdampak pada permintaan konsumen ke depan.

“Sekali lagi sebagai pelaku bisnis kita dukung tetapi kita perlu skop yang lebih luas untuk hasil produksi kita. Oleh karena itu sangat diharapkan untuk tetap meningkatkan kualitas hasil produksi,” tukasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Matim Yosef Durahi mengatakan dari 198 desa yang ada di kabupaten itu, 48 di antaranya sudah memiliki BUMDes.

Menurutnya, kendala utama pengembangan BUMDes di Matim bukan karena penyertaan modal, tetapi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Kita memang kendalanya di situ, tetapi ke depan kita tetap optimis semua desa harus memiliki BUMDes,” ujarnya saat ditemui VoxNtt.com, belum lama ini.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Desa Benteng Pau Manggarai Timur Matim
Previous ArticlePDIP Malaka Buka Pendaftaran Calon Bupati
Next Article Tapen Bikomi Gandeng Kemendikbud Sosialisasi Tindak Pidana Perdagangan Orang

Related Posts

Isno Baco Ajak Warga Desa Pinggang Berpolitik “Riang Gembira” pada Pilkades 2026

2 Juni 2026

Maju Pilkades Loce, Wilibrodus Rian Usung Penguatan Pertanian hingga Wisata Budaya

1 Juni 2026

Teodorus Weke Gelar Ritus Adat dan Minta Restu Leluhur Jelang Pilkades Wae Mulu

28 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.