Ilustrasi Pelabuhan Kuno (Foto:
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT dulunya merupakan salah satu pelabuhan internasional di Nusantara sekitar abad 10-19.

Arus perdagangan di pelabuhan ini melibatkan Cina, Siam, Vietnam bahkan negara-negara Eropa.

Fakta sejarah ini terungkap dalam buku Dami N. Toda, “Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi”.

Peta lokasi ekskavasi situs Warloka

Tak hanya pusat perdagangan, dalam penelusuran literatur yang dilakukan Dami, Kraeng Manshur Nera Beang Bombang Palapa mendirikan Kerajaan Todo bermula mendarat dan bermukim beberapa waktu di Warloka ketika tiba pertama kali di bumi Manggarai.

Adak atau kerajaan Todo merupakan salah satu kerajaan terbesar selain Cibal, yang dulu gencar melakukan ekspansi di Manggarai.

BACA JUGA: Kala ‘Niang’ Todo Jadi Lautan Api Disergap Pasukan ‘Purak’ Cibal

Cerita sejarah menyebutkan pertarungan kedua kerajaan ini bahkan memicu perang koalisi di Manggarai yang melibatkan banyak Adak.

Lepas dari itu, tentang masa kejayaan pelabuhan Warloka, para ahli arkeologis menemukan beberapa endapan pemukiman sejarah lokal yang mendukung.

Dalam penggalian arkeologis Tim Peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, didapatkan penemuan keramik asing asal Cina, Vietnam, Siam dan Eropa.

Penemuan ini berhasil mengidentifikasi beberapa fakta sebagai berikut:

Pertama, 38 persen dari penemuan keramik berasal dari Cina Sung abad 10-13.

Kedua, 20 persen keramik Cina Yuan dari abad 13-14.

Ketiga, 27 persen keramik Ming abad 14-17.

Keempat, 0,91 persen keramik Cing abad 17-19.

Kelima, 5,11 persen keramik Vietnam abad 14-15,

Keenam, 7,43 persen keramik Siam abad 14-16.

Ketujuh, 0,15 persen keramik asal Eropa abad 18-19.

“Dapat disimpulkan bahwa perhubungan dagang internasional pelabuhan Wareloka dengan wilayah jauh (Cina, Vietnam, Siam) secara langsung ataupun tak langsung lebih maju dan intensif pada abad 14-17” demikian tulis Dami N. Toda.

Menurut Dami, arus perhubungan dagang keramik luar negeri itu sangat konstan berlangsung sejak abad 10 hingga abad 17. Kemudian menurun secara drastis sesudah abad 17 dan berganti peran dengan keramik Eropa pada abad 18-19.

Tak hanya itu, penelitian arkeologis tersebut mengungkap Warloka sebagai pusat perdagangan internasional merupakan kelanjutan dari zaman prasejarah palaeolitik, epipalaeolitik, bangunan batu dolmen dan menhir.

Batu meja yang merupakan situs arkeologi peninggalan purbakala yang terletak di Desa Warloka Kecamatan Komodo. Meja-meja batu ini diyakini sebagai tempat pertemuan orang-orang penting zaman dulu. (Foto: wisata.manggaraibaratkab.go.id)

Bukti lain terkuak lewat temuan Tim Penelitian Ekskavasi Situs Warloka 2010 yang ditulis Adyanti Putri Ariadi dalam Jurnal Arkeologi Papua, Vol. 6 Edisi No. 1 Juni 2014.

Dalam penelitian arkeologis tersebut, ditemukan bekal kubur yang diduga dipasok dari luar berupa keramik, gerabah, manik-manik, dan logam perunggu.

Benda-benda tersebut memiliki bahan dan teknik pengerjaan yang cukup rumit dan diduga merupakan komoditas dari luar Situs Warloka.

Adyanti menyimpulkan, dari beberapa penjelasan tersebut, masyarakat Situs Warloka memang melakukan kontak dengan pihak luar dengan melakukan kegiatan pertukaran barang.

Hal ini diperkuat dengan tidak ditemukannya “bengkel” atau tempat pembuatan benda-benda yang menjadi bekal kubur.

“Benda-benda dengan bahan dan teknik pengerjaan yang cukup rumit mungkin belum bisa diterapkan pada masyarakat Situs Warloka pada saat itu karena terbatasnya sumber bahan dan pengetahuan,” tulis Adyanti.

Lalu mengapa arus perdagangan itu mengalami kemunduran drastis sesudah abad 17? Mengapa situs yang berusia ratusan tahun tersebut serentak menghilang?

Rangka anak kecil asal Warloka saat ditemukan tim Penelitian Ekskavasi Situs Warloka tahun 2010 (Foto: Dok. Tim Penelitian Ekskavasi Situs Warloka 2010)

Dami Toda menyebut salah satu penyebab kemunduran misterius tersebut dikarenakan Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667.

Kala itu, Kerajaan Goa-Tallo yang menjadikan Manggarai sebagai daerah periferi, harus menerima kekalahan pahit perang.

Pasal 6 perjanjian Bungaya memaksa Makasar menghalau segala perdagangan Portugis dan Inggris serta orang-orang Eropa lainnya untuk tak boleh berdagang dengan mereka.

Pasal 7, memaksa kerajaan Goa-Tallo menerima monopoli perdagangan Belanda.

Pasal 8, hanya Belanda yang berhak melakukan ekspor-impor barang.

Pada pasal 12, Belanda menekan Goa untuk hanya memakai mata uang Belanda.

Dan pasal 14,16,17,18,21, Goa-Tallo harus melepas Bima dan bawahan kerajaan Goa-Tallo yang lain.

“Pasal-pasal tersebut terlebih pasal pelarangan berlayar dan berdagang, secara langsung mengisolasi kerajaan Goa-Tallo sebagai negara yang bernafaskan pelayaran dan perdagangan maritim sejak zaman dahulu kala,” ungkap Dami Toda.

Belanda juga membunuh budaya laut yang menjadi ciri khas budaya bangsa Makasar.

Perjanjian ini, demikian Dami, secara tak langsung menghancurkan kehidupan ekonomis wilayah-wilayah hilir (periferi) sekitar Makasar yang menikmati jalur perdagangan ini.

“Berarti lalulintas ekonomi impor dan ekspor Manggarai yang melewati pelabuhan Wareloka pun menjadi lumpuh dan akhirnya mati sama sekali,” ungkap Dami.

Akibat dari cengkraman monopoli Belanda, orang-orang Manggarai Warloka terpaksa melepaskan budaya laut dan mundur mencari pedalaman untuk bisa bertahan hidup. Salah satunya dengan mulai kehidupan bertani.

Dampak lanjutnya ialah kejatuhan budaya. Orang-orang Kilor (kini wilayah kecamatan Lembor), sebagai bekas orang-orang perahu dari Warloka, kini hanya mengenang budaya laut mereka dalam kisah lisan Manggarai dan sebuah artefak berlambang jangkar batu sebagai nisan peradaban laut.

Bencana kemanusiaan kemudian mendera masyarakat Manggarai sebagai salah satu periferi bawahan Makasar. Tak sedikit orang Manggarai diperas harta bendanya untuk membayar utang kekalah Goa kepada Belanda. Tak sedikit pula yang dijadikan budak sebagai upeti kepada Belanda.

Tengkorak wanita Warloka (Foto: Dok. Tim Penelitian Ekskavasi Situs Warloka 2010)

Kini orang-orang Warloka hanya mampu meratapi sisa-sisa peradaban masa lalu yang gemilang.

BACA JUGA: Warga Desa Warloka, Mabar Minta Jalan dan Air Bersih

Untuk kebutuhan air minum mereka, harus didatangkan dari Labuan Bajo dengan harga Rp.10.000 per jeriken.

Di Warloka memang ada dua sumber air yang bisa dimanfaatkan yakni wae Golo Toe dan wae Cerek. Namun air tersebut tidak bisa masuk lantaran belum adanya jaringan pipa air.

“Jadi untuk sementara  dua hal ini yang kami butuhkan dan menjadi prioritas diperhatikan oleh pemerintah yaitu masalah jalan dan air bersih. Kami sangat butuh sekali jalan menuju Warloka diaspal. Demikian juga air bersih agar dibuatkan jaringan air pipa  dari sumber air golo Toe atau dari wae Cerek,” ujarnya saat ditemui VoxNtt.com beberapa waktu lalu. (VoN).