Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»1000 Periuk Tanah Warnai Parade “Esu Kose” Festival Literasi Nagekeo
Seni dan Budaya

1000 Periuk Tanah Warnai Parade “Esu Kose” Festival Literasi Nagekeo

By Redaksi1 Oktober 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Parade 1000 Periuk Tanah oleh Ibu-ibu Asal Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo dalam Acara Puncak Festival Literasi Kabupaten Nagekeo. (Foto : Patrick/vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT- Pagelaran budaya dan tradisi masyarakat Nagekeo dalam kemasan Festival Literasi tahun 2019 secara resmi telah usai, Minggu (30/09/2019).

Puncak acara Literasi Kabupaten Nagekeo tahun 2019 ditutup dengan parade 1000 Periuk Tanah dalam kemasan festifal “Esu Kose” di Lapangan Berdikari Danga.

Sejak dibuka pada 27 September, Festival Literasi telah mempertontonkan sejumlah pertunjukkan budaya dalam bentuk tarian kolosal mengangkat sistem peradaban Nagekeo di tengah era modernisasi yang kian pesat.

Ritual kearifan lokal dipertunjukkan di atas pentas panggung utama di tempat itu. Ada juga pameran buku dan tawaran kuliner lokal telah menunjukkan bahwa Nagekeo memang kaya akan budaya warisan yang patut dijaga melalui literatur.

Parade “Esu Kose” misalnya. Dalam bahasa lokal Nagekeo Esu berarti bertanak nasi dalam tembikar tanah dengan sumber api dari arang. Sedangkan Kose adalah kepandaian meramu daging yang dipanggang di dalam media bambu.

Parade 1000 Periuk Tanah melibatkan ibu-ibu dan wanita dari lima desa di Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo.

Dengan titik start di depan kantor Bupati Nagekeo, mereka mengarak periuk tanah menuju panggung utama di Lapangan Berdikari Danga sejauh 2 Kilometer.

Di depan pengusung periuk tanah ada drum band siswa siswi SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae, disusul barisan paguyuban Jawa yang juga ikut memeriahkan Festival Literasi Nagekeo dengan pertunjukkan Kuda Lumping.

Malam penutupan Festival Literasi sekaligus menjadi momentum pengukuhan Nagekeo sebagai kabupaten Literasi pertama di Provinsi NTT yang dilakukan oleh Kepala Perpustakaan Nasional, Muhamad Shyarif Bando.

Penulis: Patrick Romeo Djawa
Editor: Ardy Abba

Nagekeo
Previous ArticleDemokrat Manggarai Buka Pendaftaran untuk Balon Peserta Pilkada 2020
Next Article BPJS Kesehatan Tindak Lanjut SK Mensos untuk Penggantian Peserta PBI

Related Posts

Keluarga Jakob Nuwa Wea Salurkan Rp1 Miliar untuk Korban Gempa Nagekeo

23 Agustus 2026

Pengungsi Gempa Nagekeo Keluhkan Kesenjangan Bantuan, Pemkab Diminta Evaluasi Penanganan

23 Agustus 2026

KPK Diminta Awasi Pengelolaan Dana Bantuan Bencana di Nagekeo

22 Agustus 2026
Terkini

Polda Jawa Tengah Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Gempa di Lengor

24 Agustus 2026

Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan untuk 11.907 Korban Gempa Flores

24 Agustus 2026

Keluarga Jakob Nuwa Wea Salurkan Rp1 Miliar untuk Korban Gempa Nagekeo

23 Agustus 2026

PT GAG Nikel Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di Manggarai Barat

23 Agustus 2026

Sepekan Pascagempa, Armada Kemanusiaan BKH-Stevi Harman Tak Henti Mengirim Bantuan Susulan

23 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.