Ketua AJO Matim, Adrianus Kornasen (Foto: facebook Andre Kornasen)
alterntif text

Labuan Bajo, Vox NTT- Oknum wartawan media online di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial KNJ diduga meminta dana kompensasi senilai 7 juta rupiah kepada KS.

KS merupakan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di salah satu sekolah yang berada di Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Informasi yang dihimpun VoxNtt.com, KNJ meminta uang 7 juta rupiah kepada KS melalui Short Message Service (SMS), Sabtu (05/10/2019), sekitar pukul 17.55 sore.

Dalam SMS itu, KNJ menjelaskan dana kompensasi itu merupakan permintaan dari dewan pers untuk memulihkan kepercayaan publik melalui jalur Lonto Leok (duduk bersama untuk mencapai mufakat).

Sore kaka..hari senin tman2 datang semua di rumah..kaka siap kompensasinya 7 juta. Ini bukan dari saya tapi dari dewan pers untuk pulihkan kepercayaan publik melalui jalur lonto leok yang nantinya semua media manggarai raya akan publikasi itu..tabe” demikian isi SMS dari KNJ kepada KS yang salinannya diterima VoxNtt.com.

Saat dikonfirmasi VoxNtt.com, KNJ mengaku tidak meminta uang. Dia juga meminta VoxNtt.com untuk mengkonfirmasi ke YS dan AK.

“Ok om saya tegaskan tidak ada minta uang. Ite (Anda) kalau mau tulis, itu saya punya pernyataan,” tegas KNJ kepada VoxNtt.com,  Minggu (06/10/2019) malam.

Menurutnya, kasus yang sedang terjadi itu tengah dikawal oleh Aliansi Jurnalis Online (AJO) di Manggarai Timur.

Ketua Ajo Matim, Adrianus Kornasen membantah bahwa rekan sepofresinya KNJ memeras KS.

Baca Juga: Oknum Wartawan di Matim Diduga Minta Kompensasi 7 Juta Rupiah

“Itu tidak benar om,” pungkasnya saat dihubungi VoxNtt.com melalui teleponnya, Senin (07/10/2019) malam.

Menurut Kornasen, polemik ini bermula ketika KS diduga melarang KNJ untuk meliput. Sejak saat itu, AJO Matim hendak melaporkan secara resmi atas tindakan KS tersebut.

“Tetapi arahan Kepala Dinas PPO Manggarai Timur waktu itu, dia dipanggil, oknum kepala sekolah ini. Pergi ke rumah wartawan yang bersangkutan (KNJ). Waktu di rumah wartawan yang bersangkutan lagi banyak orang. Mereka hanya ngobrol sebentar tidak sampai pada ngobrol pada permintaan dari kepala sekolah,” jelas Kornasen.

Dikatakan, setelah KS pulang dari rumah KNJ, pihak keluarga kemudian berembuk. ”Ole bagaimana, mau minta maaf ini, ha mau minta maaf toh,” sambungnya.

“Setelah dia omong minta maaf, keluarga mulai hitung begini, ow kalau ini teman-teman pers yang awas ini kasus untuk datang ke sini, terus keluarganya dia, terus oknum guru-guru dari itu sekolah, warga di lingkungan sekitar. Pa’ang olo ngaung musi pe (semua warga dalam satu kampung). Keluarga coba hitung-hitung kalau mau buat itu acara berapa kira-kira, karena hambor pe (perdamaian) orang Manggarai bilang, hambor to untuk upaya damai,” jelas pemimpin umum media Floreseditorial.com itu.

Menurut Kornasen, keluarga KNJ menghitung dalam pelaksanaan acara perdamaian dengan KS bakal menelan biaya sekitar Rp 7 jutaan.

Saat KS datang ke rumah KNJ, lanjut dia, tidak berdiskusi tentang uang tersebut. Itu sebabnya, KNJ berinisiasi menyampaikan ke KS tentang jumlah dana tersebut sebagaimana telah didiskusikan keluarganya.

Kornasen mengaku, KNJ keliru menyampaikan ke KS terkait penyebutan nama dewan pers tersebut. Kata dia, bukan dewan pers yang dimaksudkan KNJ, tetapi hasil diskusi dengan teman-teman pers dan keluarga. Diskusi itu terutama terkait kebutuhan uang sekitar Rp 7 juta untuk acara perdamaian tersebut.

“Tetapi om ini (KS) tidak langsung membalas, akhirnya kami diam. Nah, berdasarkan hasil kesepakatan dengan Kadis PPO hambor (perdamaian) itu sebenarnya berlangsung jam 3 tadi. Tetapi karena jam 3 ini tadi tidak jadi hambor, kami pikir aeh mungkin itu om (KS) tidak ada salah,” ujarnya.

Sebab itu lanjut dia, AJO Matim kembali dengan sikap awal untuk membawa persoalan ini ke penegak hukum.

“Jadi tidak ada yang bilang begini, itu peras wartawan, itu tidak benar,” tegasnya.

Sebelumnya, KNJ diduga diintimidasi oleh KS saat meliput kegiatan penetapan calon Kepala Desa di Kantor Desa Komba, Rabu (02/10/2019).

“Ketika saya hendak mengambil gambar dalam momen tersebut, ia masuk mendekati saya dan ingin merampas kamera yang saya pegang sambil teriak, jangan foto,” jelas KNJ.

Menurutnya, meski sudah dijelaskan beberapa kali bahwa dirinya adalah wartawan yang tengah melakukan tugas peliputan, namun KS tidak peduli.

Sementara itu KS mengaku tidak bermaksud melakukan intimidasi kepada seorang wartawan.

“Saya tidak bermaksud mengintimidasi wartawan yang sedang meliput. Peristiwa kemarin merupakan reaksi spontanitas,” ujarnya kepada VoxNtt.com, Jumat (5/10/2019) di Borong.

Dikatakannya, reaksi itu merupakan ekspresi kekecewaan lantaran panitia Pilkades tidak memberikan informasi yang benar terkait bakal calon yang akan bertarung pada Pilkades di desa itu.

“Sebelumnya mereka bilang batal untuk penetapan bakal calon ternyata penetapannya tetap mereka lakukan. Dan waktu itu saya datang sebagai tokoh masyarakat. Makanya saya marah panitia Pilkades dan beberapa orang di situ termasuk adik wartawan,” jelasnya.

Baca Juga: ASN Asal Desa Komba Matim: Tidak Ada Maksud untuk Intimidasi Wartawan

“Saya memang datang agak terlambat waktu itu, tapi sekali lagi itu reaksi spontanitas tidak ada intimidasi,” tambahnya.

Dikatakan usai peristiwa itu dirinya langsung meminta maaf kepada semua peserta rapat yang hadir.

“Saya minta maaf kepada mereka waktu itu, tapi sekali lagi saya tidak ada maksud untuk intimidasi,” ucapnya.

Penulis: Sello Jome
Editor: Ardy Abba

alterntif text