Aktivis Lingkungan Aleta Baun sedang mengikuti acara persiapan panitia Rakernas Tahun 2020 di Ende (Foto: Ian Bala/Vox NTT)
alterntif text

Ende, Vox NTT-Aktivis Lingkungan NTT Aleta Baun memberi pendapat terhadap rencana pemerintah pusat dalam rangka pengembangan eksploitasi panas bumi di Flores.

Rencana pemerintah untuk kepentingan penambahan daya listrik ini mendapatkan kritik pedas oleh Aleta.

Menurutnya, proses mengeksploitasi panas bumi sangat memberi dampak negatif terhadap lingkungan. Misalnya, dampak negatif terhadap mata air serta habitat hutan.

“Kalau hutan diganggu dengan proyek pertambangan atau semacamnya, saya yakin NTT atau Flores akan dilanda kekeringan dan krisis air,” ungkap Mama Aleta kepada VoxNtt.com di Ende baru-baru ini.

Pemerintah terutama pada bidang teknis, lanjut dia, mestinya melakukan kajian dengan mengedepankan program-program prioritas dan berkelanjutan.

Secara global, jelas Aleta, program konservasi hutan dan lingkungan menjadi salah satu program yang dibahas untuk kepentingan penyelamatan bumi.

“Kalau kita lihat secara global ini bahwa tingkah manusia terhadap alam semesta sudah lebih dari batasnya. Jadi, sekali lagi kita minta agar tolong jangan diganggu hutan dan habitat dengan beberapa program mega proyek,” tegas Mama Aleta, aktivis lingkungan asal TTS yang sebelumnya pernah mendapat penghargaan dari Presiden AS Barack Obama sebagai pejuang lingkungan.

Untuk kepentingan energi listrik, ia berpendapat bahwa ada sekian banyak sumber energi yang dapat diperdayakan. Misalnya, sumber matahari atau sistem biogas.

Ia menyatakan, kebutuhan energi listrik di NTT atau Flores tidak seberapa. Hal itu karena masyarakat hanya memanfaatkan pada malam hari.

“Kita di sini, saya harus katakan bahwa kita punya potensi sumber energi dari matahari. Ini musim terus bergeser dan kalau lingkungan dirusaki maka masyakarat kecil terutama para petani akan banyak menangis,” kata Aleta.

“Wilayah kita banyak dilanda kekeringan. Maka saya bilang bahwa pemerintah mesti mencari solusi untuk mengatasi kekeringan. Bukan malah, menghadirkan proyek yang akan mendapatkan energi listrik lantaran mata pencaharian masyarakat kecil terganggu. Ini pemerintah harus memikirkan dan tidak boleh,” tegas dia.

Dikatakan, masyarakat dunia lagi berpikir untuk menjaga hutan dan menjaga lingkungan.

“Nah, di kita sini malah ingin merusak-rusaki alam,” tambah Mama Aleta, aktivis lingkungan sejak tahun 1980 ini.

Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan studi eksplorasi dan pengeboran sumur produksi pada Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dibeberapa tempat di Flores.

Dikutip dari media Liputan6, Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di NTT.

Salah satu cara yang dilakukan adalah percepatan proyek infrastruktur kelistrikan yang bersumber pada energi panas bumi.

Pemerintah telah mencatat bahwa di NTT dan Flores secara khusus memiliki potensi panas bumi yang cukup besar diantaranya di Ulumbu, Mataloko, Mutubusa Ende dan Atadei.

Dari 12 wilayah prospek panas bumi di Pulau Flores, terdapat tiga wilayah yang mendapatkan izin pengelolaan WKP yakni Ulumbu, Mataloko dan Mutubusa dengan total kapasitas terpasang mencapai 12,5 MW.

Program pemerintah ini terutama upaya mengeksploitasi panas bumi mendapat respon serius oleh Mama Aleta, salah seorang aktivis lingkungan dan aktivis pada lembaga Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Mama Aleta menegaskan bahwa terhadap persoalan ini, pihaknya akan membahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) AMAN Tahun 2020 di Ende nanti.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba