Kindisi gubuk reyot milik Nenek Elisabet (baju hijau) (Foto: Marcel Manek/Vox NTT)
alterntif text

Atambua Vox NTT-Sebentar lagi sudah Natal. Sepanjang jalan, pernak-pernik Natal mulai dipajang. Aroma kue Natal mulai menancap di indera pencium.

Hiruk-pikuk persiapan Natal ini turut dirasakan sebagian masyarakat di Kabupaten Belu, perbatasan RI-RDTL.

Tidak hanya di perkotaan, di pedesaan juga kemeriahan Natal mulai terasa.

Namun sayangnya, yang dialami keluarga Nenek Elisabeth Meni (69) sangat berbeda dari kebanyakan umat Katolik di daerah itu.

Warga Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu itu masih sibuk dengan aktivitas menghadapi penderitaan akibat kemiskinan.

Pemerintah memang terus berusaha mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Belu sebagai teras NKRI.

Namun rupanya usaha ini belum menyentuh masyarakat yang benar-benar membutuhkan perhatian dan kepedulian. Termasuk Nenek Elisabet dan keluarga.

Hal ini terlihat dari fakta gubuk reyot milik Nenek Elisabet.

Padahal letak gubuk Nenek Elisabet persis berada di pinggir jalan utama jurusan Belu-Malaka.

Disambangi VoxNtt.com, Sabtu (14/12/2019), halaman rumah Nenek Elisabet dipenuhi sekelompok anak-anak yang tengah asyik bermain dengan kondisi telanjang kaki. Anak-anak itu juga berpakaian yang sudah robek dan tak layak pakai.

Ternyata anak-anak sebanyak tujuh orang yang asyik bermain tersebut adalah cucu Nenek Elisabeth. Mereka tinggal bersamanya di sebuah gubuk reyot yang sangat memprihatinkan.

Semua aktivitas, seperti memasak, tidur dan mencuci piring dilakukan di dalam gubuk yang hanya memiliki satu pintu tersebut.

Di dalam gubuk yang berlantaikan tanah itu juga terdapat ruang tamu yang berukuran 1×1 meter dan tidak disertai kursi dan meja.

Tampak terdapat dua potongan balok dengan panjang kira-kira 30 cm dijadikan tempat duduk bagi sanak keluarga atau tamu yang berkunjung.

Meski termasuk warga yang tidak mampu, nenek paruh bayah ini mengaku tidak tersentuh oleh perhatian Pemerintah Kabupaten Belu dan Pemerintah Desa Mandeu.

Kehidupannya bersama keluarga digubuk berukuran 3×4 dijalaninya sudah 28 tahun.

Nenek Elisabet menuturkan meski sudah beberapa kali pergantian pemimpin baik di desanya, Bupati, Presiden bahkan wakil rakyat, tetapi nasibnya tidak pernah diperhatikan. Padahal, ia juga tidak pernah alpa dalam proses pemilihan pemimpin.

Salah bukti tidak diperhatikan oleh pemerintah terlihat dari kondisi rumah Nenek Elisabet tampak yang masih reyot dan tidak layak untuk dihuni. Apalagi dalam rumah tersebut terdapat anak-anak balita.

Gubuk reyot itu berdidindingkan seng bekas yang sudah karat dan pelupuh yang rapuh.

Atapnya terbuat dari rumput yang disulam dengan seng bekas dan dialas dengan ban motor bekas.

Alat dapur mereka seadanya. Begitu juga perlengkapan makan. Kamar dan tempat tidurnya dibuat dari belahan bambu tanpa kasur dan kelambu.

Antara dapur dan kamar tidur hanya disekat dengan karung plastik bekas.

Kondisi ini sangat memprihatinkan. Namun Nenek Elisabet tampak masih semangat menjalani hidup dengan cucu-cucunya.

Ia tinggal di dalam gubuk itu bersama 6 orang anggota keluarganya, termasuk anaknya yang mengalami gangguan jiwa.

Nenek Elisabet bersama anak dan cucu-cucunya bersantai di depan gubuk reyot miliknya (Foto: Marcel Manek/Vox NTT)

Kemudian, satu anak perempuannya yang sudah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak juga tinggal bersama Nenek Elisabet.

Selain gubuk tempat tinggal yang kondisinya memprihatinkan, keluarga ini juga tidak memiliki jamban sehat.

Ketika membuang hajat mereka pergi ke semak yang tidak jauh dari belakang rumah.

Sementara untuk kebutuhan air minum mereka harus berjalan sejauh 2 Kilometer lebih. Nenek Elisabet dan keluarga menimbah air di belakang kantor Polsek Tasifeto Barat di Halilulik.

Nenek Elisabet menuturkan, sebelumnya ia tinggal bersama dengan Kun Banunaek yang menikah dengan salah salah satu anak perempuannya. Mereka pun memiliki tiga orang anak.

Namun karena gubuk tersebut sangat sempit dan tidak bisa menampung hingga belasan orang, Kun Banunaek kemudian memutuskan untuk membuat gubuk lain. Letaknya persis di samping gubuk Nenek Elisabet.

Karena sudah tua dan suaminya sudah meninggal, Nenek Elisabet tidak bekerja.

Ia hanya menggantungkan hidup kepada anak perempuannya yang suaminya bekerja sebagai kondektur dump truck. Anak mantunya itu hanya digaji sebesar Rp 35.000 per hari.

Namun, tak setiap hari anak mantunya itu mendapatkan upah. Sebab, tergantung ada muatan.

Untuk mendapatkan makanan, Nenek Elisabet bersama Kun Banunaek mengerjakan kebun ladang seluas 54 are. Ladang itu biasa ditanami jagung saat musim hujan.

Dari Kartu Tanda Penduduk yang ditunjukan, Nenek Elisabet adalah warga RT.001, RW 001, Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk.

Meski berstatus resmi sebagai warga Desa Mandeu, namun dengan kondisi himpitan ekonomi yang sulit tidak membuat dirinya bersama keluarga memperoleh bantuan pemerintah.

Itu seperti program PKH atau program rumah layak huni sebagaimana sementara dikerjakan Pemerintah Kabupaten Belu.

Selain itu, besarnya Dana Desa juga tidak membuat Pemerintah Desa Mandeu untuk membantu Nenek Elisabet.

“Kami pernah dapat bantuan seragam sekolah, tapi itu juga kami bayar Rp 100.000. Di sini yang sekolah ada lima orang tapi juga tidak dapat bantuan PIP,” keluh Nenek Elisabet.

Ia berharap bantuan pemerintah untuk menopang hidupnya, mengingat usianya sudah tak muda lagi.

Penulis: Marcel Manek
Editor: Ardy Abba