Illustrasi Petani (Foto: Istimewa)
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Masa depan pertanian NTT menjadi sorotan banyak pihak. 

Hal itu terungkap dalam forum Diskusi bertema “Kemiskinan dan Pola Pengembangan Lahan Kering NTT” di Aula DPD Propinsi NTT, Kota Kupang, Selasa (07/01/2020).

Tony Jogo, penasehat pertanian Gubernur NTT menilai masalah utama para petani NTT adalah ketersediaan air. Banyak lahan pertanian di NTT tidak produktif karena kekurangan air.

Menurutnya, mekanisasi pertanian memang sangat dibutuhkan, tetapi itu merupakan tahap lanjut setelah kebutuhan air sudah dipenuhi.

Ia juga menyoroti masa depan pertanian NTT di mana motivasi orang NTT untuk menjadi petani makin berkurang.

“Usia petani di NTT makin kurang produktif, ini yang perlu diwaspadai ke depan” sebutnya.

Menyambung Tony, akademisi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Zet Malelak, mengungkapkan tantangan pertanian NTT dan Indonesia pada umumnya adalah kekurangan lahan akibat geliat pembangunan infrastruktur.

“Saat ini Indonesia tak terkecuali NTT mengalami deagrikulturalisasi” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, berdasarkan hasil penelitan, jumlah jam kerja petani sangat sedikit yakni 99 hari kerja per tahun. Selebihnya, kata Zet, para petani menganggur.

Sementara Alex Lamba, praktisi pertanian NTT juga ikut memberikan gagasan dalam mengurai masalah pertanian NTT.

Ia melihat bahwa penyebab utama petani di NTT selalu miskin disebabkan oleh kekurangan modal dan alat produksi modern untuk mengolah tanah yang keras dan berbatu-berbatu (lahan kering).

Dengan kata lain, petani selalu kalah berhadapan dengan ciri khas pertanian lahan kering NTT. Dari berbagai pengalaman yang ia temui di lapangan,  Alex menyimpulkan petani NTT terus miskin karena tak sanggup mengolah tanah yang kering, tandus, keras dan berbatu-batu.

Menurutnya, kondisi tanah NTT harus dilawan dengan tenaga mesin yang tepat. Tanah yang keras dan berbatu itu harus digemburkan dengan excavator.

Selain menggemburkan tanah alat ini juga bisa dipakai untuk membuat bendungan alami di daerah yang cekung untuk menanam air. Excavator juga bisa dipakai untuk membuka lahan baru bagi petani.

Kepala Dinas Pertanian NTT, Yohanes Oktavianus juga membenarkan kebutuhan petani NTT terhadap excavator.

“Excavator sangat dibutuhkan di NTT untuk menggemburkan tanah dan membuka lahan baru. Apalagi saat ini pemprov NTT sedang mengusahakan perluasan tanaman kelor,” ungkapnya.

Namun menurut Yohanes, pengadaan excavator dan alat pertanian lainnya perlu didukung oleh bengkel alat pertanian. Selama ini, katanya, banyak alat pertanian yang mangkrak akibat ketiadaan bengkel untuk perbaikan maupun perawatan.

Ia juga mengusulkan agar pengadaan alat pertanian cukup satu merk sehingga tidak perlu mendatangkan banyak teknisi untuk perbaikan.

Pertanian Solusi Kemiskinan

Masalah kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah propinsi NTT di usia yang ke-60 tahun. Angka kemiskinan NTT selalu bertengger ketiga dari belakang setelah Papua dan Papua Barat.

Sejak tahun 2015-2018, grafik kemiskinan memang terlihat menurun, namun penurunannya belum signifikan memperbaiki situasi kemiskinan yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat NTT.

Saat ini, realitas kemiskinan berada pada angka 21,09 persen. Angka ini kembali meningkat 0,06 persen jika dibandingkan dengan September 2018 atau dengan kata lain jumlah penduduk miskin di Provinsi NTT Maret 2019 sebanyak 1.146.320 orang, meningkat 12.210 orang.

Salah satu potret kemiskinan itu tergambar dalam dimensi ekonomi, di mana rata-rata pengeluaran per kapita penduduk NTT pada tahun 2017 hanya Rp 681.484 per bulan, sedangkan rata-rata nasional sudah mencapai Rp 1.036.497 per bulan atau 152 persen lebih tinggi dari NTT.

Selain itu kemiskinan juga turut berpengaruh pada tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi NTT pada Februari 2019 yang mengalami kenaikan 3,10% dibandingkan Februari 2018 dan Agustus 2018 dengan kenaikan masing-masing sebesar 0,12% poin dan 0,09% poin.

Kompleksitas kemiskinan NTT pada akhirnya memicu gelombang migrasi ke luar daerah yang belakangan menjadi isu santer di NTT. Betapa tidak, gelombang migrasi tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Pada tahun 2017, menurut data BP3TKI NTT, sebanyak 62 TKI yang meninggal di luar negeri. Dari jumlah tersebut, 3 orang terkategori TKI prosedural dan 59 nonprosedural.

Di tahun 2018 jumlah yang meninggal mencapai 105 korban dengan kategori prosedural 3 orang dan nonprosedural 102. Sementara tahun 2019 Januari-September sebanyak 95 jenazah TKI dikirim pulang ke NTT.

“Kalau kita mengabaikan pertanian dalam arti luas, kemiskinan sulit dihapuskan dari NTT” demikian tambah Frans Skera, tokoh masyarakat yang ikut hadir dalam diskusi tersebut.

Menurut Frans, dalil yang disampaikannya tersebut didukung oleh fakta historis NTT. Ia mengungkapkan Gubernur Eltari selama masa kepemimpinannya pernah mengekspor sapi ke Hongkong dan Singapura.

Fakta lain ialah orang NTT banyak yang mengenyam pendidikan dari hasil pertanian, Selain itu pada zaman Gubernur Ben Mboi NTT pernah mengalami surplus pangan khususnya jagung.

Fakta-fakta ini, demikian Frans, merupakan bukti bahwa NTT bisa hidup dari pertanian. Namun seperti pembicara sebelumnya, Frans mengakui saat ini petani NTT banyak yang sudah tua. Untuk itu, para petani perlu didukung oleh teknologi pertanian modern agar dapat mempertahankan produktivitas pada masa yang akan datang.

Ia juga menyentil program unggulan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat yang menjadi pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT.

Menurutnya paradigma ini perlu dievaluasi lagi supaya tidak menganaktirikan sector pertanian. Karena itu ia mengusulkan agar pengembangan pembangunan NTT ke depan harus dalam konsep agrowisata. (VoN)