Direktur sekaligus Praktisi Psikologi dari Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) Albina Redempta Umen
alterntif text

Ruteng, Vox NTT – Kasus bunuh diri kembali terjadi di Kampung Pelus di Desa Golo lobos, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, Sabtu (19/01/2019).

Deni pria paruh baya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan mengantung diri di pohon cengkih milik warga.

Kampung Pelus menjadi menarik diwartakan karena baru saja di akhir tahun tanggal 25 Desember 2019, seorang perempuan paruh baya juga memutuskan mengakhiri hidupnya dengan mengantung diri, persis tak jauh dari lokus korban Deni.

Tentu ini awal yang buruk untuk catatan riwayat bunuh diri di tahun 2020 di Manggarai Raya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur sekaligus Praktisi Psikologi dari Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) Albina Redempta Umen menyatakan, Manggarai Raya darurat bunuh diri.

“Angka proyeksi yang pernah kami gambarkan tahun 2018, terkait dengan trend dan pilihan orang akan melakukan bunuh diri, akan terus mengikuti deret ukur, alhasil angka psikologis satu orang akan bunuh diri setiap bulan, justru terlampaui dua kalinya,” ungkapnya dalam rilis yang diterima VoxNtt.com, Selasa (21/01/2020).

Menurut Albina, hingga kini orang masih menilai bunuh diri sebagai aib dan alasan pribadi dan dibuat seolah tak terkait dengan situasi sosial.

Orang bunuh diri hanya akan diabadikan sebagai pecundang dan pengecut, sampai lupa bahwa mereka juga korban.

“Kita masih diam? Sepertinya akan tetap diam, karena isu sekelas bunuh diri masih dilihat sebagai urusan privat,” katanya.

Dampak Paparan

Menurut Elby sapaan akrab Albina Redempta Umen, teori daerah inti dan paparan dalam studi bunuh diri terlihat pada dua kasus Pelus ini.

Daerah terpapar, jelas dia, adalah daerah yang berpotensi mengalami kasus yang sama. Hal itu dikarenakan daerah jangkauan yang dekat, sehingga memungkinkan terjadinya replikasi kasus serupa.

Untuk daerah yang terpapar biasanya akan mengikuti pola dan kejadian sebelumnya. Termasuk metode pengakhiran hidup yang dipilih (menggantung diri).

Dalam beberapa kasus terlihat bahwa antara korban terdapat pertalian sosiologis, kedekatan sosial, psikologis atau persamaan nasib.

“Semakin dekat secara geografis maka pengaruh keterkaitan psikologis irasional semakin kuat. Misalnya merasa senasib, sekampung atau berkeluarga,” ungkapnya.

Data YMP lanjut Elby, memperlihatkan bahwa kecenderungan replikasi dalam kasus bunuh diri biasanya mengikuti deret geografis dan jarak.

Bulan Desember 2019, YMP telah menetapkan Mano dan sekitarnya masuk dalam Red Area terpapar. Dan, belum genap sebulan, sudah ada korban dari lokus yang sama.

“Kasus kali ini patut diduga aspek replikasi paparan ini, menjadi salah satu penyumbang dan pencetus tindakan pelaku,” ujarnya.

Semua Masih Diam

Elby mengaku dalam dua tahun terakhir Yayasan Mariamoe Peduli cukup serius melakukan studi tentang bunuh diri di Manggarai Raya.

Studi terkait konstruksi psikologi remaja awal dan remaja akhir di awal tahun 2018.

Sebenarnya, kata Elby, telah memberi sinyal yang sangat jelas soal meningkatnya trend orang mengahiri hidupnya dengan bunuh diri.

Data memperlihatkan bahwa dari sepuluh anak remaja yang datang konseling atau berkonsultasi di YMP, terdapat rata-rata 3 orang anak dengan gangguan stres berat dan kecemasan.

Gangguan yang sangat serius ini, menurut Elby tentu bisa menjelaskan dua fakta.

Pertama, turbulensi sosial yang sangat hebat sedang mengancam banyak anak-anak. Kedua, ketahanan psikologis anak-anak sangat menurun dibanding 10 tahun yang lalu.

“Anak-anak sama sekali tidak memiliki sistim manajement stres yang mumpuni,” ungkap Elby.

Elby menyatakan, bunuh diri di Manggarai Raya itu bukan sesuatu yang unpredictable atau tidak dapat diprediksi.

“Bunuh diri bisa diantisipasi, bisa diurai, bisa dihentikan, dan bisa di nol kan. Soalnya siapa yang mau mendengar? Entah sudah berapa kali kami dengan segala keterbatasan mendorong dan mengingatkan banyak pihak, bahwa situasi sosial kita sudah buruk,” katanya.

Menyisir Dugaan Penyebab

Melihat kasus bunuh diri dari konteks Psikologi sosial, Elby mengungkapkan studi YMP memperlihatkan beberapa pemicu yang diduga sebagai trigger bagi banyak orang hingga akhir-akhir ini mengambil jalan pintas untuk bunuh diri.

Pertama, tekanan sosial yg berdampak pada tekanan hidup. Harus diakui gaya hidup yg semakin hari semakin individualis, dan ikut-ikutan, serta berpacu dengan kecepatan sosial membuat masyarakat bertumbuh dalam dunianya masing-masing.

Mereka berdialog dalam imajinasi dan presepsinya sendiri tentang hidup. Dan banyak yang kalah dalam pertempuran itu.

Kedua, karakter pribadi tertentu. Karakter individu yang tertutup, pendiam, cenderung putus asa, rigid/kaku, kurang fleksibel, tidak bertanggung jawab, akan lebih berpotensi melakukan tindakan pengakhiran diri dibandingkan individu yang terbuka, memiliki hubungan sosial yang baik, bertanggung jawab dan lebih fleksibel menjalani hidup.

Ketiga, lanjut Elby, saat ini lupa mengajarkan kecerdasan mengelola risiko pada anak-anak.

“Pola asuh kita telah alpa untuk memberikan kesempatan pada anak untuk berisiko. Anak-anak bertumbuh dalam kemudahan dan sedikit sekali bahkan tidak diberi ruang untuk menghadapi sekaligus menegelolah risiko dengan benar,” katanya.

Konstruksi psikologi seperti ini kata Elby, rentan dirasuki keputusan untuk melakukan bunuh diri.

Keempat, korban bunuh diri tidak pernah ingin mati. Individu yang melakukan penghakiman terhadap dirinya sendiri sebenarnya bukan menginginkan kematian, tetapi ingin keluar dari masalah dan stres yang sedang mereka hadapi. Ini merupakan risiko dari suatu tindakan yang telah dilakukan.

Rupanya lanjut Elby, sedikit sekali orang yang mampu bertanggung jawab dan menerima risiko atas apa yang telah dilakukan.

Sebab itu, pada saat seperti ini membutuhkan kecerdasan agar mampu menyelesaikan dan kemudian menemukan solusi atas masalahnya.

Kelima, orientasi kecerdasan. Dari semua faktor penyebab yang telah dikemukakannya, Elby memberi stressing pada aspek orientasi kecerdasan yang banyak diajarkan hari ini di sekolah-sekolah atau pendidikan non formal lainnya.

Menurut dia, akhir-akhir ini kehidupan sosial tampaknya kurang sehat. Masyarakat terlalu fokus pada pengembangan kecerdasan intelektual, mengejar kepintaran otak dan lupa untuk mengembangkan kecerdasan emosional.

Padahal dalam kecerdasan emosional terdapat domain untuk mendidik hati, belajar empati, care terhadap lingkungan sekitar, menjalin hubungan sosial yang baik dalam masyarakat, dan banyak lainnya.

“Masyarakat kita sedang mengalami krisis empati dan krisis kepekaan. Dua kecerdasan yang sebenarnya berada pada kecerdasan emosional, yang justru diabaikan oleh banyak orang,” ujarnya.

“Jadi bunuh diri akan semakin subur seiring dengan meluasnya ketidakpedulian dan memudarnya rasa empati masyarakat bagi orang lain. Jika ini alasannya, harusnya bisa didesain sebuah konsep koloni sosial baru dengan penguatan pada sisi empati individu. Mungkinkah harus ada sekolah empati? Cek kiri kananmu!” tambahnya lagi.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba