Viktor Slamet (kemeja putih) dan Bupati Deno saat berdiskusi di lokasi peternakan Rembu Tedeng, Selasa, 28 Januari 2020
alterntif text

Ruteng, Vox NTT-Cuaca Kota Ruteng, Selasa, 28 Januari 2020 pagi, cukup cerah dan bersahabat. Cuaca cerah ini hadir di tengah situasi Kota Ruteng yang kerap menjadi langganan hujan rintik dan lebat, dipadu dengan awan yang selalu mendung.

Hiruk pikuk aktivitas di ibu kota Kabupaten Manggarai itu perlahan ramai lancar. Lalu lintas pun mulai padat di pagi itu.

Di sebuah gedung pusat kota, dari lantai II, derap langkah pria berkumis itu turun perlahan menapaki beberapa anak tangga. Langkahnya penuh hitungan dan terukur hingga memastikan kaki pria paruh baya itu tidak terpeleset jatuh di aneka anak tangga Kantor Bupati Manggarai.

Di lantai I, senyum sumringah terlihat dari wajahnya sambil menyapa sejumlah  pegawai yang masih jalan di sela sekat papan bertuliskan “Kantor Bupati Manggarai”. Sapaannya penuh akrab.

Pemilik nama lengkap Deno Kamelus yang saat ini menjabat sebagai Bupati Manggarai tersebut terus berjalan menuju mobil dinasnya. Mobil Fortuner bernomor polisi EB 1 WE itu masih siaga parkir di pelataran Kantor Bupati Manggarai.

Mobil Bupati Deno kemudian berjalan menuju Pela, sebuah kampung yang ada di Kecamatan Ruteng. Rupanya sudah ada janji sebelumnya dengan Viktor Slamet, seorang  pensiunan Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Pertanian.

Bupati Deno dan rombongannya tiba di peternakan “Rembu Tedeng” milik Viktor Slamet sekitar pukul 12.20 Wita.

Melihat ada mobil masuk di gerbang lokasi peternakan, Viktor tampak bangkit berdiri dari kursi duduknya. “Selamat siang pak Bupati,” sapa Viktor. ”Selamat siang pak Viktor,” sahut Bupati Deno seraya berjabat tangan dengan Viktor.

Tidak lama berselang setelah saling sapa, mantan calon Bupati Manggarai  itu kemudian mengajak Bupati Deno dan rombongannya ke kandang babi. Jaraknya hanya beberapa meter dari tempat Viktor berdiri.

Di dalam lokasi kandang babi, keduanya jalan perlahan mengelilingi kandang, sambil berdiskusi panjang lebar tentang usaha peternakan babi. Sambil jalan, tampak sesekali tangan Viktor menunjuk ke arah babi sambil menjelaskan penuh serius model pemeliharaannya kepada Bupati Deno.

Tak hanya sampai di situ, Bupati yang bergelar doktor hukum itu kemudian diajak Viktor masuk ke ruangan tempat penggilingan pakan babi. Di sana, bunyi mesin giling tampak penuh bising dan beberapa karyawan sedang serius menjalankan aktivitasnya.

Viktor Slamet (baju kemeja putih) dan Bupati Deno Kamelus Kamelus saat berdiskusi di gudang penggilingan pakan babi

Baca Juga: Ruteng, Sampah dan Deno Kamelus

Di dalam gedung tersebut, Viktor menjelaskan banyak hal kepada Bupati Deno, termasuk jenis bahan baku pembuatan pakan babi.

Jajak Kerja Sama

Setelah berdiskusi, Viktor kemudian mengajak rombongan Bupati masuk ke ruangan yang letaknya berhadapan dengan gedung penggilingan pakan babi.

Di sana, Viktor menjamu para tamunya dengan suguhan kopi dan kompiang (salah satu kue khas Manggarai).

Di situ, Bupati Deno mengaku sengaja datang untuk berdiskusi dengan Viktor terkait pengembangan ternak babi di Manggarai, termasuk pola kerja sama dengan pemerintah ke depan.

Ia mengaku di beberapa tempat di Manggarai masyarakat sering mengeluh tentang bantuan pemerintah, semisal Program Keluarga Harapan (PKH) dan Beras Sejahtera (Rastra). Keluhannya seputar, ada yang dapat bantuan dan juga yang sama sekali tidak menerima. Padahal, takaran dan kondisi kemiskinan hampir sama.

Sebab itu, Bupati Deno berpandangan bahwa dengan Viktor Slamet kembali hadir di Manggarai dan merintis usaha peternakan babi, maka sangat penting bagi pemerintah untuk menjajak sistem kerja sama ke depan.

“Kalau misalnya ite (Anda), setelah berhitung begitu, mampu menyiapkan misalnya, ribuan anak babi, maka saya akan memastikan bahwa, entah 2020 atau 2021 sudah bisa mulai bermain di situ,” katanya saat berdiskusi dengan Viktor Slamet.

Viktor Slamet dan Bupati Deno Kamelus saat berdiskusi tentang rencana kerja sama dalam pengembangan ternak babi

Pola kerja sama tersebut, lanjut dia, misalnya peternakan Rembu Tedeng milik Viktor Slamet menyiapkan anak babi untuk kemudian dibagikan ke masyarakat. Sumber dana kerja sama itu bisa dari APBD II Manggarai atau dari Dana Desa.

“Kalau misalnya, dari Dana Desa saya wajibkan mereka 50 juta, itu kita sudah bisa hitung. Itu nanti 50 juta menghasilkan berapa ekor babi. Itu lah kemudian yang bisa dibagikan ke masyarakat,” jelas Bupati yang berpasangan dengan Victor Madur itu.

Ia menambahkan, setiap tahun ada beberapa dinas lingkup Pemkab Manggarai yang menjalankan program pengadaan ternak, termasuk pakannya.

Sebab itu, Deno berencana akan membangun kerja sama dengan Viktor dalam hal pengadaan ternak babi dan pakannya. Tinggal saja ada diskusi lebih lanjut terkait analisis kebutuhan tersebut.

Selanjutnya, pengembangan kerja sama tersebut antara lain pemerintah mendorong para petani untuk menanam jagung, dengan membuat segmen-segmen wilayah. Hal itu dikatakan Deno setelah Viktor Slamet mengaku bahwa jagung yang merupakan salah satu bahan baku pembuatan pakan babi di peternakannya terpaksa dibawa dari Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Ada lahan-lahan tidur ini, pikiran saya kita punya alat berat, kita punya traktor. Ya sudah kita bongkar saja, lalu kemudian kita tanam jagung. Berapa ton hasilnya, itu kita dorong ke ite (Anda),” imbuhnya.

Dengan demikian, lanjut Deno, ada semacam satu siklus program pertanian yang terintegrasi.

Viktor Slamet dalam kesempatan diskusi menyampaikan terima kasih kepada Bupati Deno dan rombongannya yang sudah mulai menjajaki kerja sama tersebut.

Hal itu menurut Viktor merupakan mimpinya sejak awal, terutama pendekatan pelayanan ekonomi masyarakat melalui sektor peternakan.

Selama aktif di Kementerian Pertanian, ia kerap mendorong wilayah Indonesia Timur harus mengembangkan ternak-ternak kecil, semisal babi. Sebab ternak besar semisal sapi, menurut Viktor tidak cukup kuat untuk membantu roda perekomian masyarakat.

“Kita di NTT, kita main di sapi tapi yang dapat orang Jawa. Harga daging paling murah adalah di NTT. Kita masih 35 ribu, di Jawa sudah 46 ribu,” jelas Viktor.

Situasi demikian karena pola distribusinya yakni dari NTT langsung membawa sapinya ke Jawa. Sebab itu menurut Viktor, jika membangun NTT dari hasil peternakan sapi, maka harus membuat rumah potong hewan modern.

“Bangun pasar hewan. Semua tata niaga harus timbang hidup. Baru bawa dagingnya ke sana (Jawa),” katanya.

Dari sekian kerumitan usaha sapi ini, bagi Viktor berternak babi adalah salah satu solusi untuk meretas kemiskinan di NTT.

Sedangkan terkait rencana kerja sama dengan Pemkab Manggari ke depan, Viktor menawarkan beberapa tahapan yang akan dilakukan.

Misalnya, ungkap dia, jika sudah ada MoU dengan Pemkab Manggarai mulai tahun 2020 ini, maka Viktor menyiasatinya dengan melakukan perkawinan silang dengan babi lokal. Sebab hingga kini, peternakan Rembu Tedeng masih terbatas.

Ia juga berkomitmen akan memberdayakan peternak-peternak lokal dalam rangka memenuhi syarat-syarat, termasuk kuota babi dalam perjanjian kerja sama nanti.

Penulis: Ardy Abba