Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Persekutuan Adat Tana Detunggali Ende Gelar Ritual Tolak Virus Corona
KESEHATAN

Persekutuan Adat Tana Detunggali Ende Gelar Ritual Tolak Virus Corona

By Redaksi7 April 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Para tetua adat Tana Detunggali sedang menyiapkan bahan sesajian untuk acara adat tolak virus corona (Foto: Copy Right)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Persekutuan adat Tana Detunggali di Desa Fataatu Timur, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, NTT menggelar ritual adat ‘Joka Nitu Noa‘ pada Sabtu (04/04/2020).

Menurut Mosalaki Pu’u Ria Bewa Tana Detunggali, David Mboi, upacara adat ‘Joka Nitu Noa‘ sesungguhnya bukan upacara tetap yang digelar tiap tahun.

Namun, upacara ini manakala dunia atau (tana watu) terserang hama seperti sekarang ini oleh wabah virus corona.

Mosalaki Pu’u Tana Detunggali sedang menggelar acara adat tolak bala virus corona (Foto: Copy Right)

David mengatakan, upacara adat Joka Nitu Noa bersifat insidental untuk menolak segala bentuk hama termasuk virus yang mengganggu kenyamanan manusia.

Secara keyakinan adat, jelas David, wabah atau virus ini sebenarnya ada dan datang bersama alam yang dalam bahasa lokal setempat dinamakan penaki eo mai noo’ angi, eo ndu noo’ rubu. Artinya penyakit itu datang bersama angin dan ikut bersama awan.

“Maka secara adat pula harus dilakukan upacara adat agar virus itu kembali ke asalnya,” katanya.

“Kalau dalam bahasa adat disebut joka da ghele keli, gola da lau mau, bhale leka tuka ine. Artinya, kembali ke gunung kembali ke laut kembali ke asal mulanya,” terang David.

Inilah bahan-bahan sesajian kepada leluhur dalam acara adat tolak bala (Foto: Copy Right)

Ia menambahkan, upacara adat tolak bala tersebut ditandai dengan pemberian sesajian kepada leluhur dan alam semesta sesuai dengan batas wilayah adat (hak ulayat).

Acara itu dipimpin oleh tetua adat setempat, didampingi oleh struktur badan mosalaki, Ngebogele (pembantu utama mosalaki pada wilayah tertentu selain di daerah dataran), dan kelompok-kelompok adat serta wajib diikuti oleh semua masyarakat adatnya atau ana kalo fai walu.

“Secara adat bahwa upacara ini pasti mampu menolak hama penyakit termasuk virus yang akan masuk ke wilayah persekutuan adat tana Detunggali,” kata David.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

Ende Virus Corona
Previous ArticleJadi Agen Informasi Covid-19, Pemkab Belu Segera Siapkan APD untuk Wartawan
Next Article Ada 8 ODP di Malaka, Berikut Sebarannya per Kecamatan

Related Posts

Kompak Indonesia Desak Jaksa Agung Ambil Alih Dugaan Korupsi Rp49,8 Miliar di Ende

8 Juli 2026

Warga Kampung Barang Gelar Roko Molas Poco, Tiang Utama Rumah Adat Gendang Diarak ke Lokasi Pembangunan

11 Juni 2026

Festival Religi dan Budaya Paroki Wae Nakeng Libatkan 18 UMKM, Dorong Persaudaraan dan Pariwisata Religi

30 Mei 2026
Terkini

Eco-enzyme: Solusi Sederhana Mengolah Limbah Dapur Perkotaan

16 Juli 2026

Dua Wisatawan Asal China Tewas Tenggelam saat Snorkeling di Perairan Pulau Kelor

15 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.