Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Video Editorial: Huru-Hara di Sikka, Petanda Apa?
NTT NEWS

Video Editorial: Huru-Hara di Sikka, Petanda Apa?

By Redaksi11 April 20201 Min Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yustin Sila, Narator
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Pemudik memang menjadi pemicu huru-hara di Sikka. Namun adakah jaminan ekonomi dan kesehatan bagi perantau jika memang mereka diharapkan untuk tetap bertahan? Jika mereka diistirahatkan sementara dari pekerjaannya, siapa yang menanggung keluarga tercinta di kampung halaman?

Jawaban akhirnya adalah dilema. Kalau mau jujur,  ‘dilema’ sesungguhnya menggambarkan ketidakpastian kebijakan dan informasi yang terjadi selama ini. Kita lamban mengantisipasi berbagai dampak sejak awal.

Bayangkan saja, sampai saat ini belum ada kesepahaman antara pemda dan pemerintah pusat terkait kebijakan penutupan bandara dan pelabuhan. Pemda menginginkan penutupan sementara di sisi lain pemerintah pusat terus bersikap longgar.

Soal mudik pun demikian, antar presiden dan menterinya masih tak sepaham, begitu pula antara pemerintah pusat dan daerah.

Hal lain misalnya soal protokol pencegahan. Dulu, Menkes bilang, cuma orang sakit yang pakai masker, namun sekarang ia sendiri sering tampil pakai masker. Masih banyak lagi informasi yang keluar begitu saja, dibiarkan mengendap tanpa kepastian.

Anehnya, di saat ketidakpastian informasi, himbauan agar masyarakat tetap tenang dan jangan panik terus diucapkan. Bagaimana tidak panik kalau informasi saja tak pasti?

Bagaimana tidak takut, kalau koordinasi antar Pemda dan pemerintah pusat masih kocar-kacir? Bagaimana tidak cemas kalau APD untuk petugas medis saja masih kurang di daerah?

Previous ArticleHerman Man Tegaskan Pasien Positif Covid-19 di NTT Bukan Warga Kota Kupang
Next Article Pasien Positif Covid-19 di NTT Diperkirakan Sudah Berinteraksi dengan 60 Orang

Related Posts

Pastor Pantura Tolak Tambang Mangan di Reok dan Lamba Leda Utara

8 Agustus 2026

Keuskupan Agung Ende dan Warga Flores Gugat Tiga SK Geothermal ke Mahkamah Agung

31 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026
Terkini

Kekerasan Seksual Anak di Sumba Timur: Rumah Tak Lagi Aman

2 September 2026

Gunung Anak Ranaka Naik ke Level Waspada, Warga Diminta Menjauh Satu Kilometer

2 September 2026

Aktivitas Gunung Api Anak Ranaka Meningkat, PVMBG Naikkan Status ke Level Waspada

2 September 2026

Ibu Hamil Meninggal Usai Jalani Operasi Caesar di RSUD Borong, Keluarga Soroti Penanganan Medis

1 September 2026

JPIC OFM Indonesia Bawa Misi “Tembus Pelosok” Salurkan Bantuan Pascagempa Flores

1 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.