Para pengunjung di Gua Niki (Foto: L. Jehatu/ Vox NTT)
alterntif text

Borong, Vox NTT- Minggu, 03 Mei 2020, VoxNtt.com dan 6 orang teman bersepakat pada satu pilihan untuk mengunjungi Gua Niki yang terletak Kampung Watu Nggong, Desa  Satar Nawang, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur.

Waktu masih menunjukkan pukul 11.00 Wita, kami kompak dalam satu titik star yakni dari Ngkiong, Desa Ngkiong Dora, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Matim.

Di jalan aspal yang sempit, kami beriringan memacu motor menuju Gua Niki. Jalan aspal yang sudah rusak tak menyurutkan semangat kami untuk menyaksikan langsung pesona alam Gua Niki.

Perjalanan cukup menguras waktu akibat jalan berliku, apalagi banyak badan aspal yang sudah terkupas dan menyisakan batu telford.

Gelak tawa dan canda mewarnai perjalanan yang memenatkan itu. Rasa tidak sabar pun semakin mengebu ketika kami hampir sampai di Gua Watu Niki.

Pukul 12.30 Wita, kami pun tiba Watu Nggong, kampung terdekat gua itu. Kendaraan roda dua kami pun diparkir di samping jalan Ruteng-Elar itu, tepatnya di sebelah timur Watu Nggong.

Usai memarkir kendaraan, kami mengambil gerakan pemanasan untuk menormalkan kembali otot yang pegal akibat perjalanan dengan motor. Selanjutnya, mulai berjalan kaki sekitar 5 menit di atas pematang sawah warga hingga tiba di Gua Niki.

Warna padi menguning warga setempat turut menambah sensasi perjalanan. Mata begitu manja dengan panorama padi menguning siap panen di persawahan warga setempat.

Beberapa pengunjung saat berjalan kaki di atas pematang sawah warga menuju Gua Niki (Foto: L. Jehatu/ Vox NTT)

Sejauh mata memandang, decak kagum di antara kami kala menyaksikan Gua Niki. Kami pun perlahan mendekat.

Stalagtit dan stalagmit di dalamnya menciptakan panorama yang membuat mata kami teduh. Makin lama bertahan di dekat Gua Niki, makin kami tercengang untuk melihatnya.

Gua Niki, masyarakat setempat kerap menyebutnya, Watu Niki. Watu/Liang (gua) dan Niki (Kelelawar).

Warga setempat mengaku di Gua Niki tempat bersarang kelelawar sejak dahulu kala.

Pengakuan warga itu memang benar. Kami menyaksikan ada begitu banyak kelelawar di dalamnya.

Selain itu, gua ini memiliki ruang yang sangat besar. Dalam satu gua, memiliki dua lantai.

Lantai pertama memiliki kolam yang agar besar dan airnya bersih. Kolam itu merupakan wadah alam air terjun kurang lebih setinggi 10 meter di dalam Gua Niki.

Luas Gua Niki di lantai pertama berkisar 20×20 meter dan memiliki ketinggian sekira 17 meter.

Di lantai satu ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan air terjun, dan kolam yang dikililingi bebatuan yang berlumut. Sedangkan di langit-langit gua ada kelelawar yang sedang bergantungan dan berterbangan.

Selain itu, pengunjung bisa melihat bebatuan berbentuk “Tugu Berlumut”. Langit-langit gua berbatu tajam dan berlubang tempat berteduhnya kelelawar.

Tugu berlumut di Gua Niki (Foto: L. Jahatu/ Vox NTT)

Sebelum turun menuju ke kolam ada banyak hamparan batu lumut yang tersusun rapi, yang membuat pompa jantung para pengunjung menuju rasa takut. Tetapi tenang, kondisi ini tentu saja memacu adrenalin karena batu sedikit licin.

Salah seorang pengunjung sedang pose di tugu berlumut di dalam Gua Niki (Foto: L. Jehatu/ Vox NTT)

Di dalam Gua Niki tampak agak gelap. Hawanya dingin dan sejuk.

Di lantai kedua Gua Niki ini terdapat ruang yang agak gelap, sehingga pengunjung membutuhkan penerangan. Jarak dari lantai satu ke lantai dua  itu sekitar 20-25 meter.

Menuju ke bawah gua perlu ekstra hati-hati, karena selain curam tajam, juga terdapat hamparan batu licin dan berlumut.

Beberapa pengunjung di Gua Niki (Foto: L. Jehatu/ Vox NTT)

Gua yang kedua itu memiliki keunikan yang berbeda dengan yang satunya. Dia memiliki ketinggian sekitar 15 meter. Langit-langit berlubang-lubang, tempat sembunyi kelelawar besar. Di lantai dua gua itu, hanya terdapat batu-batu dan memiliki air.

Amandus Cahaya Tukeng salah satu pengunjung mengatakan, Gua Niki kerap didatangi anak-anak muda.

Menurut dia, Gua Niki sangat bagus, indah dan masih alami. Bagi dia, Gua Niki adalah aset yang sangat berharga bagi warga setempat.

“Jika pemerintah desa dan kabupaten mengelola sebagai tempat wisata lokal, maka tempat ini memiliki nilai ekonomi yang akan menjadi pendapatan untuk masyarakat sekitar,” ujar Arman.

KR: L. Jehatu
Editor: Ardy Abba