Proses panen jagung di Desa Compang Ndejing (Foto: Istimewa)
alterntif text

alterntif text

Borong, Vox NTT- Para petani di Desa Compang Ndejing, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) sudah melakukan panen jagung.

Hasil yang diperoleh kali ini tidak seperti tahun sebelumnya. Panen petani tidak mencapai angka ribuan kilogram (kg).

“Untuk kali ini, kami rata-rata memanen jagung bervariasi. Ada yang panen di atas 500-an kilogram. Namun ada pula sejumlah petani yang panen jagung 1 sampai 2,5 ton,” ucap seorang petani asal Desa Compang Ndejing, Gaspar Es (57) kepada VoxNtt.com, Minggu (17/05/2020).

Gaspar mengaku turunnya hasil panen petani diakibatkan curah hujan pasca tanam yang tidak menentu, juga pola perawatan yang tidak intens.

“Memang baru-baru tanaman jagung kita di sini diserang hama. Makanya hasil yang kita dapat seperti ini. Kalau tahun-tahun sebelum bagus hasilnya,” ucapnya.

Kali ini, aku Gaspar, hasil panen yang diperoleh hanya 21 karung. Hasil ini pun sangat jauh berbeda dengan sebelumnya, yang mencapai 32 karung.

Panen Berlimpah, Harga Anjlok

Sementara itu, salah tokoh muda Desa Compang Ndejing Edi Dahal mengatakan sejak panen raya untuk komoditi jagung, hingga kini harganya tidak pernah dikawal baik oleh Pemerintah Daerah Matim.

Padahal kata dia, para petani di desa itu memberi sumbangsi sebagai penghasil jagung terbesar untuk daerah.

Hasil panen jagung di Desa Compang Ndejing sementara dijemur. (Foto: Ist)

“Bayangkan saja setiap panen jagung, harga jagung selalu anjlok atau jatuh di harga Rp 2000- 2700 per kilogram,” imbuhnya.

“Harga yang lumayan baik saat panen itu ketika di awal-awal pasca panen. Harganya berkisar Rp 4000 sampai Rp 5000,” tambah alumnus Unika Ruteng itu.

Mirisnya lagi jelas Dahal, anjloknya harga jagung dipengaruhi oleh tidak adanya peraturan daerah untuk mengkawal, juga mengatur harga komoditi yang dihasilkan oleh para petani.

“Tidak hanya jagung, kakao, kemiri dan hasil komoditi di daerah kita ini belum diatur secara baik oleh Pemda,” ujarnya.

Akibatnya, kata dia, para tengkulak pun dengan bebas memonopoli harga jagung. Di tengah situasi demikian, secara terpaksa dan mendesak petani menjual jagungnya dengan harga yang murah.

Menurut Dahal, saat ini para petani jagung berharap keterlibatan pemerintah untuk menetapkan harga jagung melalui Perda. Pemerintah juga diharapkan bisa membantu petani mencari perusahaan yang siap untuk menerima hasil panen mereka.

“Tentunya perusahaan tersebut menjadi perusahaan yang direkomendasikan oleh pemerintah daerah melalui kerja sama yang diakhiri dengan perjanjian dan dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU),” ungkapnya.

“Jika itu bisa dilakukan oleh pemerintah. Maka, petani jagung yang ada di Desa Compang Ndejing dan di mana pun berada di Manggarai Timur akan sejahtera. Sehingga angka kemiskinan pun semakin berkurang dan pasti Matim dihapus dari pemerintah pusat sebagai salah satu kabupaten yang tertinggal di NTT,” tambah Dahal.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba