El Asamau melakukan donor plasma (Foto: Istimewa)
alterntif text

alterntif text

Maumere, Vox NTT- Sampai dengan hari ini jumlah kasus positif Covid-19 di Sikka telah mencapai 27 kasus. Peningkatan drastis selama seminggu terakhir.

Sikka menjadi perhatian banyak pihak, salah satunya adalah El Asamau. El adalah pasien pertama positif Covid-19 di NTT. Belakangan El sudah dinyatakan sembuh dan pulang ke rumah.

El berkisah, ia dinyatakan positif berdasarkan hasil tes atas sampel Swab yang diambil pada 27 Maret lalu.

Selanjutnya, pada 9 April sebelum masuk ruang isolasi ia menjalani pengambilan Swab pertama dan pembambilan Swab kedua pada keesokan harinya.

“Pemeriksaan atas dua sampel sebelum masuk dan sehari sesudah masuk itu yang dipakai untuk menyatakan saya negatif. Secara logika, artinya saya sudah sembuh sebelum masuk ruang isolasi,” ungkapnya melalui telepon, Minggu (17/5/2020) lalu.

El meyakini imunitas tubuhnya lah yang berhasil mengalahkan SarsCov2.

Oleh karenanya, melalui VoxNtt.com El menitipkan pesan kepada 26 pasien Covid-19 di Sikka agar tetap semangat dan mengikuti perawatan oleh tim medis.

“Beraktivitaslah seperti biasa anggaplah kamu lagi beristirahat di mana begitu. Jangan pikiran karena satu-satunya obatnya adalah imun tubuh,” tandas Magister lulusan Amerika Serikat tersebut.

El memahami apa yang dialami pasien Covid- 19 di Sikka persis seperti yang dirasakannya.

“Situasi ruang isolasi menyulitkan karena walaupun makanan banyak tersedia dan ada perawatan khusus tetapi sebagai makhluk sosial kita akan tertekan karena tidak bisa ke mana-mana dan tidak punya teman,” ungkapnya.

Ditambah lagi saat itu dirinya adalah pasien pertama. Selain memikirkan apakah akan sembuh atau tidak, ASN pada Dinas Perhubungan Kabupaten Alor ini harus menghadapi stigma di media sosial.

“Saya lihat sekarang sudah agak beda. Orang sudah mulai bisa menerima keadaan. Tekanan terhadap saudara-saudara di Maumere juga hampir tidak ada,” ujarnya.

El menyarankan pasien Covid-19 di Sikka agar tidak membatasi diri untuk berinteraksi dengan keluarga atau teman baik itu melalui telepon atau sosial media.

Tidak hanya kepada pasien, El juga mengimbau keluarga atau masyarakat lain yang pernah punya kontak erat dengan pasien Covid- 19 agar jujur dan terbuka kepada Satgas.

Kala itu El berinisiatif melaporkan diri dan menjalani pemeriksaan setelah mengetahui ada temannya yang positif Covid-19 di Jakarta.

“Hanya pemeriksaan yang bisa memastikan kita sehat atau tidak. Jadi jangan bersembunyi atau melarikan diri. Kalau tidak diperiksa selain membahayakan orang lain kita juga akan terus dibayangi rasa takut apakah kita sehat atau tidak,” tegasnya.

Sekarang El sudah kembali beraktivitas. Ia melanjutkan penulisan buku keduanya. Bahkan beberapa hari yang lalu, El dan keluarga berkesempatan mengunjungi keluarga pasien Covid- 19 di Kota Kupang yang telah meninggal dan memberikan bantuan.

Berdarah Paga

Ada dua alasan di balik kepedulian El terhadap pasien Covid-19 di Sikka. Selain pernah merasakan hal serupa, El mengaku Maumere merupakan tempat asalnya juga.

Meski dikenal sebagai orang Alor, El ternyata punya darah Maumere dari sang ibu.

Ibunya bernama Kristina Seda. Di kampung halamannya Keli Lo’o, Paga, Sikka, sang ibu dikenal dengan nama Asi.

“Keli Lo’o dulu di bawah pantai tapi karena abrasi lalu pindah ke sebelah atas,” ungkapnya.

El mengaku bisa bahasa Lio. Bahkan salah satu adiknya saat ini ada di Maumere.

“Saya lahir di Waioti. Keluarga Mama, aji, ka’e, Ine, baba semua di Maumere,” ujarnya.

Ia sering berkunjung ke Maumere. Pernah ia ke salah satu kampus di Maumere untuk mempromosikan program beasiswa ke luar negeri.

Rencananya, bila situasi kembali normal, ia dan keluarga ingin kembali berkunjung ke Maumere.

Penulis: Are De Peskim
Editor: Ardy Abba