Kondisi padi di persawahan Ulung Luwuk. Lokasi ini bakal dijadikan sentra pertambangan dan pembangunan pabrik semen. Foto diambil Jumat (12/06/2020) (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)
alterntif text

Ruteng, Vox NTT- Sore itu dengan bangga, Lorensius Dodok menceritakan hasil kerja kerasnya. Berkat ketekunannya, warga asal Kampung Luwuk, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur itu bisa meraup keuntungan besar.

Sambil berjalan di atas batu karang, menyusuri pantai  bagian utara Kampung Luwuk, cerita bagaimana Lorensius mendapatkan hasil panen kacang hijau terus menggebu.

Sesekali suaranya meredup lantaran kebisingan deburan ombak tepi pantai laut Flores. Desiran ombak terus menghantam pepohonan bakau yang tumbuh begitu apik di tempat itu.

Sambil melompat demi menggapai batu karang yang cukup tajam, ia mengatakan kunci kesuksesan sebagai petani ialah kerja keras dan tekun.

Lahan yang luas dan masih kosong di Kampung Luwuk dilihatnya sebagai potensi untuk menanam kacang hijau. Apalagi, tanahnya begitu subur. Sari-sari rupiah pun dengan mudah didapatkan.

Lorensius Dodok, saat diwawancarai VoxNtt.com di pinggir Pantai Luwuk, Kamis (11/06/2020) (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

Lorensius mengaku, dari 35 kg bibit kacang hijau yang ditanam pada musim tanam kali lalu bisa memanen 1,3 ton. Setelah dijual, hasilnya mencapai 18 Juta rupiah.

“Saya coba tahun ini, bibit saya punya 35 kilo (gram). Hasilnya 1 ton 300 (kg),” terangnya kepada VoxNtt.com, Kamis  (13/06/2020) sore.

Pantauan VoxNtt.com, tanah di lahan milik warga Kampung Luwuk tampak begitu subur. Kondisi ini tentu saja sangat mendukung pertumbuhan tanaman dengan berbagai komponen di dalamnya.

Kondisi tanah yang subur ini membuat sejumlah petani di kampung bagian utara Desa Satar Punda itu bisa dengan mudah mendulang rupiah.

Buktinya, tidak hanya Lorensius Dodok yang meraup keuntungan besar dari kerja kerasnya menanam kacang hijau. Warga Luwuk yang lain, Agustinus Fan juga mengaku memiliki lahan sawah, bahkan bisa diolah tiga kali dalam satu tahun.

Agustinus Fan, saat diwawancarai VoxNtt.com di pinggir Pantai Luwuk, Kamis (11/06/2020) (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

Ada banyak mata air di sawah milik Agustinus yang berlokasi di Ulung Luwuk. Tiga di antaranya yang agak besar. Satu di bagian barat. Satu di bagian timur dan satu lagi di bagian selatan.

Di keliling sawahnya terdapat pohon pisang, kelapa dan berbagai tanaman lainnya yang tumbuh dengan apik.

Beragam tanaman dan pepohonan yang rindang di keliling persawahan tersebut seolah menawarkan harapan keberhasilan bagi petani sawah.

“Saya punya sawah tiga kali dikerjakan dalam satu tahun. Hasilnya 5 karung satu kali panen. Dalam setahun bisa 15 karung,” aku Agustinus kepada VoxNtt.com.

Air Terus Mengalir

Di berbagai tempat mungkin tidak mampu mengolah lahan sawah tiga kali dalam satu tahun. Namun berbeda halnya di persawahan Ulung Luwuk milik warga Kampung Luwuk.

Potensi utamanya yakni karena banyak mata air di sekitar persawahan warga. Air ini mengalir setiap tahunnya tanpa henti. Apalagi jika musim hujan, air keluar dari sumbernya sangat banyak, meski memang belum  tersentuh pembangunan pemerintah semisal bendungan atau irigasi.

Konstantinus Esa, salah satu petani yang memiliki lahan sawah di persawahan Ulung Luwuk mengaku air mengalir terus setiap tahunnya tanpa henti. Selain mengairi persawahan, air tersebut juga digunakan warga untuk minum.

Konstantinus Esa dan warga lain saat diwawancarai di sekitar persawahan Ulung Luwuk, Jumat (12/06/2020) (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

“Air ini mengalir ke sawah. Walau musim kemarau air ini tetap hidup. Apalagi kalau musim hujan, airnya malah bertambah,” terang Konstantinus saat ditemui di sekitar mata air persawahan Ulung Luwuk.

Jalan Rusak

Meski hasil pertanian sangat menjanjikan, namun kondisi jalan berbatu menyulitkan warga Kampung Luwuk untuk mamasarkan hasilnya ke kota.

Pantauan VoxNtt.com, dari pertigaan Sirise jalan berbatu sekitar  3 kilometer. Jalan telford ini tanpa ada tanda-tanda diaspal oleh pemerintah.

Di tengah perjalanan ke Luwuk,  tepatnya di Kampung Sirise, Desa Satar Punda tampak lahan bekas penampungan mangan hasil tambang.

Di tempat itu masih menyisakan batu kerikil berwarna hitam. Sebagiannya tampak tidak ditumbuhi rumput.

Beberapa mesin dan bangunan reyot milik PT Istindo Mitra Perdana juga masih berada di tempat itu.

Dari papan nama di lokasi, perusahaan itu mendapat izin tambang sejak tahun 1999-2009.

Bekas tempat penampungan mangan milik PT Istindo Mitra Perdana di Kampung Sirise (Foto: Pepy Kurniawan/ Vox NTT)

Kehadiran perusahan tambang sepertinya tidak berdampak pada infrastruktur khususnya jalan raya, listrik dan air minum bersih.

Selain itu juga tidak berdampak pada kondisi tempat tinggal warga di sekitar lokasi tersebut.

Sebab, di sekitar lokasi itu terdapat beberapa rumah warga yang kondisinya masih memprihatinkan.

Rumah berukuran kecil,  dindingnya terbuat dari pelupuh bambu dan berlantai tanah.

Sepanjang perjalanan memang sudah ada tiang listrik yang baru saja dipasang, namun belum ada aliran listrik.

Penulis: Ardy Abba