Damianus Adar, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Akademisi dari Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana Kupang, Damianus Adar angkat bicara soal polemik rencana penambangan batu gamping dan pendirian pabrik semen di Lingko Lolok dan Luwuk, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT.

Damianus menjelaskan, rencana tersebut tentu saja berkaitan langsung dengan keberadaan lahan pertanian dan budaya setempat.

Padahal, kata dia, bagi warga Lingko Lolok dan Luwuk tanah merupakan satu-satunya modal untuk masa depan mereka.

“Kalau pertanian hilang maka budaya juga hilang. Filosofi kehidupan orang Manggarai yakni compang bate takung (mazbah), mbaru bate ka’eng (rumah), uma bate duat (kebun), wae bate teku (mata air), natas bate labar (halaman kampung) akan ikutan hilang,” jelas Damianus di kantornya, Selasa (16/06/2020) siang.

Ia menegaskan, tidak mungkin ada lagi ritus penti (upacara adat syukuran panen) setelah lahan pertanian warga ditambang. Sebab, semua budaya Manggarai itu induknya atau ibunya adalah pertanian.

“Ngapain kita bunuh ibu? Begitu pandangan saya sebagai akademisi,” tukas Damianus.

Menurut Dekan Fakultas Peternakan Undana itu, pada umumnya prinsip pembangunan membuat orang sejahtera. Pembangunan tentu saja tidak membuat satu pun lebih buruk.

Bagi dia, kesejahteraan itu menjadi indikator utama dari sebuah pembangunan.

Damianus menegaskan, meski memang di Luwuk dan Lingko Lolok didominasi atau 98% warga (154 KK) yang menerima pertambangan, namun hingga kini masih 10 KK yang menolak. Itu berarti masih ada pro dan kontra di balik rencana penambangan batu gamping dan pendirian pabrik semen tersebut.

Menurut dia, ke-10 KK yang menolak hadirnya tambang gamping dan pabrik semen itu juga berhak mendapatkan kesejahteraan.

“Saya orang pertanian dan prinsip itu berlaku juga. Demikian juga pembangunan dalam bidang pertanian, satu saja tidak sejahtera apalagi 10 orang itukan dampaknya buruk. Sebaiknya pembangunan tambang dan pabrik semen itu ditunda dulu sampai prinsip semua sejahtera itu diperoleh atau ditegakkan,” tegas Doktor Managemen Pertanian itu .

Damianus menjelaskan, selama ini memang belum ada indikator yang jelas soal perencanaan tambang dan pabrik semen tersebut.

Meski begitu, faktanya seperti pemberitaan di Metro TV bahwa lokasi bekas tambang di wilayah itu masih menganga.

“Ada juga di Robek dan Kajong lahannya buruk usai tambang. Memang secara teori lahan itu akan pulih kembali sesudah tambang minimal 50 tahun itupun dengan teknologi yang sangat canggih kalau tidak, maka ribuan tahun baru bisa pulih kalau melepas proses secara alami,” jelasnya.

Ia juga menyangsikan argumentasi peningkatan kesejahteraan ekonomi hanya dari tambang saja.

Sebab itu, Damianus meminta agar rencana tersebut ditunda. Apalagi jika pabrik semen dibangun di atas lahan 50 atau 100 hektare.

“Tambang ini menggali perut bumi tidak gampang dengan kondisi puluhan hingga ratusan meter galian,” pungkasnya.

Kembangkan Lahan Pertanian

Menurut Damianus, di Lingko Lolok dan Luwuk sudah ada komoditi pertanian seperti padi, kacang-kacangan, dan jagung.

Tanaman itu, kata dia, tentu saja memiliki nilai ekonomis tinggi bagi warga setempat.

“Kalau jambu mete okelah tanaman ekonomis juga, tapi jangka waktu lama. Tanam kacang hijau 1-2 bulan panen kan bisa mendapat keuntungan 30-an Juta,” imbuh Damianus.

Dia sendiri sudah mengembangkan teknologi biaya rendah. Jika jagung ditanam di atas lahan 600 hektare, kata dia, maka bisa meraup keuntungan 3-4 Miliar.

Baca: Petani di Luwuk: dari Panen Kacang Hijau 18 Juta hingga Kerja Sawah Tiga Kali Per Tahun

Keuntungan tersebut sudah dihitung Damianus berdasarkan perhitungan ilmiah.

“Kompensasi itu bisa ditutup dengan hasil panen jagung tadi kan. Kami sudah perkenalkan teknologi di Reo itu untuk tanam kacang panjang dalam dua bulan itu bisa mendapat penghasilan 50 Juta,” tegasnya.

Kondisi padi di persawahan Ulung Luwuk, Jumat (12/06/2020) (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

Menurut dia, tambang bisa saja berkelanjutan, tetapi perlu dikalkulasi berapa banyak persediaan cadangan bahan bakunya.

“Kalau 30 tahun isi perutnya habis setelah itu kan lahannya akan hancur,” ujarnya.

Menurut Damianus, potensi lahan pertanian di Luwuk dan Lingko Lolok tinggal disentuh dengan inovasi dan dana. Hal itu tentu saja merupakan tugas pemerintah.

Baca: Pesona Sunset di Pantai Luwuk

Sebagai akademisi, Damianus mengklaim punya hak memberikan kontribusi pemikiran sebagai fariabel kepada pemerintah untuk mengambil kebijakan.

Kecuali nanti tambang dan pabrik itu nantinya milik petani. Petani yang memiliki saham besar di pabrik semen tersebut.

Tetapi kalau petani hanya menjadi buruh pabrik berkepanjangan, maka kesejahteraan pasti jauh didapatkan.

“Setelah pensiun sudah selesai. Kriteria pekerja juga ditambang ada. Kalau petani kan tanpa kriteria,” katanya.

Tanah yang sudah gundul bekas tambang menurutnya, bisa dikembangkan dengan kebijakan pemerintan melalui Dinas Pertanian. Pemerintah bisa menggunakan ekskavator menguruk, lalu mengisi pupuk kompos.

Baca: Sapi Berkah Bagi Warga Lingko Lolok

“Pemerintah bisa fasilitasi. Bawa ekskafator di 600 hektare olah lalu setelah itu piara ternak, dan lain-lain, kan bisa mendapat penghasilan yang jauh lebih besar. Saya mau bilang tambang dan pabrik semen itu bukan alternatif satu-satunya,” imbuhnya.

Menurut Damianus, wilayah dengan jenis tanah karst membentang dari Labuan Bajo hingga Riung.

“Yang bilang di situ tidak ada air, omong kosong. Kalau pakai sumur bor itu sampai 80 meter sudah bisa dapat air,” tutupnya.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba