Bupati Matim Agas Andreas saat menerima massa demonstran dari PMKRI dan GMNI di Aula Lantai II Kantor Bupati setempat, Kamis (02/07/2020)
alterntif text

Ruteng, Vox NTT- Penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen dan tambang batu gamping di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur terus bergulir.

Pada Kamis (2/7/2020) siang, Bupati Manggarai Timur Agas Andreas digeruduk puluhan mahasiswa dari GMNI dan PMKRI.

Kedua organisasi mahasiswa ekstra kampus tersebut mendesak Bupati Agas untuk membatalkan seluruh proses dan tahapan perizinan investasi tambang dan pabrik semen di Desa Satar Punda.

Tambang dan pabrik semen dipastikan akan merusak lingkungan, menggerus lahan pertanian dan peternakan, serta menggusur masyarakat adat dan kebudayaannya.

Baca: Bupati Agas Andreas: Tidak Semua Warga Luwuk-Lolok Kerja di Pabrik Semen

Untuk mensejahterakan masyarakat, mahasiswa meminta Bupati Agas untuk mengembangkan sektor pertanian dan peternakan melalui edukasi bertani, berkebun, dan beternak. Selain itu, mahasiswa juga meminta Bupati Agas untuk mengembangkan sektor pariwisata.

Desa Satar Punda dan sekitarnya sangat potensial dan strategis jika pemerintah serius memberikan sentuhan pada sektor yang menarik wisatawan itu. Apalagi wilayah pesisir dengan panorama alam eksotis itu berada di tepi jalan lintas utara Pulau Flores.

“Alam, budaya, serta masyarakat itu sendiri akan terawat, keuntungan berlipat ganda, tidak ada pihak yang dirugikan, sehingga kesejahteraan benar-benar hadir di tengah masyarakat. Berbanding terbalik dengan aktivitas pertambangan yang memastikan kerugian alam dan masyarakat,” ujar Eman Suryadi, salah seorang mahasiswa.

Baca Juga: Emas Kami adalah Alam, Emas Kami adalah Kehidupan

Namun Bupati Agas tetap kukuh pada pendiriannya. Ia tetap melanjutkan proses yang sudah dimulai dan kini sedang berjalan. Pihaknya kini sedang menyusun materi analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

Agas yakin kehadiran pabrik semen dan tambang batu gamping dapat mensejahterakan masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja. Walaupun tak semua warga Luwuk dan Lengko Lolok bisa diserap sebagai tenaga kerja karena perusahaan tentu memiliki standar dan kriteria dalam merekrut tenaga kerja.

Agas pun sesumbar menyebut pabrik semen menjadi salah satu potensi wisata. Bagi Agas, kehadiran pabrik semen akan menjadi daya tarik baru dalam bidang pariwisata.

“Saya pikir juga besok pabrik semen ini jadi potensi pariwisata juga. Dugaan saya begitu. Pasti itu. Orang pergi melihat itu. Ini kita menduga. Pasti juga punya potensi pariwisata kalau pabrik semen ini ada,” katanya.

Penulis: Ardy Abba