Kondisi jembatan Wae Lampang. (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
alterntif text

Borong, Vox NTT-DPRD Manggarai Timur (Matim) berjanji akan membangun jembatan Wae Lampang di Desa Rana Kulan, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

“Semoga 2021 ada perbaikan jembatan Wae Lampang. Kalau sudah usul dan kami sudah lihat sendiri pasti akan dibahas,” ujar Ketua DPRD Matim Heremias Dupa saat melakukan kunjungan kerja di Desa Rana Kulan, Jumat (03/07/2020).

Politisi Partai Amanat Nasional itu mengatakan setelah kunjungan tersebut pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Matim.

Ia menjelaskan saat ini kebutuhan kabupaten yang dimekarkan pada 2007 silam itu begitu banyak, namun kondisi keuangan daerah sangat terbatas. Sehingga perubahan tidak bisa dilakukan sekali jalan tetapi secara bertahap.

Pada kesempatan itu juga pria 35 tahun itu mengajak para warga untuk menjaga kawasan hutan. Hutan adalah sumber air yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia.

“Mata air yang harus kita wariskan bagi anak cucu, bukan air mata,” ujar alumnus Undana Kupang itu.

Saat ini, jelas Heremias, pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan berbagai stakeholder untuk mencari model kebijakan yang tepat untuk mengurangi perambahan hutan di Manggarai Timur.

Politisi daerah pemilihan Borong-Rana Mese itu juga mengapresiasi Pemerintah Desa Rana Kulan yang sudah berinisiatif untuk melakukan program sejuta tanaman porang.

Tanamam porang ungkap sekretaris PAN itu diharapkan menjadi tanaman primadona sekaligus cirikhas dan keunikan desa Rana Kulan ke depan.

Bakal Dibahas di Tingkat Komisi

Senada dengan Heremias, Ketua Komisi C DPRD Siprianus Habur menegaskan rencana pembangunan jembatan Wae Lampang akan dibahas di tingkat komisi.

Politisi dari daerah pemilihan Poco Ranaka-Poco Ranaka Timur itu menjelaskan potensi Desa Rana Kulan perlu didukung dengan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan.

“Potensi di sini luar biasa. Kami akan bahas ditingkat komisi, nanti yang palunya itu kewenangan ketua DPRD. Tetapi kami dikomisi pasti kami dorong untuk bangun pada tahun 2021,” ujarnya.

Kendati demikian kader PBB itu kecewa lantaran perilaku masyarakat yang sudah merambah hutan. Perilaku itu kata dia, sangat merugikan dan megancam keberlangusgan kehidupan ke depan.

Kunjungan kerja DPRD Matim ke desa Rana Kulan, Kecamatan Elar. (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

“Kalau masih sejengkal cukup sudah untuk terus ramba. Jangan tambah lagi,” pintahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Rana Kulan Fransiskus Sanjay mengucapkan terima kasih atas kunjungan DPRD Manggarai Timur di desanya.

“Ini sebuah kerinduan bagi kita semua. Setidaknya kerinduan kami sudah terobati. Bapak dewan tolong angkatlah harkat dan martabat kami,” ujarnya.

Dia berharap usai kunjungan itu setidaknya memberikan bekas sesuai keinginan masyarakat yakni jalan dan jembatan. Apalagi jembatan Wae Lampang dikerjakan secara swadaya oleh warga desa itu.

“Perbaikan jembatan itu swadaya murni dari masyarakat. Kalau sudah buat jembatan dan jalan pasti aksesnya lancar pertumbuhan ekonomi masayarakat meningkat,” ujarnya.

Fransiskus mengaku warga di desa itu sudah menaman lebih dari 3 juta pohon porang. Sehingga dirinya berkomitmen ke depannya desa itu akan maju bila didukung dengan sentuhan dari pemerintah.

“Porang adalah peluang agribisisnis. Karena kurang pesaing. Saya juga mengajak warga untuk beternak babi dan beternak yang lain. Sehingga saya sering bilang subur porangnya gemuk ternaknya,” pintahnya.

Ia juga berharap aset wisata danau Rana Kulan bisa diperhatikan oleh pemerintah kabupaten. Menurutnya, aset sudah diserahkan kepada masyarakat sehingga ke depan setidaknya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata.

“Saya ibaratkan emas yang tidak pernah digali. Saya harapkan agar kalau bisa dipercantik. Kalau itu dilakukan pasti banyak pengunjung,” katanya.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba