Irvan Kurniawan
alterntif text

Oleh: Irvan Kurniawan

Satu minggu lalu, dompet saya hilang. Insiden itu membuat kepala pusing tujuh keliling. Bukan hanya soal uangnya, melainkan juga surat-surat berharga di dalamnya.

Semuanya bermula dari keteledoran saya, saat sedang mengendarai motor sore itu. Sekitar pukul 18.00 Wita, saya balik dari kantor VoxNtt.com menuju rumah.

Dalam perjalanan, saya merasa terganggu dengan dompet yang diselipkan di saku bagian belakang. Ukuran dompet itu memang cukup besar sehingga sesak dan sangat tidak nyaman jika sedang mengendarai motor.

Karena sesak, saya pun memindahkannya dari saku ke jok motor bagian depan. Namun apa sial, saya lupa mengambil dompet itu saat tiba di rumah.

Belakangan ini, cuaca Kota Kupang sedang tidak bersahabat. Angin kencang disertai hawa dingin, seperti memaksa saya untuk cepat-cepat masuk rumah, mandi air hangat, makan malam dan tidur.

Tidur malam itu memang begitu lelap. Tak ada mimpi buruk. Di luar hujan gerimis, diikuti angin ribut melanda Kota Kupang.

Meski demikian, rupanya cuaca itu bersahabat bagi para pencuri. Mereka memanfaatkan cuaca buruk untuk melancarkan aksinya. Saya jadi teringat dengan sebuah pesan kitab suci: “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia,¬†karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Saya baru sadar ada yang hilang, ketika mau kembali ke markas Vox, keesokan paginya. Hampir semua sudut, ruang, tas, dan saku celana sudah menjadi target pencarian. Bahkan tempat-tempat yang tak biasa seperti di sela-sela rak buku tak luput dari pencarian.

Awalnya, saya menduga dompet itu jatuh, saat dipindahkan dari saku ke jok motor. Barangkali waktu itu saya tak sempat memasukannya ke lubang jok, sehingga jatuh ke jalan.

Namun, setelah dingat lagi, rasa-rasanya terlalu naif kalau saya tidak sadar. Saya masih ingat jelas dompetnya masuk ke jok motor.

Saya pun menyimpulkan kalau dompet itu memang ada di jok, namun saya lupa mengambilnya saat turun. Lalu, siapa yang mengambilnya dari jok motor?

Pertama saya menduga, saya dikerjain orang rumah. Ya, semacam shock terapi agar tidak terulang lagi. Namun tidak mungkin saya dikerjain hingga 3 jam lamanya. Sementara semua orang tahu, saya harus segera ke kantor. Dugaan itu memang masih tersisa, namun saya save dulu sembari mencari-cari kemungkinan lain.

Kedua, saya mulai mencurigai anak-anak yang sering datang mencari bekas botol minuman. Kebetulan rumah mereka tak jauh dari kami. Selain itu, anak-anak itu memang sudah terkenal ‘tangan panjang’ di kompleks kami.

Beberapa kali pengakuan para tetangga termasuk orang rumah, memergoki anak-anak itu saat mencuri minyak goreng, garam, sabun, beras, dan buah-buahan di sekitar rumah.

Tapi bagaimana cara yang tepat untuk bertanya? Bukankah kalau saya langsung bertanya ke rumah mereka, malah menimbulkan ketersinggungan kedua orang tua mereka? Ini tentu akan menjadi masalah baru.

Saya tak kehabisan cara. Momen yang ditunggu itu pun datang juga. Seorang anak ke luar rumah dan bermain-main di jalan raya. Saya lekas ke kios terdekat untuk membeli gula-gula. Saya panggil anak itu dan memberinya 5 buah permen.

Saya mengajak anak itu duduk di teras rumah, sembari mengutarakan ‘curhat kehilangan’ kepada bocah yang berusia 5 tahun itu.

“Ade, kemarin saya ada hilang dompet. Rupanya dompet itu jatuh di jalan dekat kios” sambil menunjuk ke arah kios depan rumah.

Saya lanjutkan, “Kalau ade dapat dompetnya, ambil saja uangnya dan kembalikan dompet itu bersama surat-surat serta kartu di dalamnya. Saya akan kasi bonus kalau dompetnya ditemukan pagi ini”.

Anak itu hanya menjawab “Iya kaka” sepanjang saya omong. Raut mukanya tampak merah. Nada suaranya seperti menyembunyikan sesuatu. Ia juga tak berani menatap mata saya.

Anak itu kemudian pulang. Namun, ia tak sadar kalau saya tetap membuntutinya dari belakang. Kebetulan rumahnya di posisi yang lebih rendah dari rumah kami. Jadi sangat gampang dipantau.

Tiba di halaman rumah, ia memanggil 4 orang kakanya. Setelah berdiskusi, 2 kakanya masuk ke arah semak-semak di belakang rumah, sambil melihat-lihat ke dalam rumah mereka. Saya menduga anak-anak itu sedang memantau orang tua mereka.

Tak lama berselang, keduanya keluar dari semak. Seorang kakaknya yang perempuan menyembunyikan tangan di dalam baju. Setelah menengok kiri-kanan, mereka pun mengeluarkan dompet saya.

Tak hanya itu, dompet itu disobek-sobek, entah apa maksudnya. Saya sempat naik pitam dan hendak memergoki mereka, namun rasa penasaran tentang akhir dari drama anak-anak itu, meredam niat saya.

Setelah itu, keempat kakaknya memanggil si bocah tadi. Mereka duduk melingkar dan kakak-kakaknya memberi ia ceramah.

Saya mengerti gelagat tersebut. Ceramah itu adalah petuah bagi sang adik untuk mengibuli saya. Saya pun segera bergegas balik ke rumah dan menunggu tamu terhormat. Tak lupa saya membeli minuman dan kue untuk menjamu kedatangan anak manusia itu.

Sekitar 15 menit menunggu, anak itu tampil di hadapan saya dengan membawa sebuah dompet. Melihat muka polos anak itu, saya malah tak kuasa menahan rasa haru. Air mata saya tiba-tiba mengalir. Saya memeluk anak itu kuat-kuat. Bagi saya ia adalah korban dan tumbal dari kejahatan yang dilakoni kakak-kakaknya.

Anak itu hanya tunduk. Mukanya tak pernah diangkat, apalagi menatap saya.

Lalu, saya mempersilahkan dia masuk ke dalam rumah. Menjamunya dengan minuman dan kue.

“Dek, di mana kamu dapat dompet itu?” tanya saya berpura-pura tak tahu.

Dengan nada polos anak itu menjawab: “Kaka, anjing yang gigit dompet bawa ke rumah,” sembari menyerahkan dompet itu. Matanya tetap tak berani menatap saya.

Saya baru sadar kalau dompet itu sengaja disobek-sobek agar alasannya masuk akal, ‘digigit anjing’. Luar biasa tipu muslihat anak-anak ini. Demikian gumam saya dalam hati.

Saya kemudian memeriksa isi dompet. Sesuai tebakan, uangnya  lenyap. Surat-surat di dalamnya memang lengkap namun kini diselipkan pada satu saku saja. Sebelumnya, KTP, ATM, SIM dan surat-surat berharga lainnya diselip pada saku yang berbeda.

Bagi saya menginterogasi seorang anak kecil untuk jawaban yang sudah saya ketahui, hanya akan mengganggu psikologinya. Lebih dari itu, saya berpikir ada masalah besar di balik aksi anak-anak itu yang mesti dibongkar.

Setelah selasai minum dan makan kue, anak itu saya persilahkan pulang. Tak lupa saya berikan uang bonus, sebagaimana janji saya.

Sore harinya saya mulai melacak keluarga anak-anak itu dari tetangga. Maklum kami baru beberapa minggu tinggal di sana.

Dari cerita mereka, kondisi keluarga itu memang sangat memprihatinkan. Bahkan beberapa kali tetangga saya melihat anak-anak itu makan nasi sisa yang sudah mengeras di periuk, sebelum mereka mencucinya.

Fakta lain yang saya temukan, keluarga itu sudah kehilangan lahan garapan. Ayahnya menjual sebidang tanah tersisa tanpa sepengatahuan istri dan anak-anaknya. Bahkan beberapa bulan lalu, menurut cerita tetangga, pernah terjadi perkelahian antara sang suami dan keluarganya karena menjual tanah tersebut.

Cerita lain, pernah ada bantuan membangun rumah sebesar Rp. 20 juta dari pemerintah, namun uang itu tidak digunakan sebagaimana mestinya. Mereka malah pakai uang itu untuk bayar utang dan belanja kebutuhan sehari-hari.

“Tidak bisa disalahkan juga pak. Bagaimana mereka bertahan hidup kalau tidak punya tanah lagi?” ungkap tetangga saya itu.

Kini, ayah dari anak-anak itu hanya mampu menghidupi keluarganya dengan menjadi tukang ojek.

Di Manggarai Timur

Cerita ini terjadi Kota Kupang. Jauh di Manggarai Timur khususnya di Desa Satar Punda, polemik pertambangan masih hangat diperbincangkan.

Sebagian besar warga Luwuk dan Lingko Lolok, Desa Satar Punda sepakat meyerahkan lahan mereka untuk perusahan tambang. Tak hanya tanah, kampung mereka juga akan direlokasi demi pembangunan pabrik semen.

Saya jadi tambah gelisah. Andai kata, pabrik jadi dibangun dan masyarakat tetap menjual tanah mereka, apa yang akan terjadi dengan anak-anak mereka kelak?

Pihak yang selama ini pro dan menjadi tim sukses tambang malah enteng menjawab: “Itukan urusan mereka, itu tanah mereka, kalau mereka mau jual, apa urusan kalian?”

Ada juga yang bilang: “Untuk apa kalian bikin ribut di medsos kalau orang Luwuk dan Lingko Lolok sendiri kebanyakan setuju?”

Ya, selain tidak relevan, jawaban seperti ini adalah gambaran nyata tentang rendahnya pengetahuan dalam melihat daya rusak pertambangan terhadap lingkungan. Mereka tak sadar bahwa alam adalah bagian dari tubuh manusia yang lain dalam perspektif kosmologi.

Mereka tak sadar bahwa ketika lingkungan di Luwuk dan Lingko Lolok tercemar, akan berdampak kepada desa-desa tetangga bahkan kabupaten tetangga, mengingat wilayah itu adalah perbukitan karst.

Mereka tak sadar bahwa ketika orang-orang Luwuk dan Lingko Lolok kehilangan lahan garapan usai tambang, maka akan berdampak pada kemiskinan yang kemudian melahirkan masalah sosial baru seperti pencurian, perampokan, buruh migran illegal, dll.

Saya juga tentu tak tega, cerita nyata tentang anak-anak tadi, akan terjadi di Manggarai Timur. Mengingat pertambangan sebagai investasi jangka pendek, jika sumber daya sudah dikeruk, perusahaan pergi, maka mereka kehilangan lahan garapan untuk bertahan hidup.

Suatu saat, bukan tak mungkin cerita tentang anak-anak yang dilatih mencuri dan menipu serta harus mengais sisa makanan di dalam periuk akan terjadi di sana.

Kita tentu tidak mau tanah sebagai sumber kehidupan lenyap dimangsa perkakas tambang, batu-batu gamping menjadi batu-batu nisan, dan lubang galian tambang menjadi makam kehidupan.