Oma Sali saat diwawancara wartawan di warung kopi miliknya di Jalan Sam Ratulangi, Ende, Flores (Foto : Ian Bala/Vox NTT)
alterntif text

Ende, Vox NTT-Para aktivis tampak duduk melingkar di pelataran, di tempat usaha jasa kawasan Kampus Universitas Flores.

Mereka serius berdiskusi, berbagi informasi di tengah keramaian orang. Kadang canda tawa pecah dari kelompok kecil itu.

Di tengah mereka, ada beberapa gelas kopi, ada rokok dan ada pula korek api. Asap mengepul dari tengah kelompok para aktivis itu. Tertawa, berdiskusi, menyicip kopi, tertawa lagi. Mereka nampaknya sangat bahagia.

Di balik kelompok aktivis itu, ada tripleks berbentuk persegi yang dipajang di tembok. Ada tulisan ‘Warkop’ dan ‘WiFi’ pada pojok atas. Tampak beberapa tulisan inspiratif ala cafe juga ada di situ.

‘Ketika Otak Perlu Inspirasi, Kopi Nongkrong, Dari Ngopi Hingga Revolusi’.┬áBegitulah kira-kira tulisan yang mudah dilihat.

Oma Sali berpose bersama wartawan yang bertugas di wilayah Kabupaten Ende (Foto : Ian Bala/Vox NTT)

Mulanya, penulis mengira bahwa urusan warung kopi (warkop) dan dunia nongkrong ala aktivis kerap diperankan oleh orang muda. Usaha-usaha kecil dan kreatif macam itu identik dengan kehidupan orang-orang muda.

Kenyataan ini justru terbalik. Di Ende, Flores, NTT ada oma-oma yang membuka warkop untuk aktivis. Oma Sali namanya. Atau lengkapnya ialah Sali Halango (63) warga Onekore.

Oma Sali sudah berusaha warkop ala modern ini sejak tahun 2016. Kala itu, usaha warkop tak cukup laris. Ia tak putus asa, bahkan menciptakan kreativitas dengan mengembangkan warung kopi itu ala aktivis.

“Kan harus disesuaikan nak, mana yang lebih enak ya kita lakukan,” katanya.

Oma Sali mengaku, terinspirasi dari beberapa media sosial soal usaha-usaha kreatif. Hal itu dianggap cocok, apalagi di kawasan kampus.

Membuka tempat nongkrong sambil ‘ngopi’ untuk orang muda dan para aktivis menurutnya adalah hal yang paling mudah. Selain untuk kepentingan pendapatan keluarga, Oma Sali ternyata punya hobi diskusi bersama orang muda dan para aktivis.

“Kalau ada pengunjung biasanya saya bergabung. Ya, diskusi, tukar pikiran tentang apa saja untuk kebaikan,” tutur Oma Sali.

Tak hanya para mahasiwa dan aktivis, Warkop itu juga sering dikunjungi para dosen dan karyawan. Bahkan, beberapa orang dari luar NTT juga pernah berkunjung ke Warkop itu.

“Ada orang Manado yang pernah datang penelitian di Ende, kunjung ke sini juga,” ungkap perempuan yang hanya tamat sekolah rakyat itu.

Sedangkan proses penyajian kopi, kata Oma Sali, dilakukan secara lokal. Kopi asal dari beberapa daerah di wilayah Ende, Bajawa dan Manggarai itu disajikan ala kadarnya sesuai tradisi Ende.

“Dibuat seperti biasa saja. Segelas hanya lima ribu. Kalau pesan lebih dari lima gelas, biasanya ada kortin,” kata Oma Sali.

Pendapatan setiap hari bervariasi, paling rendah 150 Ribu. Jika kunjungan banyak pendapatan lebih dari 200 Ribu per hari.

Oma Sali berkata, pendapatan itu hanya semata-mata untuk kebutuhan cucunya. Sedangkan kedua anaknya kini sudah memilih pekerjaan sendiri.

“Suami saya sudah meninggal 12 tahun lalu. Ya, kalau saya masih kuat, ya kerja apa adanya. Kalau pikiran dan hati sejalan, pasti usahanya baik-baik saja,”tuturnya.

Diakhir perbincangan Oma Sali berpesan kepada orang muda agar lebih kreatif untuk membangun usaha-usaha kecil. Kreativitasnya itu justru sebagai modal dalam kehidupan dunia seperti saat ini.

Penulis : Ian Bala

Editor: Irvan K