Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Ego Sektoral Hambat Pariwisata Flores, Setiap Daerah Mesti Bersinergi
Ekbis

Ego Sektoral Hambat Pariwisata Flores, Setiap Daerah Mesti Bersinergi

By Redaksi7 Oktober 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo (Foto: Copy Right)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Pemerintah saat ini sedang fokus mempromosikan destinasi pariwisata di masing-masing wilayah NTT, terutama di daratan Flores. Hal yang paling tampak di saat Presiden Joko Widodo menetapkan Labuan Bajo sebagai wisata premium.

Namun, kelemahan yang paling menonjol mengenai sikap ego sektoral dari masing-masing daerah. Mestinya bersinergi untuk mendukung konsep pemerintah pusat dalam pengembangan pariwisata Flores.

“Mengenai pariwisata kita ini masih terpenggal-penggal, belum ada sinergisitas antar wilayah. Kita masih menerapkan ego sektoral,” kata Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo saat ditemui di Ende sekembalinya dari Labuan Bajo, Rabu (07/10/2020) pagi.

Ia mengatakan setiap daerah di Flores terkecuali Labuan Bajo agar tidak memaksa kehendak memajukan bidang pariwisata secara sendiri-sendiri.

Sinergisitas antar daerah sangat diperlukan dengan berintegrasi potensi-potensi wilayah seperti pertanian, peternakan maupun perikanan.

“Karena pariwisata ini sebenarnya sektor ekonomi yang handal, impossible ekspor. Kita tidak ekspor tapi mendapatkan visa. Maka semua daerah harus sepakat, tidak boleh sendiri-sendiri, tidak boleh ego sektor,” katanya.

Salah satu contoh yang ia ungkap ialah bersinergi pengolahan pupuk organik untuk taman pangan. Sehingga branding makanan di NTT sehat untuk wisatawan yang datang.

“Nah, kalau kita kaitkan dengan pariwisata kan konek tuh. Wisatawan tentu merasa nyaman, dan ini kita harus berani. Kita harus siap bersama,” tutur Roberto.

“Kalau begitu berarti harus diatur dengan peraturannya, perda atau pergub misalkan. Bahwa makanan yang disiapkan benar-benar menggunakan pupuk organik,” sambung dia.

Untuk memulai itu, Bupati Roberto sudah bangun komunikasi dengan beberapa kepala daerah di daratan Flores. Salah satu konsep yang diajukan ialah membangun satu tempat informasi di Labuan Bajo guna mempromosikan produk-produk wisata di setiap daerah.

“Pak Gubernur sudah bilang bahwa masing-masing wilayah harus siapkan minimal dua produk wisata. Nah, kita koordinasikan itu antar wilayah untuk mendukung wisata Komodo di Labuan Bajo,” katanya.

Mengenai ego sektoral juga diungkapkan Anggota DPRD Ende, Vinsen Sangu saat membahas bersama Bupati Sikka.

Menurut Vinsen, pemerintah telah gencar mendorong pariwisata menjadi sektor unggulan dan strategis. Hal ini untuk dikembangkan demi kemajuan suatu daerah di wilayah Flores dan kepulauan bahkan Provinsi NTT.

Karena itu, ia mendorong kepala daerah di Flores Kepulauan terutama di wilayah Ende, Sikka dan Nagekeo untuk menangkap momentum tersebut dengan menanggalkan ego sektoral.

Sebab, sikap tersebut justru menghambat kemajuan bidang pariwisata dimana oleh pemerintah pusat menjadi pusat ekonomi masyarakat.

“Nah, kita mendorong sektor lain misalkan pertanian, peternakan dan lingkungan agar masyarakat tidak sebagai objek tetapi sebagai subyek untuk mendukung sektor pariwisata,” kata Vinsen.

Ia berharap sedianya masing-masing daerah dapat menerapkan sistem integrasi secara sistematis dengan mengedepankan pariwisata sebagi isu bersama.

“Setiap daerah diharapkan hindari ego sektoral, harus memulai sinergi dan bersatu untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

 

Ende Robi Idong
Previous ArticleMasyarakat Dapil III Turun ke Jalan Sambut Rombongan SN-KT
Next Article 61 Orang Positif Covid-19 di Mabar: 54 Sembuh, Tujuh Masih Dirawat

Related Posts

Kompak Indonesia Desak Jaksa Agung Ambil Alih Dugaan Korupsi Rp49,8 Miliar di Ende

8 Juli 2026

Jejak Rokok Ilegal Helium di Nagekeo: Beredar Bebas, Polisi Menunggu Laporan

12 Juni 2026

Gubernur NTT Lantik Direksi PT Flobamor dan KIB, Pemprov NTT Tambah Modal

27 Mei 2026
Terkini

Eco-enzyme: Solusi Sederhana Mengolah Limbah Dapur Perkotaan

16 Juli 2026

Dua Wisatawan Asal China Tewas Tenggelam saat Snorkeling di Perairan Pulau Kelor

15 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.