Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Mahasiswa di Kupang Terpaksa Makan Nasi Kosong Demi Bertahan Hidup di Tengah Pandemi
MAHASISWA

Mahasiswa di Kupang Terpaksa Makan Nasi Kosong Demi Bertahan Hidup di Tengah Pandemi

By Redaksi10 Oktober 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Mahasiswa di Kupang terpaksa makan Nasi kosong demi menghemat biaya hidu. Foto diambil Rabu, 07 Oktober 2020 (Foto: Naldo Jebadu/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNtt.com-Enam bulan berlalu, wabah Covid-19 menguji daya tahan hidup mahasiswa di Kota Kupang, ibu kota Propinsi NTT.

Sejak bulan April sampai dengan September, para mahasiswa harus mampu bertahan hidup dalam situasi yang serba sulit akibat pandemic. Salah satu kesulitan yang dihadapi mahasiswa yakni sumber keuangan yang terbengkelai.

Hal ini diungkapkan oleh seorang mahasiswa asal Manggarai berinisial AA, ketika ditemui di kos kediamanya di Matani, Kabupaten Kupang, Rabu, 07 Oktober 2020.

“Selama pandemi ini tidak ada keseimbangan antara pendapatan saya dengan pengeluaran. Padahal sebelum pandemi ini, uang yang dikirim oleh orang tua sudah cukup memenuhi semua kebutuhan perkuliahan,” ujar AA.

Mahasiswa jurusan perikanan Politani Negeri Kupang ini menambahkan, biaya hidup yang dikirim oleh orang tuanya dalam sebulan, tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan selama pandemi.

“Selama pandemi saya pun mencoba menyesuaikan antara uang yang dikirim oleh orang tua saya dengan pengeluaran saya. Pembayaran kos, uang listrik, makan minum, sekarang ada penambahan yang lebih besar yaitu pembelian pulsa paket. Apalagi kampus mengeluarkan kebijakan untuk segalah proses perkuliaan secara online,” kata mahasiswa semester 5 tersebut.

Mengatasi masalah tersebut, ia sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk membantu keberlangsungan hidup mahasiswa.

“Saya sangat berharap kepada pemerintah kabupaten Manggarai  mengambil suatu kebijakan  untuk membantu mahasiwa. Pemerintah kabupaten lain saja bisa memberikan bantuan kepada mahasiswa,” ujarnya.

Hal yang sama juga dialami oleh seorang mahasiswa berinisial YS asal Manggarai Timur. Ia sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan Tinggi ternama di Kota Kupang.

Mahasiswa Politani Kupang ini mengaku, dampak pandemi sangat dirasakan oleh orang tuanya yang berprofesi sebagai petani. Oleh karena itu mahasiswa harus mampu mengatur pengeluaran dan pendapatanya dengan baik.

“Virus korona telah menjadi pembelajaran untuk kami mahasiswa,” ujar YS di kediamannya.

YS mengaku, salah satu kesulitan terbesar orang tuanya sebagai petani adalah harga komoditas yang menurun drastis selama pandemi.

“Harga kopi dan cengkeh sudah menurun di tengah pandemi ini, sulit untuk saya sebagai anak petani  memaksakan keadaan mereka tiap bulanya,” ungkapnya.

Mahasiswa semester 3 ini bahkan mengaku harus makan nasi kosong tanpa sayur dan lauk demi menekan pengeluaran.

“Ada saatnya makan tanpa sayur. Kebiasaan seperti ini, saya coba dengan keadaan yang saya alami. Bantuan dari pemerintah juga sangat kami harapkan” ujarnya.

Adapun bantuan dari pemerintah Manggarai Timur yang diterima beberapa waktu lalu ternyata tak cukup untuk mengatasi kesulitan. Bantuan tersebut sebesar satu juta rupiah per mahasiswa.

Baik YS maupun AA, keduanya mulai resah andai pandemic ini terus berlarut, maka para mahasiswa yang orang tuanya hidup pas-pasan tak akan mampu bertahan.

Kontributor: Naldo Jebadu

Editor: Irvan K

Kota Kupang Mahasiswa
Previous ArticleBela Puan, GMPN akan Boyong 100 Pengacara, Nikita Mirzani: Terlalu Banyak Bacot
Next Article Ini Hasil Kajian Komnas HAM atas RUU Cipta Kerja

Related Posts

LBH GAMKI NTT Buka Layanan Konsultasi Hukum Gratis untuk Masyarakat

3 Juni 2026

Kasus Dugaan Penggelapan Dokumen PH Tanah 10 Hektare di Kupang Berakhir Damai

2 Juni 2026

Kuasa Hukum Gusty Pisdon Sebut Tak Ada Narasi Suap Jaksa dalam Putusan Tipikor Kupang

15 Mei 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.