Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Tips Menulis Kreatif ala Komunitas Kampung Berliterasi
HEADLINE

Tips Menulis Kreatif ala Komunitas Kampung Berliterasi

By Redaksi22 Maret 20214 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sebagian peserta kelas komunitas pasca sesi menulis kreatif. Mereka berasal dari berbagai kabupaten di Nusa Tenggara Timur (Foto: Dok Komunitas)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNtt.com-Komunitas Kampung berliterasi mengadakan kelas menulis kreatif secara virtual melalui Zoom pada Kamis, 18 Maret 2021.

Kegiatan ini menjadi sesi kedua kelas komunitas yang melibatkan 54 pegiat literasi dari seluruh Nusa Tenggara Timur.

Dalam sesi ini, Gloria Fransisca Katharina Lawi sebagai pemateri, memaparkan konsep-konsep tentang menulis kreatif untuk branding dan campaign.

Di awal materinya, Gloria mengutip pendapat Pramoediya Ananta Toer tentang menulis sebagai pekerjaan untuk keabadian.

“Menulis adalah dasar komunikasi. Menulis seharusnya adalah kegiatan yang setara dengan aktivitas pokok misalnya makan. Penulis tidak akan pernah mati. Artinya, hasil tulisan kita akan bisa kita wariskan ke generasi selanjutnya dan kita “tidak akan benar-benar mati”, kata content caretaker MOSI.ID ini.

Gloria menambahkan, menulis menjadi sebuah strategi branding. Untuk membentuk branding itu, menulis menjadi dasar sebelum memulai branding diri sampai menciptakan branding usaha dan komunitas. Branding diri melalui tulisan perlu diasa dengan kebiasaan menulis kreatif.

Kreativitas harus menjadi kebiasaan hidup, bukan sekadar tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab. Inilah mengapa untuk memulai menulis kreatif penting untuk membangun kebiasaan “peka” dalam “menstimulus diri” untuk selalu mendorong kebiasaan kreatif.

Lebih lanjut, Mantan Reporter Koran Bisnis Indonesia ini memberikan beberapa tips mencari ide orisinal untuk branding dan campaign.

Pertama, refleksikan pengalaman. Menulis paling mudah untuk membentuk branding dan campaign diawali dengan menulis pengalaman harian. Menulis pengalaman dengan baik adalah fondasi untuk memulai kebiasaan riset dan berpikir kreatif.

Gloria (kanan) menyampaikan materi menulis kreatif dipandu oleh Aleta sebagai moderator dari Komunitas Kampung Berliterasi.

Menulis pengalaman juga adalah bentuk pekerjaan meriset karena dimulai dengan kemampuan membaca konteks, membangun animo pembaca dan membuat tulisan lebih personal bagi si pembaca dan penulis.

Kedua, refleksi mendorong emosi. Menulis dengan mengutamakan bahan utama ‘refleksi’ berarti kita memilih diri menulis dengan emosi. Unsur emosi ini penting karena lebih memikat pembaca, mempercepat branding dan memudahkan strategi campaign ke depan.

Ketiga, kebiasaan cerpenting. Cerpenting (cerita tidak penting) atau disebut dengan storytelling adalah strategi menulis yang efektif memikat pembaca. Keempat, menciptakan power melalui emosi. Kalimat dengan emosi yang positif membuat seseorang merasa senang membagikan, share di media sosial ketimbang kalimat yang provokatif. Kalimat yang positif juga cenderung lebih “harmless” tidak mudah diberikan kritik sehingga lebih mudah dalam melakukan manajemen followers.

Kelima, rima. Rima menjadi penting untu membangun loyalitas dan kemudahan pembaca menyelaraskan bacaan. Selain rima juga ada rumus 3P + 1K yaitu Pengalaman, pengamatan, pengemasan, dan karakterisasi. Keenam, editing. Hal ini penting untuk melihat kembali isi tulisan sebelum diposting di akun media sosial.

Dalam sesi diskusi, seorang peserta atas nama Damianus Hambur, pegiat literasi dari Manggarai Timur menanyakan kepada Gloria mengenai halangan besar dalam menulis yaitu ketidakpercayaan diri.

Berkaitan dengan pertanyaan ini, Gloria menjelaskan bahwa ketidakpercayaan diri seringkali menjadi halangan dalam menulis. Salah satu cara agar percaya diri ialah kembali ke dalam diri untuk melihat alasan utama apakah karena kekurangan bahan menulis atau susunan ide belum tersistematis.

Menurut Gloria, cara paling mudah dalam menghasilkan tulisan yaitu kita perlu mengendapkan tulisan kita selama beberapa hari untuk mengambil jarak dan memberikan ruang untuk kita memberikan evaluasi terhadap tulisan kita.

Di akhir diskusi, Gloria mengajak semua peserta kelas komunitas untuk terus mengasah kemampuan menulis. Menulis kreatif perlu dibarengi dengan kebiasaan kreatif pula. Kebiasaan kreatif itu antara lain membekali diri dengan membaca dan menulis pengalaman harian setiap hari.

Tentang Kelas Komunitas dan Kampung Berliterasi

Kelas Komunitas adalah agenda awal Kampung Berliterasi yang memfasilitasi kaum muda Nusa Tenggara Timur untuk meningkatkan softskill dalam mengelola komunitas di daerahnya. Adapun Kampung Berliterasi memiliki visi untuk menjadi wadah yang mempertemukan setiap penggerak komunitas agar dapat saling berbagi, berjejaring, dan mendukung untuk menjaga keberlanjutan dari setiap gerakan baik yang sudah dimulai.

Saat ini Kelas Komunitas diadakan terbatas untuk 40 orang, peserta akan mengikuti kelas yang terdiri atas 7 sesi dengan materi yang beragam, di antaranya Menulis Kreatif, Coaching, Community Development, dan Pengelolaan Media Sosial.

Pasca pelatihan, peserta diajak untuk mengimplementasikan ilmu yang didapatkan ke komunitas masing – masing dengan adanya pendampingan dari para mentor yang sudah diajak berkolaborasi.

Info lebih lanjut untuk tentang Kampung Berliterasi dapat dilihat melalui media sosial instagram @kampung_berliterasi. Kampung Berliterasi sangat terbuka pada kegiatan kerja sama dan kolaborasi yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Penulis: Yohanes De Brito Nanto (Komunitas Kampung Berliterasi)

Kampung Berliterasi Literasi
Previous ArticleBronjong Senilai Rp965 Juta Ambruk, Posisi Warga di Bantaran Kali Maslete TTU Terancam
Next Article Sosialisai Empat Pilar, Benny Harman: Selamatkan Demokrasi

Related Posts

Isno Baco Ajak Warga Desa Pinggang Berpolitik “Riang Gembira” pada Pilkades 2026

2 Juni 2026

Maju Pilkades Loce, Wilibrodus Rian Usung Penguatan Pertanian hingga Wisata Budaya

1 Juni 2026

Teodorus Weke Gelar Ritus Adat dan Minta Restu Leluhur Jelang Pilkades Wae Mulu

28 Mei 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.