Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Tiga Pembicara Kunci Tampil: Kolaborasi Pemikiran Australia, Asia, dan Afrika Menggema di The 3rd ICEHHA
Pendidikan NTT

Tiga Pembicara Kunci Tampil: Kolaborasi Pemikiran Australia, Asia, dan Afrika Menggema di The 3rd ICEHHA

By Redaksi15 Desember 20232 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Tampilan slide materi dari John Charles Ryan
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Tiga pembicara kunci yang berasal dari Australia, Asia, dan Afrika menyuguhkan keragaman pemikiran dalam presentasi hari pertama Konferensi The 3rd International Conference On Education, Humanities, Health And Agriculture (The 3rd ICEHHA) yang berlangsung di Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng, Jumat (15/12/2023). 

Tiga pembicara kunci pada konferensi internasional ketiga tentang pendidikan, humaniora, kesehatan, dan pertanian itu antara lain yakni John Charles Ryan, PhD, Dr. Fransiska Widiyawati, M.Hum dan John Charles Ryan, PhD.

John Charles Ryan, PhD kala itu memperkenalkan humaniora lingkungan dan mengusung makalah berjudul “An Introduction to the Environmental Humanities: Key Ideas and Practices”.

Pembicara dari Southern Cross University, Australia itu membuka wawasan tentang keterkaitan manusia dengan lingkungan alam.

Menyoroti kekuatan Humaniora Lingkungan, Ryan menjelaskan bagaimana disiplin ilmu ini menggabungkan seni, sastra, filsafat, sejarah, dan teologi untuk menyelidiki kompleksitas hubungan antara manusia dan lingkungan.

Pandangan ekologi yang cermat terhadap organisme dan habitat alaminya menjadi fokus utama, mengeksplorasi dampak perubahan ekologis oleh tangan manusia dan membangkitkan kesadaran akan tanggung jawab kolektif kita terhadap bumi.

Sementara, Dr. Fransiska Widiyawati, M.Hum mengulas tantangan keberagaman di Pendidikan Tinggi.

Dalam paparannya, “Navigating Diversity and Tolerance in Higher Education: Insights from East Nusa Tenggara Province,” Dr. Fransiska Widyawati, M.Hum, menggambarkan tantangan globalisasi dan kemajuan teknologi dalam konteks keberagaman.

Menyoroti kesulitan beberapa individu dan kelompok untuk menerima perbedaan, Dr. Widyawati menekankan peran strategis lembaga pendidikan dalam mengatasi masalah ini.

Pengelolaan keberagaman, promosi toleransi, dan integrasi nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran dan kurikulum menjadi kunci untuk menciptakan suasana kampus yang terbuka dan toleran.

Pembicara kunci ketiga yakni Bunmi Isaiah Omodon, Ph.D  mengulas keterampilan pembelajaran otonom di kelas yang sosial beragam.

Dalam makalahnya yang berjudul “Cultivating Autonomous Learning Skills In Socially Diverse Classrooms: Challenge and Solutions,” Bunmi Isaiah Omodon, Ph.D., menyoroti pentingnya keterampilan pembelajaran otonom di lingkungan kelas yang beragam sosial.

Beliau memberikan solusi konkret untuk mengatasi tantangan dalam menciptakan kelas yang mendukung pertumbuhan otonomi siswa, dengan menekankan peran guru dan pengembangan strategi pembelajaran yang memanfaatkan keberagaman sebagai aset.

Peserta konferensi merasa terkesan oleh beragamnya sudut pandang yang dibawa oleh para pembicara kunci, dan diskusi aktif pun memanifestasikan antusiasme mereka untuk menerapkan wawasan ini dalam konteks masing-masing.

Pada hari pertama ini juga, puluhan makalah dari sejumlah akademisi dan praktisi juga dipresentasikan.

Konferensi ini diharapkan akan melanjutkan momentum kolaboratif ini, membuka pintu untuk berbagai ide dan inovasi yang dapat mengatasi tantangan global di bidang pendidikan, humaniora, kesehatan, dan pertanian.

Penulis: Leo Jehatu

The 3rd ICEHHA Unika Ruteng Unika St. Paulus Ruteng
Previous ArticleSiswi SMAK Santu Stefanus Ketang Lolos Seleksi Olimpiade Bahasa Jerman Tingkat Nasional
Next Article Berdayakan Hasil Pertanian Jadi Alasan Syaiful Cendana Maju sebagai Caleg PKB Dapil NTT 7

Related Posts

SDK Lewe Gelar Perkemahan Pramuka Sambut HUT ke-65

13 Agustus 2026

Luncurkan 100 Tahun SDK Lungar, Siswa SD dan SMP Tampilkan Tarian Sae Tiba Meka

13 Agustus 2026

Peringati Hari Anak Nasional, Yayasan TKK Fransiskus Assisi Karot Perkuat Tata Kelola dan Mutu Pendidikan

28 Juli 2026
Terkini

Demokrat Peduli, BKH Pimpin Penyaluran Bantuan untuk Korban Gempa Flores

17 Agustus 2026

Dua Hari Pascagempa 7,7 M, Bupati Nagekeo Menghilang, Keberadaannya Jadi Tanda Tanya

17 Agustus 2026

NasDem Peduli, Tetap Membantu Meski Ikut Terdampak

16 Agustus 2026

158 Rumah di Kecamatan Welak Rusak Berat Akibat Gempa

15 Agustus 2026

Pengungsi Mandiri di Pesisir Utara Nagekeo Terlantar, Kekurangan Air dan Logistik

15 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.