Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Menghijaukan Akademi di Sekolah-Sekolah Fransiskan
Gagasan

Menghijaukan Akademi di Sekolah-Sekolah Fransiskan

By Redaksi8 Agustus 20259 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Cici AI)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM

Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Relevansi visi menghijaukan akademi di sekolah-sekolah Fransiskan di abad ke-21 sangat kuat karena selaras dengan semangat Santo Fransiskus dari Assisi yang menekankan kasih, kesederhanaan, dan persaudaraan dengan seluruh ciptaan.

Di tengah krisis iklim global, degradasi lingkungan, dan ketimpangan serta ketidakadilan sosial ekologis, visi menghijaukan akademi menawarkan pendekatan pendidikan yang menyeluruh: mengintegrasikan iman, keadilan sosial-ekologis, dan pembentukan karakter yang peduli terhadap bumi sebagai rumah kita bersama.

Sekolah Fransiskan dipanggil bukan hanya sebagai tempat mentransfer ilmu, tetapi juga sebagai komunitas profetik sosial ekologis yang menumbuhkan kesadaran ekologis, spiritualitas alam, dan tanggung jawab sosial dalam diri para murid.

Urgensinya terletak pada kebutuhan mendesak untuk membentuk generasi muda yang mampu menghadapi krisis planet dengan integritas moral dan keberanian spiritual.

Greening the Academy, seperti yang digagas oleh Richard Kahn, mendorong transformasi sistem pendidikan agar lebih kritis terhadap dampak kapitalisme, konsumerisme, dan budaya eksploitasi terhadap alam.

Sekolah Fransiskan, dengan warisan spiritualitas ekologis yang kuat, memiliki posisi strategis untuk menjadi pelopor perubahan budaya ini. Mengimplementasikan visi menghijaukan akademi berarti menjadikan pendidikan sebagai sarana penyembuhan bumi, penguatan solidaritas sosial, dan pewartaan nilai-nilai cinta kasih Injil dalam konteks dunia yang terluka.

Menghijaukan Akademi

Menurut Richard Kahn, dalam karya-karyanya seperti Critical Pedagogy, Ecoliteracy, & Planetary Crisis (2010), iman memainkan peran sentral dalam membentuk kesadaran ekologis yang mendalam.

Ia melihat spiritualitas bukan hanya sebagai urusan pribadi, tetapi sebagai kekuatan transformatif yang mampu membentuk etika kolektif dan gerakan sosial.

Dalam konteks krisis planet, iman perlu dikaitkan dengan tindakan nyata yang menyentuh kebijakan publik dan perubahan sistemik.

Oleh karena itu, pendidikan berbasis iman yang kritis dan ekologis menjadi strategi penting untuk membentuk warga yang mampu membaca realitas ekologis dengan lensa etika dan bertindak sebagai agen perubahan.

Kahn menekankan bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan alam, melainkan juga krisis sosial yang penuh ketidakadilan. Komunitas miskin dan terpinggirkan paling menderita akibat kerusakan ekologi, meskipun mereka bukan penyebab utama.

Maka, iman yang sejati harus berpihak pada keadilan sosial-ekologis dan mendorong lahirnya kebijakan publik yang berpihak pada bumi dan kaum lemah.

Kahn mengkritik kebijakan pendidikan dan pemerintahan yang masih antroposentris dan eksploitatif, dan mendorong umat beriman serta institusi keagamaan untuk turut serta dalam advokasi dan pembuatan kebijakan yang mendukung transisi energi bersih, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pemulihan ekosistem.

Konsep Greening the Academy yang dikembangkan Kahn adalah upaya untuk mentransformasi sistem pendidikan di sekolah dan kampus  agar tidak lagi terjebak dalam paradigma kapitalistik yang merusak lingkungan, tetapi menjadi ruang pembentukan etika ekologis dan praksis keadilan.

Dalam pendekatan ini, Sekolah, kampus dan institusi pendidikan harus menjadi pusat resistensi terhadap kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial, serta tempat di mana iman, ilmu, dan aksi ekologis bersatu.

Pendidikan harus mendorong keberanian moral, kesadaran kritis, dan solidaritas ekologis lintas iman. Dengan mengintegrasikan iman, kebijakan, dan keadilan dalam pendidikan, Greening Academy menjadi strategi untuk membentuk generasi yang mampu mencintai dan memperjuangkan bumi secara radikal dan bertanggung jawab.

Konsep “menghijaukan akademi” (greening the academy) yang dikemukakan oleh Richard Kahn dalam bukunya Greening the academy: Ecopedagogy Through the Liberal Arts(2012) bertujuan untuk mereformasi sistem pendidikan agar lebih selaras dengan keberlanjutan ekologis dan keadilan sosial.

Prinsip utama pertama adalah pendidikan ekologis yang transformatif, di mana Kahn menekankan perlunya pendidikan yang tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga mendorong kesadaran kritis terhadap krisis lingkungan.

Pendidikan harus membekali siswa dengan pemahaman mendalam tentang dampak aktivitas manusia terhadap planet ini dan menumbuhkan tanggung jawab etis terhadap alam.

Prinsip kedua adalah interdisiplinaritas dan keterhubungan, yang menekankan pentingnya melebur batas-batas antara disiplin ilmu untuk memahami dan menangani isu-isu lingkungan secara holistik.

Kahn berpendapat bahwa pendekatan akademis yang terkotak-kotak tidak cukup untuk merespons kompleksitas krisis ekologi global. Oleh karena itu, sekolah dan institusi pendidikan harus mengintegrasikan pengetahuan ilmiah, humaniora, dan pengalaman lokal dalam kurikulum mereka untuk menciptakan pemahaman yang utuh dan kontekstual.

Prinsip ketiga adalah aktivisme pendidikan dan keadilan sosial, yaitu mendorong peran aktif pendidik dan pelajar sebagai agen perubahan sosial. Menghijaukan akademi tidak hanya berarti memasukkan topik lingkungan ke dalam kurikulum, tetapi juga mengadvokasi perubahan sistemik dalam praktik pendidikan dan masyarakat secara luas.

Kahn menekankan pentingnya membangun solidaritas dengan gerakan lingkungan dan keadilan sosial, serta menciptakan ruang di sekolah untuk partisipasi demokratis, etika keberlanjutan, dan tindakan nyata dalam menghadapi krisis global.

Sekolah Fransiskan

Langkah-langkah konkret untuk mengimplementasikan Greening the Academy dari Richard Kahn di sekolah-sekolah Katolik yang menghayati spiritualitas Fransiskan.

Langkah pertama untuk mewujudkan Greening the Academy adalah menanamkan ekopedagogi dalam seluruh kurikulum sekolah.

Ekopedagogi, sebagaimana dikembangkan oleh Richard Kahn, adalah pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan kesadaran ekologis, keadilan sosial, dan transformasi budaya dalam proses belajar-mengajar.

Sekolah Katolik yang berspiritualitas Fransiskan, yang menekankan cinta terhadap ciptaan dan hidup sederhana, sangat cocok untuk mengadopsi pendekatan ini.

Kurikulum dapat diintegrasikan dengan topik-topik seperti etika lingkungan, perubahan iklim, energi terbarukan, dan spiritualitas ekologis sebagai bagian dari pelajaran agama, sains, dan ilmu sosial.

Langkah konkret berikutnya adalah merancang dan mengelola lingkungan fisik sekolah agar mencerminkan nilai-nilai ekologis Fransiskan.

Sekolah dapat memulai dengan pemasangan panel surya, pengelolaan limbah organik, penggunaan air hujan, dan penghijauan lingkungan sekolah. Misalnya, membangun taman doa atau eco-labyrinth dengan tanaman lokal dapat menjadi tempat refleksi yang menggabungkan alam dan spiritualitas.

Dengan demikian, lingkungan sekolah menjadi sarana pembelajaran ekologis yang hidup dan tempat membangun relasi harmoni dengan alam sebagaimana dicontohkan oleh Santo Fransiskus dari Assisi.

Guru perlu dibekali formasi khusus untuk menjadi agen perubahan dalam semangat Greening the Academy.

Pelatihan dapat mencakup studi tentang Laudato Si’, ajaran sosial Gereja, serta prinsip-prinsip pendidikan kritis dan ekopedagogi dari tokoh seperti Richard Kahn dan Paulo Freire. Guru diajak untuk tidak hanya mengajarkan pengetahuan ekologis, tetapi juga memfasilitasi transformasi batin dan spiritual siswa terhadap alam.

Dalam konteks Fransiskan, guru dipanggil menjadi teladan hidup sederhana dan pemelihara ciptaan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah Fransiskan dapat mengimplementasikan Greening the Academy melalui integrasi nilai ekologis dalam liturgi dan kegiatan spiritual. Misa Hari Ciptaan, doa lingkungan, atau retret ekospiritual dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap alam.

Doa-doa Santo Fransiskus, seperti Kidung Makhluk, bisa menjadi bagian dari praktik harian yang mengajak siswa memuji Tuhan melalui alam. Liturgi yang menggunakan simbol dan bahan-bahan ramah lingkungan juga menjadi bentuk kesaksian iman ekologis yang konkret dan mendalam.

Sebagai bagian dari formasi karakter, siswa didorong untuk terlibat dalam proyek-proyek nyata yang menggabungkan kepedulian sosial dan ekologis. Misalnya, mereka dapat mengembangkan kebun sekolah organik, proyek energi terbarukan skala kecil, bank sampah, atau kampanye hemat energi.

Aksi-aksi ini tidak hanya mendidik keterampilan praktis, tetapi juga membangun solidaritas ekologis dengan komunitas sekitar. Dalam semangat Fransiskan, aksi ini menjadi bentuk kasih terhadap sesama makhluk Tuhan, terutama yang miskin dan terdampak krisis lingkungan.

Sekolah tidak berjalan sendiri. Maka, membangun kerja sama dengan lembaga lingkungan hidup, komunitas Fransiskan, paroki, dan LSM ekologis akan memperluas jangkauan program Greening the Academy.

Kegiatan seperti pelatihan bersama, seminar terbuka, atau kerja bakti lingkungan lintas lembaga menjadi bagian dari membangun gerakan ekologi yang kolektif dan transformatif.

Ini mencerminkan semangat komunitarian Fransiskan yang terbuka terhadap kerja sama untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan ekologis.

Agar inisiatif Greening the Academy terus berkembang, sekolah perlu melakukan evaluasi berkala atas program-programnya. Evaluasi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga spiritual dan pedagogis: apakah siswa semakin peka terhadap lingkungan? Apakah komunitas sekolah menunjukkan gaya hidup yang lebih sederhana dan berkelanjutan? Apakah nilai-nilai Fransiskan hidup dalam keseharian mereka?

Hasil evaluasi menjadi dasar untuk merancang langkah-langkah pengembangan yang berkelanjutan, sehingga visi Greening the Academy menjadi bagian integral dari identitas dan misi sekolah Katolik Fransiskan.

Berdampak Nyata

Menghijaukan akademi di sekolah Fransiskan membawa dampak konkret yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan sekolah, baik secara spiritual, ekologis, maupun sosial. Sebagai lembaga pendidikan yang berakar pada spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi, santo pelindung lingkungan sekolah Fransiskan memiliki landasan teologis yang kuat untuk mengintegrasikan nilai-nilai ekologis ke dalam pendidikan.

Dampak pertama yang terlihat adalah perubahan orientasi kurikulum, di mana pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada pencapaian akademis semata, tetapi juga pada pembentukan karakter yang mencintai ciptaan dan menghormati kehidupan dalam segala bentuknya.

Pendidikan lingkungan menjadi bagian integral dari pelajaran agama, IPAS, bahkan seni dan budaya.

Dampak kedua adalah penerapan gaya hidup ekologis di lingkungan sekolah, yang tampak melalui kebijakan dan kebiasaan harian warga sekolah. Sekolah Fransiskan yang menghijau biasanya menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam operasionalnya.

Pengurangan sampah plastik, pengelolaan limbah organik, penggunaan energi terbarukan (seperti panel surya), dan konservasi air menjadi praktik nyata sehari-hari. Siswa juga diajak untuk menanam pohon, merawat taman, atau mengelola kebun sekolah, yang bukan hanya sebagai aktivitas fisik, tapi juga bentuk konkret pembelajaran ekologis kontekstual.

Dampak ketiga adalah pembentukan budaya spiritualitas ekologis, di mana dimensi iman dan kepedulian terhadap lingkungan berjalan beriringan. Dalam tradisi Fransiskan, seluruh ciptaan dipandang sebagai saudara dan saudari.

Oleh karena itu, kegiatan liturgi, doa, dan retret pun seringkali mengangkat tema alam dan keberlanjutan. Misa ekologis, doa rosario alam, atau retret di tempat alami menjadi sarana kontemplatif yang membentuk kesadaran ekologis yang bersumber dari iman. Hal ini memperkuat identitas sekolah Fransiskan sebagai komunitas yang hidup dalam harmoni dengan alam.

Selanjutnya, menghijaukan akademi juga membawa dampak dalam bentuk partisipasi aktif siswa dalam advokasi lingkungan dan keadilan sosial. Siswa dilibatkan dalam proyek-proyek sosial seperti kampanye kebersihan, gerakan hemat energi, penggalangan dana untuk komunitas terdampak bencana lingkungan, atau kolaborasi dengan LSM dan komunitas lokal.

Hal ini membentuk siswa menjadi pribadi yang tidak hanya peka terhadap lingkungan, tetapi juga peduli terhadap isu-isu kemiskinan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial  sesuai dengan semangat Fransiskan yang berpihak pada kaum miskin dan tersingkir.

Akhirnya, dampak jangka panjang dari menghijaukan akademi di sekolah Fransiskan adalah terbentuknya generasi pemimpin masa depan yang berwawasan ekologis dan berjiwa profetik. Lulusan sekolah Fransiskan yang terdidik dalam kerangka ekopedagogi akan memiliki cara pandang yang integratif antara iman, ilmu, dan tanggung jawab ekologis.

Mereka diharapkan mampu mengambil peran dalam masyarakat sebagai agen perubahan yang memperjuangkan keberlanjutan planet ini dan keadilan bagi seluruh makhluk hidup. Dengan demikian, menghijaukan akademi bukan hanya sebuah tren pendidikan, tetapi suatu proses transformatif yang menghidupkan kembali semangat Santo Fransiskus  dari Asisi dalam konteks krisis global saat ini.

Pater Vinsensius Darmin Mbula Vinsensius Darmin Mbula
Previous ArticleMakna Pribahasa ‘Kacang Lupa Kulitnya’ sebagai Metafora Tumbuhan
Next Article Ratusan Peserta Siap Ikut Kejuaraan Nasional Taekwondo Komodo Open Turnament II di Labuan Bajo

Related Posts

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Lagu MBG: Ketika Rakyat Berbicara lewat Nada

2 Juni 2026

Pancasila Sebagai Identitas Nasional: Menjaga Jiwa Indonesia di Tengah Arus Zaman

1 Juni 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.