Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»Diduga Gelapkan Surat Tanah 10 Hektare, JS Bakal Dilaporkan ke Polisi
HUKUM DAN KEAMANAN

Diduga Gelapkan Surat Tanah 10 Hektare, JS Bakal Dilaporkan ke Polisi

By Redaksi8 Oktober 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi laporan polisi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com – Seorang warga bernama Cecilia Anggi Man berencana melaporkan oknum berinisial JS ke pihak kepolisian atas dugaan penipuan dan penggelapan dokumen surat pelepasan hak (PH) tanah seluas 10 hektare yang terletak di Desa Kuanheum, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Menurut keterangan Cecilia Anggi Man kepada media ini, dokumen pelepasan hak tanah tersebut merupakan milik mendiang ibunya, Erna Meliantje Adulanu.

Ia menduga JS telah mengambil dan menahan dokumen itu sejak September 2025 tanpa ada kejelasan pembayaran.

“Pada Rabu, 24 September 2025 saya dan Perry (kakak kandung) bersama pak Soleman (kerabat alm. Mama) bertemu pak JS di toko Ex Angelina Bakery Oesapa untuk diskusi,” katanya.

Pada saat itu, JS menyatakan niatnya untuk membeli tanah seluas 10 hektare yang statusnya masih dalam bentuk pelepasan hak kepada almarhumah ibu mereka.

“Pada Kamis, 25 September 2025 tidak sengaja kami bertemu lagi di Pengadilan Negeri Kupang karena beliau ada urusan juga dan kami ada sidang gugatan paman,” beber Anggi.

Pertemuan selanjutnya terjadi pada Jumat, 26 September 2025, di toko milik JS untuk melanjutkan pembicaraan terkait rencana jual beli tanah tersebut.

“Pada Jumat malam hari yang sama beliau info supaya besoknya, Sabtu, 27 September 2025 untuk kami bawa asli surat PH,” ujarnya.

Anggi mengungkapkan, pada hari Sabtu, 27 September 2025, ia bersama iparnya dan kakaknya Perry membawa dokumen asli PH dan dokumen jual beli sebelumnya.

Mereka menyerahkannya kepada JS atas dasar kepercayaan bahwa akan segera dilakukan pembayaran uang muka (deposit).

“Esoknya, Sabtu, 27 September tahun 2025 saya, ipar dan Perry membawa PH asli dan surat jual beli asli dari pemilik sebelumnya, janji pak Yoseph mau dibayar deposit tapi tidak ada. Namun PH asli dan surat pendukung asli dan kopian lainnya beliau minta ditinggalkan dan akan dibayar segera,” ungkap Anggi.

Namun, hingga saat ini, menurut Anggi, JS belum juga melakukan pembayaran sesuai kesepakatan awal dan masih menahan dokumen asli tersebut.

“Sampai saat ini beliau masih terus alasan belum bisa bayar, jadi kami minta kembali asli PH tapi beliau tidak kasih. Saya kasih waktu sampai Senin, tanggal 6 Oktober 2025 kalau belum ada pembayaran kami ambil kembali PH,” ujarnya.

Pihak keluarga pun kembali mendatangi kediaman JS pada Selasa, 7 Oktober 2025, namun tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.

“Ke sana dengan Pak Soleman tapi pak JS malah marah-marah dan surat asli PH serta dok pendukung lainnya masih ditahan oleh beliau,” katanya.

Karena merasa dirugikan dan tidak menemukan penyelesaian secara kekeluargaan, Anggi menyatakan akan menempuh jalur hukum.

Ia berencana membuat laporan polisi dengan dugaan penggelapan dokumen sebagaimana diatur dalam Pasal 372 KUHP.

“Karena orang tersebut telah memegang dokumen miliknya selaku ahli waris secara sah di awal (karena saya menyerahkan), tapi tidak mengembalikannya setelah diminta, dan berniat menguasai atau menyalahgunakan dokumen itu,” tegas Anggi.

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada JS telah dilakukan oleh media ini melalui sambungan telepon, namun yang bersangkutan enggan memberikan respons.

Penulis: Ronis Natom

Desa Kuanheum Kabupaten Kupang Kecamatan Amabi Oefeto
Previous ArticleTNI Dukung Penuh Upaya Penurunan Stunting hingga Penguatan Pelayanan Ibu dan Anak di Lamba Leda
Next Article Sejumlah Sekolah di Ruteng Kecewa, Layanan Makan Bergizi Gratis Dihentikan Tanpa Pemberitahuan Jelas

Related Posts

Polisi Tahan Calo Trip yang Gelapkan Rp244,2 Juta, 22 Wisatawan Tiongkok Terlantar di Labuan Bajo

14 Agustus 2026

Tiga Pria Diamankan Polisi Usai Bakar Burung Hantu Hidup-hidup di Manggarai Barat

12 Agustus 2026

Kejari Manggarai Pastikan Kasus Eks Kadis DP3AKB Diproses Sesuai Prosedur

3 Agustus 2026
Terkini

Polda Jawa Tengah Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Gempa di Lengor

24 Agustus 2026

Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan untuk 11.907 Korban Gempa Flores

24 Agustus 2026

Keluarga Jakob Nuwa Wea Salurkan Rp1 Miliar untuk Korban Gempa Nagekeo

23 Agustus 2026

PT GAG Nikel Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di Manggarai Barat

23 Agustus 2026

Sepekan Pascagempa, Armada Kemanusiaan BKH-Stevi Harman Tak Henti Mengirim Bantuan Susulan

23 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.