Kupang, VoxNTT.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mengembangkan program NTT Mart sebagai upaya memutus persoalan klasik ekonomi daerah, terutama lemahnya akses pasar bagi produk lokal.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena mengatakan NTT Mart menjadi bagian dari strategi besar pemerintah provinsi untuk memastikan produk pertanian, perikanan, hingga industri kreatif terserap pasar. Hal itu disampaikan saat siaran langsung Kompas TV di Gerai NTT Mart Palapa, Jumat, 27 Maret 2026.
“NTT Mart ini lahir dari pemikiran agar produk-produk NTT dari ladang sampai laut bisa langsung menuju pasar dengan baik. Kita ingin menciptakan pasar yang pasti dan jelas,” kata Melki.
Menurut dia, kepastian pasar mendorong pelaku UMKM dan IKM lebih berani berproduksi. Selama ini, banyak pelaku usaha stagnan akibat ketidakpastian distribusi dan penjualan.
“Sekarang mereka mulai berani produksi karena yakin ada pembelinya. Ini yang kita bangun kepercayaan pasar,” ujarnya.
Selain memperluas pasar, NTT Mart juga diarahkan untuk membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi lokal dari tingkat desa hingga kota.
“Ini bagian dari upaya kita membangun ekonomi lokal. Masyarakat desa sampai kota harus punya ruang untuk jadi pelaku usaha,” katanya.
Melki menyebut dampak program mulai terlihat dari peningkatan aktivitas ekonomi. Jumlah pengunjung dan transaksi di NTT Mart meningkat hampir dua kali lipat sejak diluncurkan pada Agustus 2025.
Kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah juga mulai terbentuk. Di sektor pengolahan produk lokal, terjadi peningkatan lebih dari 20 persen sepanjang tahun lalu.
“Pertumbuhan ekonomi NTT naik dari 3,87 persen pada 2024 menjadi 5,14 persen di 2025. Ini menunjukkan arah kebijakan kita mulai berdampak,” ujarnya.
Untuk menjaga kualitas, pemerintah menerapkan proses kurasi sebelum produk masuk ke NTT Mart. Produk kuliner wajib lolos uji kesehatan, sementara produk lain seperti kosmetik harus memenuhi standar Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Produk wastra dan fesyen juga harus melalui verifikasi dinas terkait di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.
“Semua produk yang masuk ke sini sudah melalui proses seleksi. Kita ingin jaga kualitas agar bisa bersaing,” kata Melki.
Pemerintah juga menggandeng sektor perbankan, termasuk Bank NTT dan penyalur Kredit Usaha Rakyat, untuk memperkuat akses pembiayaan bagi pelaku usaha.
NTT Mart dikembangkan melalui tiga pendekatan, yakni One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP).
“Tiga kaki ini memastikan produksi tidak berhenti, tapi tumbuh dari desa, sekolah, sampai komunitas,” jelas Melki.
Ia mengatakan sejumlah kampus mulai terlibat dalam pengembangan produk, memperluas ekosistem berbasis pengetahuan.
Selain sebagai pusat distribusi, NTT Mart juga diarahkan menjadi pusat oleh-oleh terpadu yang menampilkan identitas daerah, mulai dari kuliner khas hingga kain tenun dan fesyen.
“Kalau orang datang ke Kupang dan mau cari oleh-oleh khas NTT, tempatnya di sini. Semua kita kumpulkan dalam satu tempat,” kata Melki.
Ke depan, pemerintah menyiapkan penguatan sistem melalui platform e-commerce serta ekspansi ke daerah dengan konsentrasi diaspora NTT, seperti Bali, Jakarta, Surabaya, Batam, Kalimantan, hingga luar negeri.
“Kita siapkan dulu fondasi di NTT, baru kita ekspansi ke luar. Permintaan dari diaspora sudah ada,” ujarnya.
Meski demikian, Melki mengakui NTT Mart masih membutuhkan perbaikan, terutama dalam standar pelayanan dan tata kelola ritel modern.
“Kita belum seperti toko-toko besar yang sudah puluhan tahun. Tapi kita sedang menuju ke sana,” katanya.
Ia menegaskan, fokus utama saat ini adalah memperkuat fondasi ekonomi melalui peningkatan produksi dan kepastian pasar.
“Kita ingin ubah pola dari konsumtif menjadi produktif. NTT Mart ini alatnya,” ujar Melki.
Penulis: Ronis Natom

