Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Matinya Pertanyaan: Membunuh Seribu Jawaban
Gagasan

Matinya Pertanyaan: Membunuh Seribu Jawaban

By Redaksi30 Maret 20265 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Yosef Valdo Leso

Mahasiswa IFTK Ledalero

“Matinya sebuah pertanyaan: membunuh seribu jawaban.” Kutipan ini mengingatkan kita bahwa pertanyaan bukan sekadar kata tanya; ia adalah nyawa dari nalar dan kesadaran manusia.

Ketika pertanyaan mati, jawaban yang muncul hanya menjadi gema kosong tanpa arah, tanpa konteks, dan tanpa makna.

Dalam sejarah filsafat, pertanyaan adalah titik awal dari segala pengetahuan. Thales, misalnya, menanyakan Arche asal segala sesuatu. Anaximander mengembangkan konsep apeiron, prinsip tak terbatas yang menjadi dasar segala realitas.

Pythagoras menelusuri dunia melalui angka dan harmoni, sedangkan Aristoteles menegaskan logika sebagai alat untuk memahami sebab-akibat dan mencapai kehidupan yang bermakna.

Pertanyaan adalah kunci untuk membuka rahasia dunia, sekaligus jendela untuk memahami diri sendiri.

Namun kini, di tengah kehidupan dewasa modern, kita menghadapi fenomena yang ironis: hilangnya keberanian untuk bertanya. “Malu bertanya sesat di jalan. Malu meminta mati kelaparan.”

Kini pepatah ini terasa tragis. Banyak orang dewasa memilih diam, bukan karena mereka tahu segalanya, tetapi karena takut salah, takut disalahkan, takut tersingkir dari arus mayoritas.

Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan, tentang kebenaran, dan bahkan tentang diri sendiri, mati perlahan.

Salah satu pertanyaan paling sederhana, namun paling fundamental, yang sering hilang adalah: “How am I?” Bagaimana aku? Di era modern, pertanyaan ini jarang muncul, karena manusia dewasa lebih banyak menyibukkan diri dengan layar smartphone, media sosial, dan informasi tanpa henti.

Scroll layar menjadi pengganti refleksi, swipe menjadi pengganti pertanyaan, dan notifikasi menggantikan keheningan batin.

Alih-alih merenungkan kondisi diri, banyak yang tenggelam dalam arus informasi yang tak pernah habis, di mana setiap jawaban instan menggantikan proses bertanya dan berpikir kritis.

Fenomena ini bukan hanya soal kebiasaan digital. Ini adalah simbol dari hilangnya nalar kritis terhadap kekuasaan. Ketika pertanyaan “How am I?” pun tidak muncul, pertanyaan tentang legitimasi, moralitas, atau dampak kebijakan publik semakin jarang diajukan.

Pemerintah, lembaga, dan sistem yang melegitimasi hampir segala hal berjalan tanpa hambatan, karena publik yang seharusnya menjadi penjaga nalar justru mengalihkan perhatiannya pada layar, hiburan, dan opini populer.

Kekuasaan yang seharusnya diuji dan dipertanyakan, diterima begitu saja, bahkan dibenarkan melalui logika kolektif yang rapuh.

Padahal, filsuf klasik menekankan bahwa pertanyaan adalah jalan menuju pemahaman dan kebenaran.

Thales menanyakan dasar dari segala yang ada, bukan sekadar karena ingin tahu, tetapi untuk memahami dunia secara rasional.

Anaximander tidak puas dengan jawaban sederhana; ia menuntut abstraksi dan logika. Pythagoras percaya bahwa realitas bisa dijelaskan melalui struktur yang rasional dan harmonis.

Aristoteles menegaskan bahwa manusia dewasa harus menggunakan logika untuk mencapai eudaimonia, kehidupan yang bermakna dan baik. Dalam konteks ini, pertanyaan bukan hanya soal pengetahuan, tapi soal kebebasan berpikir dan integritas moral.

Sekarang, bayangkan masyarakat dewasa yang lebih memilih scroll layar daripada bertanya. Tiap swipe menggantikan pertanyaan reflektif, tiap feed yang terus bergulir menghapus ruang untuk introspeksi.

Hilangnya pertanyaan “How am I?” tidak hanya membuat individu kehilangan kesadaran diri, tetapi juga membuat masyarakat kehilangan kemampuan menilai, mengkritisi, dan menahan diri dari manipulasi kekuasaan.

Ambiguitas berpikir menjadi norma; opini mayoritas menggantikan logika; narasi dominan menggantikan nalar.

Krisis ini adalah kebalikan dari semangat filsuf klasik. Jika Thales berani bertanya tentang asal segala sesuatu, kita sekarang menghadapi krisis di mana pertanyaan mendasar tentang legitimasi kekuasaan dan moralitas dianggap terlalu berisiko atau tidak penting.

Hilangnya nalar kritis ini membuat kekuasaan dapat melegitimasi segala lini sistem—dari kebijakan publik hingga norma sosial—tanpa tantangan berarti.

Ketidakmampuan untuk bertanya adalah simbol kematian nalar publik, yang berakibat pada hilangnya kontrol terhadap kekuasaan, menurunnya kualitas demokrasi, dan rapuhnya kehidupan moral masyarakat.

Lebih dari itu, hilangnya pertanyaan juga berarti hilangnya kemampuan introspeksi. Dewasa modern cenderung menilai dunia dan dirinya melalui refleksi digital: like, comment, dan share.

Ini adalah bentuk pengganti pertanyaan eksistensial yang dulu menjadi inti filsafat: “Who am I?”, “How am I?”, “Why do I live this way?” Ketika pertanyaan ini mati, seribu jawaban yang muncul baik di media sosial maupun di ruang publik menjadi kosong dan tanpa makna. Mereka tidak menuntun pada pemahaman, melainkan memperkuat ilusi pengetahuan dan keamanan palsu.

Filsuf klasik mengajarkan kita bahwa pertanyaan adalah alat untuk menemukan prinsip, untuk membedakan yang benar dan yang semu, untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Tanpa pertanyaan, seribu jawaban pun tidak berarti.

Dunia modern membutuhkan keberanian untuk bertanya, untuk mempertanyakan segala hal yang diterima begitu saja, dan untuk menegakkan nalar kritis yang menjaga integritas manusia dan masyarakat.

Hanya dengan pertanyaan yang hidup, manusia dewasa bisa menolak manipulasi, memahami dirinya sendiri, dan menegakkan kebenaran moral di tengah kompleksitas zaman.

Akhirnya, “matinya pertanyaan” adalah kematian perlahan dari roh nalar manusia, yang menandai hilangnya keberanian untuk menegakkan kebenaran, mempertanyakan kekuasaan, dan menemukan arti kehidupan sendiri. Scroll layar mungkin memberikan hiburan sesaat, tetapi ia tidak dapat menggantikan refleksi, pertanyaan, dan nalar yang sejati.

Sebagaimana Thales dan Aristoteles menekankan, pertanyaan adalah jalan menuju pencerahan; tanpa itu, kita tersesat dalam arus informasi yang tak berbatas, kehilangan diri sendiri, dan menjadi saksi pasif dari legitimasi absolut kekuasaan.

“Matinya pertanyaan bukan sekadar sunyi kata tanya; ia adalah kematian roh nalar yang menandai hilangnya keberanian manusia untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Dan ketika manusia dewasa berhenti bertanya, ia menyerahkan dirinya pada layar, opini populer, dan kekuasaan yang tak terbantahkan.”

Yosef Valdo Leso
Previous ArticlePemkot Kupang Siapkan Perbaikan Jalan, Pengerjaan Dimulai Pertengahan April
Next Article PMKRI Ruteng Desak Polisi Ungkap Kasus Kematian Restina Tija

Related Posts

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Lagu MBG: Ketika Rakyat Berbicara lewat Nada

2 Juni 2026

Pancasila Sebagai Identitas Nasional: Menjaga Jiwa Indonesia di Tengah Arus Zaman

1 Juni 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.