Labuan Bajo, VoxNTT.com – Kampung Ranggu, Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi lokasi kunjungan Kapolsek Kuwus IPTU Arsilinus Lentar pada Senin pagi, 30 Maret 2026.
Kunjungan yang berlangsung sekitar pukul 09.00 Wita itu menyasar rumah-rumah warga yang kini beralih menjadi pengrajin gula merah setelah sebelumnya memproduksi minuman keras tradisional jenis sopi.
Dalam patroli sambang tersebut, Arsilinus didampingi staf Pemerintah Desa Ranggu, Patris, serta tokoh pendidik setempat, Sabinus. Kunjungan itu difokuskan pada pemberian dukungan moral sekaligus penguatan kesadaran warga yang meninggalkan produksi miras.
Di hadapan para pengrajin, Arsilinus menyampaikan apresiasi atas perubahan pilihan usaha warga.
Menurut dia, keputusan beralih dari produksi sopi ke gula merah merupakan langkah konkret yang berdampak pada keamanan dan ketertiban masyarakat.
”Kami sangat berterima kasih dan menaruh hormat kepada Bapak-Bapak sekalian. Keputusan untuk beralih dari pengrajin Sopi menjadi pembuat gula merah adalah kontribusi nyata bagi keamanan wilayah kita,” ujar Arsilinus kepada VoxNtt.com, Senin.
Ia mengatakan, langkah tersebut sejalan dengan arahan Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko dan Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang dalam mengedukasi masyarakat tentang dampak negatif minuman keras.
Sesuai arahan Kapolda NTT dan Kapolres Manggarai Barat, ia ingin masyarakat paham bahwa Sopi bukan sekadar minuman, tapi pemicu berbagai masalah sosial. Mulai dari perkelahian, penganiayaan, hingga kekerasan dalam rumah tangga yang merusak keharmonisan keluarga.
Selain dampak sosial, Arsilinus juga menyoroti risiko miras terhadap keselamatan berlalu lintas. Ia menyebut konsumsi alkohol menurunkan kesadaran dan kemampuan visual, yang kerap berujung kecelakaan fatal.
”Minuman keras menjadi penyebab utama tingginya angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Manggarai Barat,” sebut dia.
Dalam kesempatan itu, ia turut mendorong penguatan ekonomi warga melalui peningkatan produksi gula merah, yang dinilai memiliki prospek pasar lebih baik.
“Jangan ragu untuk memproduksi lebih banyak. Permintaan pasar saat ini sedang meningkat pesat. Gula merah adalah produk yang sehat dan dibutuhkan semua orang.”
“Kami akan terus mendukung usaha positif seperti ini agar ekonomi warga semakin kuat tanpa harus bersentuhan dengan miras,” tegasnya.
Dukungan tersebut disambut positif oleh warga. Salah satu pengusaha gula merah, Saverinus Hapong, mengaku terbantu dengan pendampingan yang dilakukan kepolisian.
”Terima kasih banyak kepada Bapak Kapolsek dan anggota. Selama ini Polri sering datang ke tempat kami, memberikan imbauan dan membuka mata kami tentang untung-ruginya menjadi pengrajin Sopi. Sekarang kami merasa lebih tenang dan bangga karena usaha kami tidak lagi memicu masalah bagi orang lain,” ungkap Saverinus dengan nada syukur.
Kunjungan ini menunjukkan upaya preventif kepolisian dalam menekan dampak sosial miras sekaligus mendorong transformasi ekonomi masyarakat di tingkat desa.
Penulis: Isno Baco

