Borong, VoxNTT.com – Blasius Pati (68), warga Kampung Bete, RT Kopalando, Desa Rana Kolong, Kabupaten Manggarai Timur, masih mendiami gubuk sederhana.
Gubuk sederhana berdinding pelepuh bambu itu jadi hunian bagi ia dan isteri serta tiga anaknya.
Hendrikus Gabu, salah satu pegiat sosial yang sudah mengunjungi keluarga itu, menuturkan, keluarga Blasius tinggal di gubuk sederhana berukuran 4 kali 5 meter. Di dalamnya ada satu kamar tidur.
Ironinya, mereka semua tidur di kamar hanya beralaskan tikar yang sudah lusuh dan robek.
“Mereka hanya tidur beralaskan tikar tanpa ada kasur. Sedih lihatnya, ” tutur Hendrikus, kepada VoxNtt.com, Rabu, 22 April 2026.
Di usia yang sudah senja, Blasius tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sebagai petani serabutan.
Mereka memiliki kebun. Di kebun itu ada tanaman kopi dan beberapa pohon alpukat. Hasil kebun itu acapkali dijual di Pasar Wae Lengga untuk mendapatkan uang.
Selain itu, keluarga Blasius Pati juga menanam padi ladang. Hasil panen biasanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga selama tiga hingga empat bulan.
“Waktu masih sehat bapak Blasius biasa jual kayu api. Tapi sekarang, sudah tidak bisa lagi,” ungkap dia.
Ia menyebut, keluarga Blasius Pati telah menerima beberapa bantuan dari pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Sembako, dan meteran listrik.
Menurut Hendrikus, keluarga Blasius butuh perhatian dari pemerintah dan orang-orang baik agar bisa membangun rumah yang layak huni.
“Itu mimpi mereka,” imbuh dia.
Kepala Dinas Sosial Manggarai Timur, Maria A Yarini Gagu, mengatakan keluarga Blasius Pati sudah ter-cover dalam Bantuan Sosial (Bansos) dan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBD Manggarai Timur.
“Keluarga ini penerima manfaat PKH, Sembako dan peserta PBI JK ( BPJS) aktif,” kata Maria saat dikonfirmasi, Kamis.
Sementara itu, Kepala Desa Rana Kolong, Yansen Ngambut, mengatakan pihaknya sudah mengirim data ke dinas PUPR untuk pembangunan rumah layak huni 2026.
“Kita sudah kirim data ke PUPR untuk pembangunan rumah layak huni 2026, tetapi ada kendala suami istri tidak ada KTP asli hanya foto kopi. Kita tetap berjuang,” kata Yansen saat dikonfirmasi, Kamis siang.
Ia menjelaskan, untuk anggaran renovasi yang dari Desa tahun sebelumnya, keluarga Blasius tidak dapat karena masih prioritas yang usulan tahun sebelumnya.
“Keluarga beliau kita bantu meteran listrik,” jelas dia.
Ia melanjutkan, untuk bantuan renovasi rumah harus ada kesanggupan dari pemilik rumah untuk tambahanya.
“Ya untuk tahun kita prioritas ke keluarga Bapak Blasius. Tahun 2026 ini semoga rumah Bapa Blasius bisa dibangun,” imbuh dia.
Kontributor: Nansi Taris

