Dalam perspektif ekologis, hidup itu berarti menjadi seperti alam dan objeknya yang menerima secara cuma-cuma dan memberi secara gratis untuk menghidupkan yang lain. Kita mengambil fungsi alam dan objek-objeknya sebagai contoh dan teladan yang bersifat langsung atau metafor lalu diubah (ditransformasi dan ditransubstansikan), sehingga kita menjadi makanan, minuman, altar persembahan, menjadi jalan dan pintu untuk mengambil dan memberi makanan dan minuman itu demi hidup.
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
(Minggu Paskah IV Tahun A; 26 April 2026; Kis 21:14a.36-41; Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; R:1; 1 Ptr 2:20b-25; Yoh 10:1-10)
1
Kita memasuki minggu IV Paskah. Pola dan alur ceritera bacaan pada masa paskah ini adalah (1) Yesus yang tidak bersalah menderita sengsara, disalibkan, wafat, dan bangkit kembali; (2) Para rasul menjadi utusan dan saksi dari semua itu: dengan kekuatan Roh Kudus, mereka yang sebelumnya takut semakin berani mewartakan Yesus Kristus; (3) banyak orang yang bertobat, dibaptis dalam nama Yesus Kristus, sehingga jumlah mereka semakin bertambah; (4) banyak orang yang tidak senang dengan pewartaan mereka, menghalangi, dan melakukan kekerasan namun mereka tetap berani; (5) penganiayaan menjadi berkat terselubung bagi mereka: mereka semakin tersebar, karena menghindari kekerasan sekaligus kehendak untuk wartakan Injil.
2
Pada bacaan pertama (Kis 21:14a.36-41), saat pentekosta Petrus yang dipenuhi Roh Kudus berbicara tentang Yesus yang mati disalibkan tetapi dibangkitkan Allah. Perlu beriman kepadaNya supaya selamat. Selamat berarti dosa diampuni, diselamatkan dari kejahatan dan angkatan jahat, dan diberi kasih karunia Roh Kudus. Jalan untuk itu adalah pembaptisan.
3
Dalam bacaan kedua (1 Ptr 2:20b-25), Petrus berbicara tentang menderita karena kebaikan sebagai sebuah kasih karunia. Karena Kristus telah menderita demi keselamatan. Hal itu menjadi teladan dan jejak bagi kita agar kita mati terhadap kekuatan dosa. Dan memperoleh hidup yang sesungguhnya.
4
Dalam bacaan Injil (Yoh 10:1-10), Yesus berbicara tentang kandang domba, domba, pintu kandang, gembala, dan perampok. Ketika berbicara tentang domba, sebenarnya, Yesus sedang berbicara tentang kehidupan sosial, politik, ekonomis, budaya, dan ekologis. Domba dan penggembalaanya menyentuh semua aspek dan bidang kehidupan manusia. Ia mempekenalkan diriNya sebagai pintu: tempat gembala dan domba saling bertemu, dan keluar-masuk kandang. Perampok memanjat karena dia tidak mempunyai kunci pintu. Kandang dan padang rumput serta air adalah gambaran tentang pergerakan dan jalan hidup. Hidup adalah ziarah antara kandang, padang rumput, dan air. Yesus adalah jalan dan gembala dalam ziarah itu.
5
Apa pesan bacaan hari ini untuk kita. Para rasul seturut teladan Sang Guru memberi makna baru terhadap pertanyaan apa makna hidup sesungguhnya? Apa akar kehidupan? Bagaimana mengatasi hidup yang singkat dan sementara ini yang rentan dan rapuh? Bagaimana memperoleh hidup abadi dan kekal setelah kematian yang digambarkan oleh kandang, domba, pintu, padang, salib, dan air baptis?
3
Pertama, hidup dalam roh yang datang dari Roh Tuhan sendiri. Roh manusiawi kita adalah pintu utama bagi kita untuk menyadari, mengetahui, dan mengenal hidup dalam arti yang factual dan actual, mengenal Roh Tuhan dalam diri kita. Ketika kita sampai pada roh manusiawi dan Roh Tuhan, maka kita melihat akar, sumber, dan dasar hidup. Kita melihat jaringan dan jalan Roh Tuhan dan sifat-sifatnya. Jaringan Roh Tuhan adalah benar, baik, dan indah. Sifat roh dan Roh adalah lemah lembut, halus, kecil, sederhana, jujur, lurus, suci, adil, tidak nampak. Inilah inti hidup Yesus dan para rasul. Mereka sampai pada tahap ini. Dari mana semua jaringan dan sifat ini? Kita lihat poin kedua.
4
Kedua, hidup dalam Roh itu memasuki sebuah dimensi atau realitas yang merangkum, merajut, mencakup, menghubungkan, mengharmoniskan dan mempersatukan semua. Ia sangat dalam sekaligus sangat dangkal, sangat luas sekaligus yang paling sempit, sangat besar sekaligus yang sangat kecil, sangat tinggi sekaligus yang sangat rendah, sangat jauh sekaligus sangat dekat, sangat panjang sekaligus sangat pendek, sangat kuat sekaligus sangat lemah, sangat tembus pandang sekaligus yang menutup, sangat berkuasa sekaligus yang bisa diperintah, sangat ringan sekaligus sangat berat, yang menjadi pusat sekaligus pinggiran, melampaui ruang dan waktu sekaligus ada dalam ruang waktu dan menjadi sumber nyata ruang dan waktu. Inilah hidup kekal yang diwartakan Yesus dan para muridNya.
5
Ketiga, yang mengalir dari cara hidup roh dan Roh seperti adalah kebajikan ilahi/teologal dan kebajikan manusiawi. Kebajikan ilahi adalah iman, harapan, dan kasih. Kebajikan manusiawi adalah kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri. Semua hal ini menyebabkan kita ini jika dilakukan dengan sungguh akan menyebabkan kita telanjang sekaligus juga menemukan diri kita sejati sebagai gambar dan rupa Allah. Dari poin 1, 2, dan 3 ini kita akan melihat umur kita di dunia ini, apa yang kita miliki, kemampuan akademis, ekonomis, kultural, sosial, etis, spiritual kita, begitu juga kesengsaraan, pengurbanan kita, kematian kita demi kelanjutan hidup, demi hidup lebih besar yang menjangkau lebih banyak orang sebagai titik kecil, sementara, rapuh, dalam seluruh lautan kehidupan kekal. Inilah sumber keberanian Yesus dan para muridNya yang tidak takut. Namun kita harus bertanggung jawab dengan berpatokan pada Sabda Yesus: Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.
6
Keempat, karena itu secara pribadi, hidup dalam Roh berarti menghindari atau menolak segala macam bentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara berkehendak, cara berkeinginan untuk memiliki dan terikat secara berlebihan dan tidak seimbang oleh kuasa, harta, seks, popularitas, dan legasi hidup. Semua hal ini sering menjadikan kita sebagai titik pusat, episentrum yang menjadikan yang lain dan apa yang mereka miliki sebagai batu pijakan, modal, tangga, pintu, makanan dan minuman yang membuat saya besar, tinggi, kuat, punya daya tawar, dst. Atau menjadi ancaman, hambatan, rintangan yang harus disingkirkan. Di sini muncullah konflik, perang, kekerasan, manipulasi, kemunafikan, eksploitasi, komplotan jahat, jaringan jahat, pembunuhan, dan semua kejahatan lainnya. Inilah realitas dosa yang terlihat dalam seluruh polemic dan konflik Yesus dan para muridNya dengan semua lawan mereka. Ini menjadi nyata dalam kesengsaraan, wafat, salib, dan kematian Yesus. Hal ini dinyatakan dalam bacaan kedua tadi. Ini semua karya iblis yang dikatakan Yesus dan para muridNya. Mati dalam kesadaran akan akar, sumber, dan dasar hidup berarti mati bagi dosa seperti kata bacaan kedua. Artinya pemurnian diri. Dengan itu kita menjadi gembala kehidupan dan menjadi domba yang kembali kepada hidup yang benar seperti dinyatakan dalam bacaan kedua dan Injil.
7
Kelima, kebangkitan dan hidup selalu bersifat eko-spiritual. Bacaan hari ini berbicara tentang salib, pembaptisan dengan air, kandang, domba, padang, rumput yang membawa kita kepada alam atau lingkungan hidup nyata. Kandang membawa kita kepada kayu, paku, batu, tali. Air membawa kita kepada hutan, pohon, gunung, hujan, awan; salib membawa kita kepada kayu, hutan; domba membawa kita kepada padang, rumput dan air. Sepanjang minggu yang telah lewat, Yesus memperkenalkan diriNya sebagai makanan dan minuman sesungguhnya lewat dan roti dan anggur. Artinya Dia dimakan dan diminum. Ia menjadi meja altar artinya dikotori dengan makanan dan minuman. Ia memperkenalkan diriNya sebagai jalan artinya dia diinjak oleh orang yang lewat. Yesus memperkenalkan diriNya sebagai pintu kandang domba: artinya Ia dilewati dan diinjak juga. Hidup itu berarti menerima secara cuma-cuma dan membagi serta memberi cuma-cuma tetapi dengan itu kita berada dalamnya dan mengalirkannya ke yang lain. Karena itu secara konkrit dalam perspektif ekologis, hidup itu berarti menjadi seperti alam dan objeknya yang menerima secara Cuma-Cuma dan memberi secara Cuma-Cuma untuk menghidupkan yang lain. Kita mengambil fungsi alam dan objek-objeknya sebagai contoh dan teladan yang bersifat langsung atau metafor lalu diubah (ditransformasi dan ditransubstansikan), sehingga kita menjadi makanan, minuman, altar persembahan, menjadi jalan dan pintu untuk mengambil dan memberi makanan dan minuman itu demi hidup.

