Oleh: Dr. Edi Hardum, S.H., M.H.
Hampir di semua negara ada intelektual. Tanpa intelektual negara bisa sewenang-wenang. Tanpa intelektual juga bisa terjadi mobokrasi, gerakan masyarakat yang merusak.
Julien Benda, pemikir berkembangsaan Prancis mengatakan, intelektul adalah orang yang pada dasarnya tidak mengejar tujuan-tujuan praktis.
Benda tidak mengharapkan seorang intelektual untuk menyepi dalam menara gading atau tidak terlibat dalam persoalan dan pergolakan masyarakatnya.
Inetelektual harus terlibat dalam menghadapi kekerasan, korupsi dan berbagai penyelewenangan yang dilakukan baik oleh penguasa maupun oleh masyarakat (Kleden 2024: 2).
Selain Benda, ada Antonio Gramsci yang merupakan filsuf dan kritikus politik berkembangsaan Italia.
Menurut Gramsci, pada dasarnya semua orang adalah intelektual karena semua mereka dikarunia akal budi, tetapi tidak semua orang menjalankan peran dan fungsi intelektual.
Ada pun mereka yang menjalankan peran fungsi intelektual, Gramsci membedakannya pada dua golongan yakni, golongan pertama adalah intelektual tradisional yaitu golongan yang menjalankan pekerjaan yang sama dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi tanpa mempersoalkan apa yang dilakukannya.
Mereka-mereka adalah para guru, administrator, atau para imam dan rohaniwan serta para pemimpin agama (baca Gramsci).
Golongan kedua adalah intelektual organik, yakni mereka yang terikat dan terafiliasi dengan kelas sosial tertentu dan dengan organisas-organisasi besar dalam ekonomi dan politik dan bertugas mengorganisasikan kepentingan kelas atau kepentingan organisasinya, berusaha mendapat kekuasaan yang lebih besar, sambil memantapkan pengaruh yang semakin meluas.
Menurut Gramsci yang termasuk dalam golongan ini adalah para teknisi dalam industri, konsultan bisnis dalam perusahaan besar, penasehat politik untuk penguasa politik, ahli strategi dan ahli persenjataan dalam militer, dan ahli periklanan dan specialis public relations.
Fungsi intelektual, kata dia, organik bukan menjadi masyarakat seperti apa adanya, tetapi mendorong perubahan dan kemajuan dengan memperkenalkan cara berpikir baru sambil menciptakan selera dan kebutuhan baru. Mereka ini tidak bekerja antarkelas tetapi terikat pada satu kelas sosial tertentu.
Selanjutnya, Edward Wadie Said, seorang akademisi, kritikus sastra, dan aktivis politik berdarah Palestina-Amerika Serikat.
Menurut Edward intelektual adalah seorang yang terpanggil untuk representasi (mewakili), yaitu mempresentasikan suatu posisi dan pandangan yang diartikulasikannya untuk suatu publik, entah dengan menulis, berbicara di radio atau televisi, mengajar di universitas atau membina kelompok-kelompok tersisih dalam masyarakatnya.
Tugas representasi itu mengandung komitmen dan risiko, menuntut keberanian dan kesediaan berkorban termasuk siap dipenjara oleh kekuasaan yang “mempropertikan” aparat penegakan hukum dan “menternakan” orang tidak sekolah dan sekolah tapi oportunis.
Kemudian sosiolog Indonesia, Ignas Kleden berpendapat, seorang intelektual bekerja dengan informasi dan pengetahuan, tetapi dia tidak menjadikan informasi dan pengetahuan sebagai tujuan kerjanya, melainkan sebagai sarana, sebagai jalan, sebagai fasilitas. Seorang ilmuwan mengubah kepercayaan dan nilai menjadi informasi dan pengetahuan.
Sementara seorang intelektual mengubah pengetahuan dan informasi menjadi nilai, komitmen politik, kenyakinan ideologis atau sikap moral.
Seorang ilmuwan membatasi kerjanya dalam disiplin dalam bidang keahliannya, sementara seorang intelektual menerobos disiplin keilmuannya, karena tujuan yang menggerakan dia bukanlah suatu arsitektur pengetahuan yang harus dibangunnya, melainkan suatu masalah publik yang harus dipikirkan dengan segera atau kepentingan publik yang harus diselamatkan atau dibela.
Kleden lebih menekan keberadaan intelektual untuk membela kepentingan publik, bukan justru berada pada kekuasaan yang menindas masyarakat, menipu masyarakat.
Sosiolog Arief Budiman menggolongan intelektual yang bernilai dan intelektual tukang. Intelektual bernilai, kata dia, adalah intelektual yang mengkritisi keadaan yang tidak beres dalam masyarakat, baik itu dilakukan oleh penguasa maupun oleh sekelompok orang.
Umumnya ketidakberesan, kata dia, dilakukan oleh penguasa, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Sementara intelektual tukang, kata dia, adalah orang-orang sekolah yang menjadi jurubicara atau membenarkan tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh penguasa. Intelektual tukang juga oleh adalah orang-orang sekolah yang pemikiran bisa dibeli untuk menggolkan tujuan-tujuan jahat kekuasaan.
Saya tambahkan, intelektual tukang adalah orang atau mereka yang dibayar untuk meng-counter pendapat intelektual sejati sebagaimana dijelaskan para pakar di atas. Mereka umumnya berpendapat legalistik-formal-sempit. Mereka sesungguhnya hama bangsa dan negara.

