Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Uskup Ruteng: Indonesia Tak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Krisis Hati Nurani
MAHASISWA

Uskup Ruteng: Indonesia Tak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Krisis Hati Nurani

By Redaksi19 Juli 20262 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Mgr. Siprianus saat memimpin Misa Pembukaan Kongres Nasional XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Gereja Katedral Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Minggu, 19 Juli 2026 (Foto: Dok. Panitia)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat menilai Indonesia tidak kekurangan orang pintar atau kaum intelektual, tetapi sedang menghadapi krisis hati nurani.

Menurut dia, tantangan terbesar bangsa saat ini adalah kelangkaan manusia yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat kecil dan kelompok tertindas.

Pandangan itu disampaikan Mgr. Siprianus saat memimpin Misa Pembukaan Kongres Nasional XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Gereja Katedral Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Minggu, 19 Juli 2026.

Baca Juga:  Pemkab Manggarai Pastikan Kesehatan Peserta MPA PMKRI

Dalam homilinya, Mgr. Siprianus mengajak para kader PMKRI merefleksikan arah pembangunan bangsa.

Menurut dia, persoalan mendasar bukan hanya model pembangunan yang dijalankan, tetapi juga kualitas manusia yang membangun Indonesia.

“Model pembangunan seperti apa yang sedang dan akan dijalankan di Indonesia. Namun, jauh di atas itu, ada pertanyaan yang lebih fundamental: siapa manusia yang membangun negeri ini?” tukas dia.

Mengacu pada perumpamaan gandum dan ilalang, Mgr. Siprianus mengatakan kehidupan merupakan realitas yang kompleks karena kebaikan dan kejahatan, serta kejujuran dan kecurangan, kerap tumbuh berdampingan.

Dari situ, ia mengingatkan bahwa tidak semua orang yang berbicara atas nama rakyat benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat, dan tidak semua yang menyerukan keadilan bertindak secara adil.

Ia kemudian mengajak kader PMKRI menentukan pilihan sikap sebagai agen perubahan.

“Kalian semua dipanggil untuk menjadi gandum, bukan menjadi lalang. Lalang itu lantang dalam slogan, tetapi kosong dalam pelaksanaan. Sebaliknya, jadilah gandum yang bertumbuh subur dan menghasilkan buah bagi sesama,” ujarnya secara analogis.

Mgr. Siprianus juga mengingatkan agar kader PMKRI tidak mudah menghakimi orang lain. Sebagai organisasi kader, PMKRI, kata dia, harus melahirkan pribadi yang matang secara intelektual maupun emosional serta mampu memperjuangkan keadilan tanpa menciptakan ketidakadilan baru.

“Kader yang matang adalah mereka yang selalu mampu melawan ketidakadilan. Namun ingat, jangan sampai cara-cara kita dalam melawan ketidakadilan justru berubah menjadi bentuk ketidakadilan yang baru. Perubahan yang sejati harus dimulai dari dalam diri,” pesannya.

Menjelang pelaksanaan kongres, Mgr. Siprianus juga mengajak peserta merenungkan kontribusi nyata yang dapat diberikan PMKRI bagi bangsa.

Ia mengibaratkan dinamika organisasi dan politik seperti permainan catur yang menuntut kecermatan dalam membaca situasi sebelum mengambil keputusan.

“Kongres ini harus berjalan seperti filosofi catur,” katanya.

Menurut dia, kader PMKRI harus mampu melihat situasi dan mempertimbangkan setiap langkah secara matang.

Ia menegaskan, fokus kongres bukan sekadar menentukan siapa yang menduduki jabatan struktural, melainkan merumuskan strategi untuk memperjuangkan keadilan secara bijaksana dan berkelanjutan. [VoN]

Manggarai Mgr. Siprianus Hormat PMKRI PMKRI Ruteng
Previous ArticleKompak Indonesia Desak KPK Audit Dugaan Korupsi Proyek RSUD Borong Rp19,4 Miliar
Next Article PMKRI Perkuat Komitmen Kawal Pembangunan dan Kebijakan Nasional

Related Posts

PMKRI Perkuat Komitmen Kawal Pembangunan dan Kebijakan Nasional

20 Juli 2026

Pemkab Manggarai Pastikan Kesehatan Peserta MPA PMKRI

18 Juli 2026

Keuskupan Ruteng Wanti-wanti Dampak Tambang Mangan PT SJA di Reok

4 Juli 2026
Terkini

PMKRI Perkuat Komitmen Kawal Pembangunan dan Kebijakan Nasional

20 Juli 2026

Uskup Ruteng: Indonesia Tak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Krisis Hati Nurani

19 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak KPK Audit Dugaan Korupsi Proyek RSUD Borong Rp19,4 Miliar

19 Juli 2026

Kerajaan dan Keadilan yang Dibangun dalam Roh vs Yang Dibangun dalam Nafsu

19 Juli 2026

Pemkab Manggarai Pastikan Kesehatan Peserta MPA PMKRI

18 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.