Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pojok Info»Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan untuk 11.907 Korban Gempa Flores
Pojok Info

Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan untuk 11.907 Korban Gempa Flores

By Redaksi24 Agustus 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng, Romo Martin Chen saat menemui korban gempa Flores (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Karitas Keuskupan Ruteng telah menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada 11.907 korban gempa bumi yang tersebar di 23 paroki di wilayah Keuskupan Ruteng, Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan data Karitas Keuskupan Ruteng, bantuan tersebut disalurkan hingga Minggu, 23 Agustus 2026, atau delapan hari setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Laut Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Gempa tersebut berdampak besar terhadap Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Hingga kini tercatat 71 orang meninggal dunia, 1.147 orang terluka, dan 24.084 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 80.775 orang juga harus mengungsi ke sejumlah lokasi.

Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng, Romo Martin Chen mengatakan, Keuskupan Ruteng melalui Karitas Keuskupan Ruteng langsung melakukan respons tanggap darurat setelah gempa terjadi.

Respons awal dilakukan dengan membantu Rumah Sakit Umum Daerah Ben Mboi Ruteng yang terdampak gempa dan harus merawat pasien di luar gedung. Sebanyak 27 tenda darurat yang sebelumnya digunakan sebagai booth Festival Golo Curu Keuskupan Ruteng langsung didirikan untuk membantu kebutuhan rumah sakit.

Karitas kemudian berkoordinasi dengan 61 paroki di wilayah Keuskupan Ruteng untuk mengumpulkan data korban, lokasi terdampak, serta kerusakan rumah dan fasilitas lainnya. Data tersebut digunakan untuk menentukan bentuk bantuan yang sesuai dengan kebutuhan korban.

Pada hari yang sama setelah gempa, Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat mengeluarkan imbauan pastoral kepada seluruh paroki, biara, komunitas, dan lembaga di wilayah Keuskupan Ruteng agar segera membantu para korban bencana.

Keuskupan Ruteng juga mengatur pelaksanaan Misa Minggu, 16 Agustus 2026, agar digelar di ruang terbuka. Kebijakan itu diambil untuk menghindari risiko akibat kerusakan bangunan gereja dan kapela.

“Data terakhir memperlihatkan bahwa gempa ini telah merusak 67 gereja dan kapela, yang sebagiannya hancur dan tak dapat dipergunakan lagi,” kata Romo Martin dalam keterangan yang diterima, Senin, 24 Agustus 2026.

Karitas Keuskupan Ruteng selanjutnya berkoordinasi dengan Karitas Nasional (Karina) Konferensi Wali Gereja Indonesia untuk memperluas respons tanggap darurat.

Dipimpin Mgr. Siprianus Hormat, Karitas menyalurkan bantuan berupa pangan, kemah, sanitasi, dan pelayanan medis kepada para korban. Uskup Ruteng juga mengunjungi sejumlah wilayah yang mengalami dampak parah, seperti Reo, Dampek, Pota, serta Paroki Beanio dan Beamese di wilayah Cibal.

“Kehadiran gembala tertinggi Keuskupan Ruteng ini sungguh menjadi penghiburan dan kekuatan bagi para korban untuk merangkai harapan dalam penderitaan hidup mereka,” ujar Romo Martin.

Karitas juga menjangkau korban di wilayah pedalaman yang sulit diakses, antara lain Pota bagian pegunungan, Elar, Lamba Leda, dan Manus.

“Kehadiran cepat Karitas di daerah-daerah sulit ini sungguh-sungguh memproklamasikan marwah kemanusiaan ini, bahwa “no one left behind” dalam setiap bencana yang dasyat dan masif,” kata Romo Martin.

Direktur Karitas Keuskupan Ruteng, Romo Benediktus Gaguk mengatakan, hingga Minggu, 23 Agustus 2026, pihaknya telah menyalurkan 12.011 kilogram atau 12,01 ton beras, 1.081 dos makanan siap saji yang terdiri atas biskuit, mi instan, dan ikan kaleng, serta 396 dos air.

Selain itu, Karitas menyalurkan 416 paket hygiene kit dan 89 paket shelter yang terdiri atas terpal dan tikar.

“Yang patut disebutkan juga adalah pendampingan psikososial para korban gempa melalui pelbagai kegiatan trauma healing, yang secara khusus menyasar anak- anak korban bencana,” kata Benediktus

Menurut Benediktus, penerima manfaat bantuan tersebut mencapai 11.907 orang yang tersebar di 23 paroki terdampak.

Selain melalui Karitas, bantuan juga diberikan secara swadaya oleh paroki-paroki, komunitas biara, dan lembaga pendidikan di lingkungan Keuskupan Ruteng.

Keuskupan Ruteng juga memberikan pelayanan medis yang melibatkan empat dokter dari Karina Indonesia. Pendampingan psikospiritual dilakukan oleh para imam, suster, dan katekis melalui kunjungan, pendampingan, serta doa bersama para korban.

Benediktus mengatakan Karitas Keuskupan Ruteng berupaya menghadirkan pelayanan yang tidak hanya berfokus pada bantuan material, tetapi juga pemulihan psikososial dan spiritual para korban.

Ia menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak, baik pribadi, perusahaan maupun komunitas, yang telah menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui Karitas Keuskupan Ruteng.

Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada Karitas Nasional atau Karina Indonesia yang sejak awal mendampingi Karitas Keuskupan Ruteng dalam koordinasi bantuan kemanusiaan.

Benediktus juga mengapresiasi kerja sama Pemerintah Pusat, pemerintah daerah, dan pemerintah desa dalam penanganan korban gempa.

Menurut dia, kerja sama tersebut masih perlu diperkuat karena kebutuhan korban masih berlanjut, terutama untuk sembako dan air minum bersih.

Selain itu, persoalan sanitasi, psikososial, serta kebutuhan rehabilitasi rumah dan fasilitas pendukung juga masih membutuhkan penanganan.

Benediktus mengatakan bencana gempa telah mengguncang Flores dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan terhadap rumah dan berbagai hasil pembangunan masyarakat.

Namun, ia menilai bencana tersebut tidak mematahkan semangat kebersamaan dan solidaritas masyarakat.

“Oleh karena itu, mari kita terus bejuang bersama dan tak henti-hentinya berbelarasa. Bersama kita bisa! Yes, together we can! Kiranya Tuhan senantiasa melindungi, membimbing, dan memberkati semua karya bela rasa bersama kita selanjutnya,” ungkap Romo Benediktus. [VoN]

Gempa Gempa Bumi Keuskupan Ruteng Manggarai Martin Chen
Previous ArticleKeluarga Jakob Nuwa Wea Salurkan Rp1 Miliar untuk Korban Gempa Nagekeo

Related Posts

Keluarga Jakob Nuwa Wea Salurkan Rp1 Miliar untuk Korban Gempa Nagekeo

23 Agustus 2026

PT GAG Nikel Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di Manggarai Barat

23 Agustus 2026

Sepekan Pascagempa, Armada Kemanusiaan BKH-Stevi Harman Tak Henti Mengirim Bantuan Susulan

23 Agustus 2026
Terkini

Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan untuk 11.907 Korban Gempa Flores

24 Agustus 2026

Keluarga Jakob Nuwa Wea Salurkan Rp1 Miliar untuk Korban Gempa Nagekeo

23 Agustus 2026

PT GAG Nikel Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di Manggarai Barat

23 Agustus 2026

Sepekan Pascagempa, Armada Kemanusiaan BKH-Stevi Harman Tak Henti Mengirim Bantuan Susulan

23 Agustus 2026

Pengungsi Gempa Nagekeo Keluhkan Kesenjangan Bantuan, Pemkab Diminta Evaluasi Penanganan

23 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.