Ruteng, VoxNTT.com – Pemerintah Kabupaten Manggarai mengadakan rapat koordinasi dengan ratusan pemilik rumah kos di Kota Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, pada Rabu, 25 Juni 2025.
Pertemuan ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja, yang dinilai menjadi salah satu pemicu meningkatnya angka perkawinan anak di wilayah tersebut.
Rapat berlangsung di Aula PKK Ruteng dan menjadi bagian dari program quick wins bidang sosial yang sedang dijalankan Pemkab Manggarai.
Dalam forum itu, para pemilik rumah kos diajak berperan aktif dalam menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih aman dan mendukung bagi pelajar maupun mahasiswa perantau yang kini menetap di Ruteng.
“Masalah pergaulan bebas di kalangan remaja adalah isu penting yang tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Kita perlu melibatkan masyarakat, pelaku usaha, termasuk pemilik kos, dalam upaya ini,” ungkap Fransiskus Gero, Koordinator Program Quick Wins Sosial Pemkab Manggarai.
Ia menambahkan bahwa masa remaja merupakan periode pencarian jati diri yang rentan terhadap pengaruh lingkungan negatif. Tanpa pengawasan yang memadai, remaja dapat terjerumus dalam perilaku berisiko seperti seks bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga kenakalan remaja.
“Lingkungan tempat tinggal, terutama rumah kos, memegang peran penting dalam pembentukan perilaku remaja. Karena itu, pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu strategi pencegahan yang kami kedepankan,” ujarnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Manggarai, Maria Yasinta Aso, turut hadir dalam rapat dan menyampaikan fakta mengejutkan. Dari 9.530 pelajar tingkat SMA dan sederajat di Kota Ruteng, sebanyak 2.468 tinggal di rumah kos yang tersebar di sejumlah kelurahan.
“Karena kapasitas asrama sangat terbatas—hanya bisa menampung kurang dari 10 persen siswa perantau—banyak pelajar akhirnya memilih rumah kos sebagai tempat tinggal,” jelasnya.
Ia juga memaparkan data sebaran kamar kos di sepuluh kelurahan yang dekat dengan sekolah. Kelurahan Tenda menempati posisi teratas dengan 2.360 kamar dari total 3.807 kamar kos yang ada.
Dalam kesempatan itu, Yasinta mempresentasikan draf Rancangan Peraturan Bupati (Ranperbup) tentang Penyelenggaraan Rumah Kos. Aturan ini akan menjadi payung hukum bagi pengelolaan rumah kos yang lebih tertib, ramah anak, dan mendukung perlindungan terhadap remaja perantau.
“Ranperbup ini adalah tindak lanjut dari beberapa pertemuan sebelumnya. Tujuannya sederhana: memastikan anak-anak kita yang tinggal jauh dari orang tua tetap merasa aman dan terpantau,” tegas Yasinta.
Sementara itu, Yohanes Ermus Jem, pemilik Kos Wali Di’a di Kelurahan Poco Mal, menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, keberadaan aturan yang jelas akan membantu para pemilik rumah kos memahami peran sosial mereka secara lebih mendalam.
“Kami siap mendukung. Dengan adanya peraturan ini, kami jadi punya pedoman untuk menciptakan lingkungan yang positif bagi anak-anak yang tinggal di tempat kami,” ungkap Yohanes.
Penulis: Herry Mandela

