Ruteng, VoxNTT.com – Menjamin kelancaran transportasi sekaligus keselamatan warga, ruas jalan yang menghubungkan Ruteng-Borong, Kabupaten Manggarai Timur dan Ruteng-Reo, Kabupaten Manggarai akhirnya direhabilitasi kembali dengan mengunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Rehabilitasi tersebut diinisiasi langsung oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah III Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 Jalan Nasional di Ruteng.
PPK 3.3 Jalan Nasional, Nur Indah Indriani, Jumat 11 Juli 2025 mengatakan, penanganan difokuskan pada dua ruas vital, yaitu ruas batas Kota Ruteng–Borong (KM 210) dan ruas Ruteng–Reo.
Bahkan ruas jalan Ruteng-Reo bakal difokuskan sampai jalur menuju Pelabuhan Kedindi.
Kegiatan ini, kata Nur Indah, mencakup rehabilitasi infrastruktur jalan sekaligus pencegahan longsor guna menjamin kelancaran transportasi dan keselamatan pengguna jalan.
“Kami lakukan rehabilitasi karena ini demi kelancaran transportasi, apalagi kondisi tebing pada sisi timur ruas jalan sudah terkikis longsor,” ujar Nur Indah di Ruteng pada Jumat, 11 Juli 2025.
Saat ini, lanjut dia, fokus pekerjaan berada di titik STA 11 dekat Jembatan Wae Reno, Kabupaten Manggarai Timur, sementara untuk jalur Ruteng-Reo sedang dimulai di Waepesi.
Penanganan yang dilakukan di jalur Ruteng-Borong, berupa Pembangunan dinding penahan tanah (DPT) beton di sisi timur jalan dan pemasangan saluran U-Ditch dan pasangan batu untuk mencegah erosi.
Selain itu, rehabilitasi jembatan Wewor, dan pembangunan deker di Desa Golo Loni, Kecamatan Rana Mese juga sedang dilakukan.
“Pada STA 21, saluran di sisi barat tertutup, air melimpah ke jalan. Maka, kami bangun deker agar aliran air tertata,” kata Nur Indah.
Lebih lanjut ia menjelaskan, proyek ini dilaksanakan oleh PT Menara dengan anggaran Rp 5 miliar dari APBN, terkontrak sejak 9 Mei 2025 dan berakhir 31 Desember 2025.
Progres fisik saat ini mencapai 13,86 persen.
Berikutnya lagi, penanganan longsor dilakukan di dua titik, yakni STA 37 dengan metode bore pile, pembangunan DPT pasangan batu dan saluran air dan STA 50 akibat abrasi sungai Wae Pesi yang merusak bahu jalan.
Untuk Ruteng-Reo, proyek dikerjakan oleh PT Floresco dengan nilai kontrak Rp 24 miliar juga bersumber dari APBN.
Saat ini progres fisik mencapai 10,12 persen.
Seorang Mahasiswa asal Kecamatan Reok, Antonius Arifandi Usdin mengapresiasi langkah Pemerintah melalui BPJN dan PPK 3.3 Jalan Nasional yang dengan cepat merehab beberapa ruas jalan dan tebing di jalur Ruteng-Reo.
Menurut Usdin, selain untuk memastikan keselamatan pengendara, kegiatan rehabilitasi ini merupakan langkah bijak mendukung pertumbuhan ekonomi melalui transportasi darat, apalagi jalur Ruteng-Reo adalah jalur pendistribusian BBM.
“Memang jalur Ruteng-Reo tidak boleh lepas berlarut-larut karena sudah jadi langganan longsor. Kalau ada rusak sedikit segera diperbaiki untuk mendukung jalur pertumbuhan ekonomi di Manggarai Raya karena kalau jalan Ruteng-Reo sudah lumpuh maka otomatis kita lumpuh secara ekonomi,” tutur Usdin, mahasiswa Kupang yang sedang berlibur itu.
Ia kembali mengapresiasi langkah cepat yang diambil oleh pemerintah setiap tahunnya dalam menangani jalan Ruteng-Reo dan Ruteng-Borong ini.
Penulis: Berto Davids

