Ruteng, VoxNTT.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Manggarai, Rabu, 16 Juli 2025.
Dalam kunjungan tersebut, Melki menyambangi warga Desa Lungar, Poco Leok, untuk berdialog langsung terkait proyek panas bumi (geotermal) yang menuai polemik di wilayah itu.
Didampingi Kapolres Manggarai AKBP Hendry Syaputra dan Dandim 1612 Manggarai Letkol Inf. Budiman Manurung, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah Provinsi NTT, Gubernur Melki menyatakan kunjungannya bertujuan mendengarkan semua aspirasi masyarakat.
“Saya datang ke sini untuk mendengar langsung dan berdialog dengan kelompok yang di posisi apa saja, baik itu kelompok yang menolak, ada juga yang mendukung maupun kelompok yang netral. Dan saya pastikan ini pertemuan pertama dan bukan yang terakhir dan saya harap kita bisa berdialog dengan baik untuk mencari titik temunya,” ujar Melki.
Merespons sejumlah keluhan dari warga Desa Lungar, Melki mengatakan, pemerintah akan membuka ruang dialog lanjutan guna menjamin keberlanjutan proyek panas bumi secara partisipatif.
“Namun proses ini akan bergerak maju dan saya meyakini akan ada titik temunya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya merawat hubungan kekeluargaan di tengah perbedaan pandangan terhadap proyek ini.
“Geotermal itu tidak lebih hebat dari persaudaraan dan kekeluargaan. Jauh sebelum barang ini ada, kita adalah satu keluarga besar,” ungkap Melki.
Menurut dia, pemerintah hadir dengan niat baik, bukan untuk mencederai masyarakat adat setempat.
“Kalau kami punya niat jahat terhadap Poco Leok, pasti kami tidak akan selamat keluar dari sini,” ujar Melki.
Usai berdialog dengan warga Desa Lungar, Gubernur Melki bersama Bupati Manggarai Herybertus Gradus Laju Nabit melanjutkan kunjungan ke Desa Wewo, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu yang telah beroperasi sejak 2012.
“Saya bersyukur sekali karena kita punya Ulumbu ini, sejak beroperasi di 2012 aman terkendali. Ulumbu ini adalah salah satu bagian dari bukti bahwa barang ini kalau kita kelola dengan benar akan jadi barang baik dan jadi berkat buat kita semua,” tutup Melki.
Namun, kunjungan Melki ke Poco Leok diwarnai aksi demonstrasi warga yang menolak proyek perluasan geothermal.
Sejumlah warga menilai kehadiran aparat bersenjata dalam kunjungan tersebut mencerminkan sikap intimidatif.
Warga Poco Leok, Kritianus Jarut, mengkritik cara Gubernur datang ke kampung adat dengan pengawalan ketat aparat bersenjata lengkap dan mobil pengangkut massa.
“Kunjungan Gubernur NTT yang diapit oleh pasukan bersenjata laras panjang juga mobil pengangkut massa itu adalah gambaran kekuasaan yang arogansi dan intimidatif,” ujar Kritianus.
Ia menambahkan, situasi serupa telah berulang kali terjadi dalam berbagai aksi masyarakat adat di Poco Leok.
“Sebelumnya sudah beberapa kali dalam aksi jaga kampung juga berhadapan dengan aparat bersenjata lengkap,” kata Kritianus.
Kritianus menilai, kondisi itu menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap komitmen pemerintah untuk berdialog secara terbuka dan setara.
“Saya menganggap pernyataan dari gubernur yang menyatakan bahwa Geothermal itu tidak lebih hebat dari persaudaraan dan kekeluargaan itu hanyalah bualan tak bermakna bagi masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai kunjungan Gubernur ke Poco Leok tidak lebih dari upaya pencitraan belaka.
“Ini juga bukan kali pertama dia (Gubernur NTT) mendengarkan penolakan terhadap proyek ini,” tutupnya.
Penulis: Sello Jome

