Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Dekolonisasi Sekolah melalui Deep Learning
Gagasan

Dekolonisasi Sekolah melalui Deep Learning

By Redaksi1 Agustus 202510 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Cici AI)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM

Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Di tengah bayang-bayang kolonialisme pengetahuan yang lama membungkam suara lokal dan membekukan imajinasi anak negeri, dekolonisasi sekolah menjelma sebagai nyala obor pembebasan sebuah panggilan untuk meretas kurikulum yang beku, membuka ruang bagi hikmah tradisi, bahasa ibu, dan pemikiran merdeka.

Dalam pusaran transformasi ini, deep learning menyusup bagai aliran bawah tanah, menyerap data tanpa henti, mengurai makna dari riak-riak kompleks kehidupan, sementara coding AI menjadi mantranya: bahasa baru yang menulis masa depan, menyalakan algoritma keadilan, dan membentuk mesin bukan untuk menggantikan pribadi manusia sebagai citra Allah yang Maha Kasih, tapi untuk memahami kemanusiaan yang lebih utuh.

Maka sekolah bukan lagi ruang hafalan, tapi medan eksperimentasi etis tempat teknologi, sejarah, dan harapan saling bertaut, membentuk narasi baru yang bebas dari penjajahan pikiran.

Eksperimentasi Etis

Sekolah bukan semata ruang transmisi pengetahuan, melainkan arena eksperimentasi etis di mana nilai, keputusan, dan tanggung jawab moral diuji dan dikembangkan bersama.

Gert Biesta, dalam bukunya “The Beautiful Risk of Education” (2014), menekankan bahwa pendidikan yang sejati bukan tentang produksi output atau pengukuran efisiensi, melainkan tentang membentuk subjektivitas siswa secara etis dan demokratis.

Baginya, pendidikan adalah tindakan yang penuh risiko karena melibatkan kebebasan individu, intervensi guru, dan ketidakterdugaan masa depan.

Dalam kerangka ini, sekolah menjadi laboratorium kemanusiaan, tempat siswa tidak hanya belajar berpikir kritis, tetapi juga merasakan, memilih, dan bertindak secara bertanggung jawab dalam kompleksitas dunia nyata.

Eksperimentasi etis juga menuntut kurikulum yang tidak kaku, melainkan lentur terhadap pengalaman hidup dan keterlibatan sosial.

Paulo Freire, dalam karya monumental “Pedagogy of the Oppressed” (1970), mengajak kita untuk merombak sistem pendidikan yang menindas dan menggantikannya dengan pedagogi dialogis yang membebaskan.

Dalam pandangan Freire, etika pendidikan terletak pada hubungan horizontal antara guru dan murid sebagai subjek, yang bersama-sama membongkar realitas dan membayangkan masa depan yang lebih adil.

Sekolah, dalam konteks ini, adalah ruang politik dan moral, tempat di mana keberanian untuk bertanya, menolak, dan mencipta menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar.

Lebih jauh, etika pendidikan juga melibatkan pertanyaan tentang kehadiran teknologi dalam pembelajaran. Shannon Vallor, dalam bukunya “Technology and the Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting” (2016), menyoroti pentingnya integrasi etika dalam era teknologi cerdas.

Coding, AI, dan sistem pembelajaran digital harus dihadirkan di sekolah bukan sekadar sebagai alat, tetapi sebagai bagian dari pendidikan moral yang kritis.

Dengan demikian, sekolah sebagai eksperimentasi etis bukan hanya tentang mengajarkan nilai, tetapi juga menciptakan struktur dan ekosistem pembelajaran di mana teknologi digunakan untuk memperkuat empati, keadilan, dan tanggung jawab kolektif.

Dalam dunia yang cepat berubah, sekolah yang etis bukanlah tempat yang “aman” dari konflik, tetapi tempat yang aman untuk konflik yang membimbing siswa menjelajahi dilema moral dan menumbuhkan kompas etika humanis ekologis sendiri.

Sekolah Kebudayaan

Sekolah dan kebudayaan adalah dua entitas yang tak terpisahkan, karena pendidikan sejati selalu berakar dalam konteks kultural dan ekologis tempat ia tumbuh.

Dalam arus dekolonisasi sekolah, hubungan ini harus dibaca ulang sebagai bentuk eksperimentasi etis yang memulihkan hubungan antara manusia, pengetahuan, dan alam.

Ivan Illich dalam bukunya “Deschooling Society” (1971) mengkritik sistem sekolah modern sebagai instrumen dominasi yang memisahkan belajar dari kehidupan dan budaya dari komunitas.

Menurutnya, pembelajaran seharusnya terjadi dalam interaksi sosial yang alami, berbasis pada nilai-nilai lokal dan keberlanjutan ekologis.

Dalam semangat ini, sekolah mesti menjadi ruang hidup yang menumbuhkan kearifan lokal dan memperkuat ekosistem sosial-budaya yang telah lama terpinggirkan oleh logika kolonial dan industrial.

Pendekatan ini menuntut paradigma pendidikan yang humanis dan ekologis, di mana siswa tidak hanya diposisikan sebagai calon pekerja pasar, tetapi sebagai makhluk hidup yang berelasi dengan lingkungan, budaya, dan sesama manusia.

Vandana Shiva, dalam “Earth Democracy: Justice, Sustainability, and Peace” (2005), menyerukan pentingnya pendidikan yang berpihak pada keanekaragaman hayati dan kebudayaan, bukan pada homogenisasi global.

Ia menunjukkan bagaimana kolonialisme pengetahuan telah menghapus sistem-sistem lokal yang berkelanjutan dan menggantinya dengan pengetahuan yang ekstraktif.

Sekolah sebagai eksperimentasi etis ekologis berarti menjadikan kebun, hutan, pasar, dan rumah sebagai ruang belajar, serta mengintegrasikan nilai-nilai hidup berkelanjutan ke dalam seluruh pengalaman pendidikan. Ini adalah bentuk pendidikan yang tidak hanya berpikir global, tapi sungguh-sungguh bertindak lokal.

Dalam konteks ini, dekolonisasi sekolah bukan hanya soal mengganti nama, buku, atau bahasa, tetapi tentang menata ulang seluruh etika belajar: siapa yang dianggap tahu, apa yang dianggap penting, dan bagaimana kita hidup bersama.

Ketika sekolah bersatu dengan kebudayaan dan alam, maka proses belajar menjadi praktik keberlanjutan yang mendalam, di mana etika, estetika, dan spiritualitas tumbuh bersama.

Budaya bukan lagi objek kajian, melainkan landasan untuk berpikir, berkreasi, dan bertransformasi.

Sekolah pun menjelma menjadi ruang eksperimentasi etis humanis-ekologis yang membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakar secara moral, budaya, dan ekologis mampu merawat bumi dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas.

Cinta sebagai Pedagogi

Cinta sebagai pedagogi (love as pedagogy) adalah inti terdalam dari proses pembelajaran yang memanusiakan, bukan sekadar metode emosional, melainkan suatu kekuatan transformasional yang menghubungkan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara utuh dalam diri siswa.

Bell Hooks, dalam bukunya “Teaching to Transgress: Education as the Practice of Freedom” (1994), menegaskan bahwa cinta dalam pendidikan adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya di ruang kelas untuk mengajar dengan empati, mendengarkan dengan hati, dan mengakui kemanusiaan siswa.

Cinta bukan perasaan sentimental, melainkan tindakan radikal yang melibatkan keterbukaan terhadap luka, harapan, dan kemungkinan tumbuh bersama. Dalam suasana ini, pembelajaran tidak sekadar transfer informasi, tapi relasi yang menyembuhkan dan memberdayakan.

Cinta sebagai inti pedagogi juga mengintegrasikan seluruh potensi manusia: pikiran untuk menganalisis dan membayangkan serta mengimajinasikan; hati untuk merasakan dan memahami; rasa untuk menghargai keindahan dan makna; serta raga untuk bergerak, mengalami, dan hadir secara utuh.

Dalam konteks deep learning, ini berarti menggali bukan hanya data dan konsep, tetapi juga nilai, pengalaman, dan relasi yang hidup dalam diri siswa.

Parker J. Palmer, dalam “The Courage to Teach” (1998), menulis bahwa pengajaran yang otentik hanya bisa lahir dari keutuhan diri guru dan perjumpaan sejati dengan siswa.

Ketika cinta menjadi dasar, kelas bukanlah ruang kompetisi, tetapi ruang pertumbuhan, ruang hati di mana siswa merasa aman untuk gagal, bertanya, dan menemukan diri mereka sendiri di tengah dunia yang kompleks.

Cinta dalam pedagogi menuntut kehadiran dan komitmen untuk melihat siswa bukan sebagai objek pembelajaran, tetapi sebagai subjek yang berdaya dan bernilai.

Dalam pendekatan ini, teknologi dan AI termasuk deep learning algorithms bukan pengganti hubungan manusia, melainkan alat yang diarahkan dengan etika kasih, untuk memperluas akses, membangun empati, dan mendekatkan kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang sesama.

Dengan cinta sebagai fondasi, sekolah berubah dari tempat hafalan menjadi ruang penyembuhan; dari sistem instruksi menjadi komunitas afeksi; dari rutinitas pedagogis menjadi praktik spiritual yang membebaskan.  Di sinilah pendidikan bukan sekadar menjawab soal, tapi menumbuhkan jiwa.

Sekolah Bukan Mesin Penjawab Soal

Sekolah bukanlah mesin penjawab soal yang mengejar skor dan angka semata, melainkan ruang untuk membangun jiwa yang terdidik, terkasih, dan termulia.

Michael Fullan, dalam bukunya “Deep Learning: Engage the World Change the World” (2018), menekankan bahwa pendidikan masa kini harus bertransformasi dari sistem yang menekankan kompetensi akademik kognitif ke sistem yang mengembangkan karakter, kreativitas, dan kemampuan kolaboratif.

Deep learning, menurut Fullan, bukan sekadar belajar lebih dalam tentang mata pelajaran, tetapi tentang membentuk manusia utuh yang mampu berpikir kritis, berempati, dan bertindak untuk perubahan positif.

Sekolah, dalam perspektif ini, harus menjadi tempat yang menyentuh dimensi terdalam manusiabukan hanya kecerdasannya, tetapi juga nurani dan jiwanya.

Fullan mengembangkan kerangka 6 Global Competencies (karakter, kewargaan, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis) sebagai dasar dari deep learning, di mana siswa tidak hanya diminta menjawab pertanyaan, tetapi menciptakan pertanyaan baru yang relevan bagi kehidupan dan dunia sekitar.

Dalam kerangka ini, sekolah menjadi ekosistem pengasuhan yang penuh kasih—tempat guru dan siswa membangun relasi yang setara dan bermakna. Jiwa yang “terkasih” tumbuh dari proses belajar yang menyentuh rasa memiliki, koneksi sosial, dan kesadaran moral.

Ketika sekolah berakar pada relasi dan makna, bukan pada pengukuran, maka pendidikan menjadi pengalaman yang memuliakan martabat dan menggugah hasrat untuk belajar seumur hidup.

Sekolah yang membangun jiwa “termulia” adalah sekolah yang tidak hanya mendidik untuk kerja, tetapi untuk kehidupan.

Dalam visi Fullan, pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa menjadi warga dunia yang berpihak pada keberlanjutan, keadilan sosial, dan kemanusiaan universal.

Deep learning bukan tujuan akhir, melainkan proses perjalanan jiwa: dari tahu menjadi bijak, dari mampu menjadi peduli.

Sekolah, jika dimaknai ulang dengan cinta, keberanian, dan visi kemanusiaan, akan menjadi tempat penyadaran diri, bukan hanya pencapaian nilai.

Di sanalah pendidikan menemukan martabatnya bukan sebagai industri soal, melainkan sebagai peradaban kasih.

Dekolonisasi Sekolah

Dekolonisasi sekolah bukan sekadar penghapusan simbol atau penyesuaian kurikulum, melainkan upaya mendalam untuk merombak cara berpikir, merasa, dan belajar yang selama ini dibentuk oleh logika kolonial: seragam, hirarkis, dan berorientasi pada standar luar.

Strategi paling jitu untuk dekolonisasi hari ini adalah melalui deep learning, karena pendekatan ini tidak hanya menuntut pemahaman konseptual yang dalam, tetapi juga melibatkan kesadaran sosial, identitas kultural, dan kekuatan transformatif siswa.

Michael Fullan dan Joanne Quinn dalam “Deep Learning: Engage the World Change the World” (2018) menyatakan bahwa deep learning memungkinkan siswa menjadi agen perubahan dengan mengembangkan enam kompetensi global yang berpijak pada kemanusiaan, bukan kepatuhan.

Di sinilah celah dekolonisasi terbuka: ketika siswa diajak berpikir kritis tentang dunia, bukan sekadar menerima “kebenaran” dari luar.

Strategi ini menjadi semakin kuat ketika deep learning digunakan untuk mengangkat konteks lokal, narasi yang terpinggirkan, dan kearifan budaya sebagai bahan belajar yang sah dan bermakna.

Decolonizing the curriculum, seperti dibahas oleh pakar pendidikan asal Afrika Selatan, Shirley Steinberg dalam “Kinderculture: The Corporate Construction of Childhood” (2011), menekankan pentingnya membongkar dominasi pengetahuan barat dan membuka ruang bagi keragaman epistemologi.

Dalam kerangka deep learning, siswa dilibatkan dalam proyek nyata, riset kontekstual, dan dialog antarbudaya yang meretas sekat kelas dan komunitas.

Guru bukan lagi agen kurikulum nasional yang kaku, tetapi fasilitator pembebasan yang menghidupkan realitas lokal sebagai sumber belajar yang sah dan menantang.

Dengan demikian, dekolonisasi melalui deep learning bukan agenda kosmetik, melainkan transformasi struktural dan kultural.

Sekolah menjadi tempat untuk meruntuhkan narasi tunggal dan membangun ekosistem belajar yang adil, reflektif, dan kontekstual. Ini bukan revolusi cepat, tetapi perubahan mendalam yang menuntut keberanian, empati, dan desain pedagogi yang hidup.

Hanya dengan cara inilah, pendidikan bisa kembali pada akarnya sebagai praksis pembebasansebagaimana diimpikan oleh Paulo Freire dalam “Pedagogy of the Oppressed” (1970) dan deep learning menjadi kendaraan strategis untuk menenun ulang masa depan sekolah yang merdeka dan bermartabat.

Berdampak Nyata

Dekolonisasi sekolah yang dilakukan melalui pendekatan sekolah kebudayaan, cinta sebagai pedagogi, deep learning, dan coding AI yang beretika humanis-ekologis menghasilkan transformasi mendalam dalam cara siswa belajar dan hidup.

Dampak pertama adalah tumbuhnya identitas kultural yang kuat, karena sekolah tidak lagi mengasingkan siswa dari akar budayanya, tetapi merayakan bahasa, seni, dan kearifan lokal sebagai sumber belajar.

Kedua, lahirnya kemandirian berpikir bukan sekadar penghafal teori asing, siswa diajak mencipta pengetahuan dari pengalaman sendiri.

Ketiga, terciptanya ekosistem belajar yang penuh kasih, di mana relasi antar manusia dibangun atas dasar empati dan perhatian, sebagaimana diajarkan dalam pendekatan love as pedagogy ala Bell Hooks dan Parker Palmer.

Dampak keempat adalah pembelajaran yang bermakna secara emosional dan spiritual, karena siswa tidak hanya menggunakan nalar, tapi juga hati dan rasa dalam setiap proses pembelajaran.

Kelima, terciptanya kecakapan hidup abad 21 yang lebih utuh melalui deep learning, yang menekankan kolaborasi, kreativitas, dan keberanian untuk berpikir kritis terhadap ketidakadilan sosial ekologis.

Keenam, terintegrasinya coding AI yang etis dan kontekstual, di mana siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi perancang solusi yang relevan secara sosial dan ekologis.

Teknologi tak lagi netral, tapi diarahkan pada kebermanfaatan dan keberlanjutan hidup bersama, mengikuti etika seperti yang diuraikan oleh Shannon Vallor dalam Technology and the Virtues.

Tiga dampak terakhir menyentuh inti tujuan pendidikan yang dekolonial: kesehatan jiwa dan raga, karena lingkungan belajar yang tidak menindas dan tidak menjauhkan dari alam menghasilkan generasi yang lebih seimbang dan sadar diri untuk hidup sehat dan bahagia berkelanjutan.

Kedelapan, munculnya kebahagiaan otentik, bukan karena nilai tinggi, tapi karena pengalaman belajar yang bermakna, membebaskan, dan menghidupkan dan kesembilan, terwujudnya keberlanjutan ekologis, karena siswa tidak hanya memahami pentingnya menjaga bumi, tetapi hidup sehari-hari dalam praktik yang menghormati alam.

Dekolonisasi sekolah dengan pendekatan ini bukan sekadar kritik terhadap masa lalu, tapi perancangan masa depan yang sehat, bahagia, dan manusiawi  serta ekologis untuk generasi kini dan yang akan datang.

Pater Vinsensius Darmin Mbula Vinsensius Darmin Mbula
Previous ArticleKejari Manggarai Periksa PPK Dinas PKO Mabar terkait Pembangunan Gedung RSUD Ruteng
Next Article Perusahaan Jasa Konstruksi Perlu Lakukan Promosi Kesehatan di Lingkungan Kerja

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.