Oleh: Anselmus DW Atasoge
Malam itu, langit di atas Desa Boru berubah menjadi kelabu pekat. Tak ada bintang, tak ada bulan. Hanya suara gemuruh dari perut bumi yang membelah sunyi. Gunung Lewotobi Laki-laki, yang selama ini menjadi latar kehidupan warga, meletus dengan dahsyat.
Abu membubung hingga 10.000 meter ke langit, menutupi harapan dan mengguncang hati. Kerikil menghujani atap rumah, jalanan tertutup lahar, dan udara dipenuhi bau belerang yang menusuk.
Maria memeluk anaknya erat di sudut dapur yang gelap. Ia tak tahu harus lari ke mana. “Tenang, Nak. Tuhan tidak pernah tidur,” bisiknya, meski hatinya sendiri gemetar.
Di luar, suara sirene dan teriakan warga bersahutan. Di tengah kepanikan, datanglah kabar: “Masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti arahan resmi. Jangan percaya isu yang tidak jelas sumbernya.” Suara itu seperti lilin kecil di tengah badai.
Abu masih menggantung di udara, seperti janji pembangunan yang tak kunjung turun. Tapi di balik kehancuran, ada gerak—gerak yang tak pernah masuk laporan resmi. Para pemuda mulai membersihkan jalan dengan semangat yang tak dibayar, para ibu memasak untuk pengungsi dengan bahan yang entah datang dari mana, dan anak-anak meski batuk-batuk seperti pabrik tua tetap bermain di bawah tenda darurat yang lebih mirip kelambu raksasa daripada perlindungan.
Di tengah abu, tumbuh solidaritas. Bukan karena instruksi, tapi karena tak ada pilihan lain. Segerombolan orang datang membawa kamera, bukan cangkul. Sibuk mencari angle dramatis, sementara warga sibuk mencari air bersih. Tapi begitulah Lewotobi: gunungnya meletus, warganya bangkit. Mereka tahu jika menunggu bantuan resmi, mungkin abu sudah jadi fosil.
Di bawah tenda yang bocornya lebih jujur daripada janji, anak-anak duduk bersila di atas karung bekas beras. Karpet masa kecil yang tak pernah dijanjikan empuk. Abu masih menari di udara, menyelimuti langit dengan kelabu yang tak bisa dicuci.
Di tengah itu, berdirilah Maria dan rekan-rekannya, dengan suara serak yang bersaing dengan batuk debu vulkanik. Mereka tak membawa keajaiban, hanya sebatang kapur yang tinggal separuh dan papan tulis kecil yang sudah retak di sudutnya.
“Gunung boleh meletus,” katanya, “tapi semangat kita jangan ikut runtuh. Kita belajar di sini, di bawah tenda, karena ilmu adalah cahaya yang tak bisa dipadamkan meskipun listrik sudah tak tampak sejak berbulan lama.”
Anak-anak mengangguk, bukan karena mereka mengerti sepenuhnya, tapi karena mereka tahu: harapan kadang tak datang dalam bentuk bantuan, melainkan dalam bentuk keberanian untuk tetap duduk dan mendengar.
Maria dan rekan-rekannya bagai seorang penyair yang menulis di udara, di antara abu dan angin. Mereka tahu, jika menunggu ruang kelas dibangun, mungkin anak-anak sudah tumbuh menjadi buruh sebelum sempat bermimpi.
Maka, dengan tekad penuh ia menanam huruf-huruf di tanah yang retak, berharap kelak tumbuh menjadi pohon-pohon pemahaman. Dan, ketika tawa pecah di antara mereka, itu bukan tawa karena senda gurau. Tawa yang tahu betul: pahit pun bisa jadi pelajaran, asal tak kita telan sendirian.
Di kaki Lewotobi, kebangkitan tak datang dengan sorak kemenangan, melainkan dengan bisikan lirih yang nyaris tenggelam oleh suara dan janji-janji yang gemar berkelana tanpa alamat. Tangan-tangan menulis harapan di atas abu, meski pena mereka hanyalah ranting patah dan tinta yang bersumber asal dari air mata yang tak sempat dikeringkan.
Dari reruntuhan tumbuh tekad. Bukan karena bantuan datang, tapi karena tak ada pilihan lain selain bangkit. Langit kelabu melahirkan cahaya kecil, cukup untuk menerangi jalan yang dipenuhi lubang-lubang retorika. Hidup, meski diguncang, tetap bisa dibangun kembali… asal tak terlalu berharap pada mereka yang datang hanya saat kamera menyala.***

