Rensiana Delima
Sepuluh tahun kita mengabdi
di tempat yang sama,
berjalan bersama dalam kebaikan,
dalam dinamika dan kebahagiaan.
Persahabatan kita dimulai
sejak aku kuliah semester empat,
dan sejak itu kita merasakan
kebersamaan yang tidak biasa
istimewa.
Tanggal 23 Juli 2025,
suaramu yang nyaring menyebut tempat baruKu
menusuk hatiku seperti pisau yang halus.
Sebagai manusia biasa,
aku tak kuasa menahan tangis.
Kau menyemangati dalam bentuk canda,
namun hatiku tak sanggup menerimanya.
Waktu itu,
aku berbicara tak teratur
lebih banyak diam,
lebih banyak air mata.
Pikiranku melayang ke Ibu,
dan tentang kita yang akan berpisah,
karena pengabdian di tempat yang berbeda.
Rasanya berat,
dan malam-malamku tak nyenyak.
Akal budi kacau, hati gelisah.
Dalam hati sempat terlintas,
“Seandainya tahu begini,
lebih baik kemarin aku tidak ikut test.”
Sejak saat itu,
aku pindah tempat tidur.
Dari kamar yang kita tempati bersama,
aku turun ke ruang bawah.
Bukan karena ingin menjauh,
tapi aku tidak sanggup menghadapi kenyataan
bahwa persahabatan ini tiba-tiba diuji oleh jarak.
Saat aku pulang ke Manggarai,
aku sengaja tidak membangunkan kalian.
Karena aku belum sanggup berkata:
“Selamat bertugas di tempat kita masing-masing.”
Sepanjang penerbangan, aku menangis,
karena ini nyata bukan mimpi.
Bukan akhir dari persahabatan kita,
hanya keseharian yang berubah seketika.
Aku masih berproses untuk ikhlas.
“Hi Ndu..,” kataMu.
Tapi “Bon tahu isi”
dan itulah keunikan kita berdua.
Cinta…
Jangan lupa buatkan kue panas untuk Ibu, ya.
Hapus air mataNya
dengan caramu yang sederhana tapi menyenangkan.
Ermelinda Ermin Fir
Sebelum ke Kupang,
aku sempat mengirim WA:
“Aku siap beli raket. Kita bertanding, ya!”
Tapi tanggal 23 Juli berkata lain.
Aku harus pindah tempat pengabdian.
Semuanya mendadak,
kita belum sempat bersama lagi.
Dan, ya… aku memang belum sanggup.
Terima kasih untuk voice note-mu,
tentang rindu dan tangis yang kita bagi.
Di rumahmu dulu,
aku bebas melakukan apa saja,
tapi di sini belum tentu…
semua itu terasa hilang Cinta
Maafkan aku bila kadang memblokirmu
Bukan karena marah,
tapi mungkin aku sedang lelah atau khilaf.
Aku rindu, sungguh rindu.
Di sini, aku hanya bisa memandang kampungmu dari jauh.
Kalau saja lebih dekat,
aku ingin memasak sayur campur mie
dan makan bersama seperti dulu
lalu cerita sebentar,
tertawa dan saling menguatkan
dalam dinamika hidup kita yang penuh warna.
Betrida Purnama Sari
Sahabat Sejati Salam Rindu!
….. ….. ……. ……
By; Kristina Leri, S. Pd., Gr

