Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Belajar Menghormati Guru
Gagasan

Belajar Menghormati Guru

By Redaksi21 Agustus 20258 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Cici AI)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM

Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Belajar Menghormati Guru (BMG) berarti menempatkan guru sebagai pilar utama dalam pembangunan manusia Indonesia yang holistik, bukan sekadar pelaksana kebijakan sesaat.

Di tengah euforia kebijakan Makanan Bergizi Gratis, BMG mengingatkan bahwa guru yang lapar dan tak sejahtera tak mampu mendidik murid yang kenyang dengan sepenuh hati dan jiwa.

Maka, tanpa komitmen terhadap kesejahteraan guru, kebijakan pangan bergizi hanya akan menjadi solusi separoh jalan dalam menciptakan pendidikan yang benar-benar bermutu demi SDM yang unggul.

Postur anggaran negara yang berfokus pada program Makan Bergizi Gratis mencerminkan tekad pemerintah dalam menanam benih masa depan yang sehat dan cerdas melalui kebijakan nyata.

Dalam kerangka belanja negara, alokasi besar disiapkan untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang memadai di sekolah, sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam sumber daya manusia.

Program ini tidak hanya bertujuan mengatasi stunting dan kelaparan tersembunyi, tetapi juga memperkuat ekosistem pendidikan melalui peningkatan kehadiran dan konsentrasi belajar siswa.

Dengan pendekatan lintas sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, dan perlindungan sosial ekologis, anggaran ini menjadi manifestasi dari keberpihakan  dan kehadiran negara terhadap rakyat kecil dan masa depan yang berkeadilan sosial.

Puisi Pangan

Di pagi buta, embun menyentuh bulir beras yang menguning, tanda cinta petani kepada negeri. Gula manis dari tebu yang ditekan penuh harap, dan minyak dari kelapa yang jatuh di ladang, semuanya bukan sekadar komoditas, melainkan puisi pangan yang menari di piring-piring murid kecil.

Mereka makan bukan hanya untuk kenyang, tapi untuk bermimpi; untuk mencatat, menghitung, membaca dunia yang lebih luas dari ruang kelas. Di balik satu sendok nasi, ada harapan agar tidak ada lagi perut kosong yang membungkam pertanyaan cerdas di tengah pelajaran.

Namun murid tak sendiri dalam perjuangan itu. Guru, pelita yang tak boleh padam juga mesti kenyang. Mereka tak bisa mengajarkan semangat jika dapurnya sendiri berasap tipis. Negara harus memeluk mereka seperti mentari memeluk pagi: hangat dan setia.

Gaji yang layak, penghargaan yang tulus, dan kesejahteraan yang nyata adalah syarat mutlak agar ilmu tak hanya diajarkan, tapi ditransfer dengan cinta dan keyakinan. Guru kenyang bukan hanya secara jasmani, tetapi juga rohani, merasa dihargai sebagai penjaga masa depan bangsa.

Inilah simfoni kebijakan yang saling bersahutan: murid kenyang, guru sejahtera, dan bangsa tak gentar menghadapi masa depan. Makanan bergizi adalah fondasi; pendidikan unggul adalah jembatan; dan kesejahteraan rakyat adalah tujuan.

Maka, dengan anggaran yang berpihak dan keberanian politik yang teguh, Republik Indonesia melangkah maju menuju berdaulat dalam pangan, bersatu dalam cita, menuju rakyat yang sejahtera. Menuju kesehatan yang bukan sekadar impian dan kebahagiaan yang tak berumur pendek tetapi berkelanjutan, berakar dalam cinta tanah air, dan tumbuh mekar dalam semangat gotong royong.

Sepiring Nasi

Di pagi yang sunyi, sebelum lonceng sekolah berdentang dan buku-buku terbuka, ada tangan-tangan penuh kasih yang menyiapkan sepiring harapan. Makanan bergizi bukan sekadar isi piring, melainkan fondasi bangsa yang ingin berdiri kokoh di atas kaki sendiri.

Di balik sebutir telur, sejumput sayur, dan sepiring nasi hangat, mengalir tekad negara untuk memerdekakan anak-anak dari kelaparan, dari lemahnya tubuh, dari kabut pikiran yang tak bisa fokus karena perut kosong. Ini bukan hanya urusan dapur, tapi soal keadilan sosial yang dituangkan dalam anggaran, dalam komitmen, dalam cinta yang nyata untuk masa depan.

Lalu pendidikan unggul menjelma jembatan dari kampung kecil ke mimpi besar, dari pojok kelas yang sederhana menuju panggung dunia. Di sana, guru menjadi pelukis harapan, murid menjadi benih perubahan.

Kurikulum yang mendalam, memerdekakan, mengasyikkan,  ruang belajar yang memanusiakan, serta teknologi yang merangkul ketertinggalan, semuanya bersatu dalam irama yang saling melengkapi.

Pendidikan bukan sekadar angka kelulusan, tapi perjalanan menyala menuju kemerdekaan sejati: saat seseorang bisa memilih jalan hidupnya dengan pengetahuan, sikap,  keberanian, dan kebajikan.

Pada akhirnya, ke manakah simfoni ini diarahkan? Ke panggung paling megah: kesejahteraan rakyat. Di sanalah kemerdekaan menemukan wujud nyatanya, bukan di teks proklamasi, tapi dalam senyum ibu yang tak lagi cemas esok makan apa, dalam langkah anak-anak yang penuh semangat ke sekolah, dalam peluh petani yang tak sia-sia.

Kesejahteraan adalah tujuan Republik Merdeka: ketika tidak hanya segelintir yang merasa merdeka, tapi seluruh rakyat, dari gunung hingga pesisir, dari kota hingga dusun, berdiri sejajar, berdaya, dan bahagia. Itulah simfoni kebijakan publik yang cerdas, bukan sekadar janji, tapi lagu perjuangan yang dinyanyikan bersama.

Hormat Guru

Kunci utama pendidikan unggul adalah memuliakan martabat murid, dan itu tak bisa dicapai tanpa terlebih dahulu memulihkan martabat guru. Guru bukan sekadar pengajar; ia adalah penggugah, pemantik, dan penjaga api berpikir dalam jiwa anak-anak bangsa.

Ketika guru hidup dalam ketidakpastian ekonomi, tekanan administratif, dan kurangnya penghargaan sosial, maka ruh pengajaran menjadi menjadi ujung tombak yang tak pernah diasah alias tumpul.

Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed menekankan bahwa pendidikan sejati harus membebaskan; dan pembebasan itu dimulai dari yang mengajar, bukan hanya yang diajar.

Artinya, martabat guru harus ditegakkan terlebih dahulu agar mereka bisa menyalurkan pembelajaran yang bermartabat kepada murid.

Memuliakan martabat murid berarti menjadikan mereka subjek pembelajaran, bukan objek hafalan. Itulah pendekatan pembelajaran mendalam (PM); Murid yang dimuliakan adalah mereka yang dikenali potensinya, dihormati keunikannya, dan dibimbing tanpa rasa takut. Namun, proses ini hanya bisa berjalan jika guru berada dalam keadaan sejahtera dan bahagia berkelanjutan.

Seorang guru yang resah karena penghasilan yang minim dan tekanan hidup yang berat akan sulit memberi ruang aman dan tumbuh bagi murid. Menurut John Hattie dalam Visible Learning, kualitas guru adalah faktor paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Maka kualitas ini harus dirawat, salah satunya melalui kebijakan yang menjamin kehidupan guru secara layak.

Jaminan kesejahteraan bagi guru bukanlah hadiah, melainkan prasyarat bagi sistem pendidikan yang sehat dan unggul. Gaji yang memadai, perlindungan sosial, akses terhadap pengembangan profesi, dan lingkungan kerja yang manusiawi harus menjadi standar, bukan kemewahan.

Rata-rata negara dengan performa pendidikan terbaik di dunia seperti Firlandia menunjukkan pola yang sama: guru dipilih dari lulusan terbaik, dibayar dengan baik, dan diberi kepercayaan penuh untuk mengelola kelas.

Dalam Finnish Lessons oleh Pasi Sahlberg, dijelaskan bahwa penghormatan terhadap profesi guru adalah kunci utama dari ekosistem pendidikan yang bermutu tinggi dan berkelanjutan.

Kebahagiaan dan kesejahteraan guru harus dipandang sebagai bagian integral dari reformasi pendidikan. Ini bukan isu emosional semata, melainkan strategis.

Guru yang bahagia akan menciptakan suasana belajar yang menggembirakan, membangun hubungan yang sehat dengan murid, dan menciptakan komunitas belajar yang penuh berkesadaran, bermakna dan menggembirakan (BBM).

Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence menyoroti bahwa iklim emosional guru sangat memengaruhi iklim emosional kelas. Bila kita ingin murid-murid kita tumbuh menjadi pribadi utuh: cakap secara kognitif, sosial, dan emosional maka guru harus terlebih dahulu dirawat dan dihormati sebagai manusia holistik, seutuhnya.

Pendidikan unggul bukan hanya soal kurikulum, teknologi, atau infrastruktur tetapi tentang relasi kemanusiaan yang berakar pada rasa hormat, keadilan, dan kasih. Dan semua itu dimulai dengan kebijakan publik yang sadar bahwa guru bukan mesin, bukan alat negara, tetapi pilar peradaban.

Ketika martabat guru dipulihkan, maka mereka dapat mengangkat martabat murid. Di situlah kedaulatan pendidikan kita dibangun: bukan di atas angka-angka semata, tetapi di atas cinta yang diberi ruang untuk tumbuh.

Maka sudah saatnya kita tidak hanya berbicara tentang pendidikan unggul, tetapi menghidupinya dengan memuliakan mereka yang menghidupkan harapan: para guru.

Pilar Peradaban Cinta

Guru bukanlah alat kekuasaan negara, melainkan pilar peradaban cinta yang menanam nilai-nilai kemanusiaan demi hidup yang harmoni. Dalam ruang kelas, guru bukan hanya penyampai kurikulum, tetapi penjaga nurani, penanam kasih sayang, dan pemantik kesadaran murid terhadap dunia dan dirinya sendiri.

Jika negara melihat guru semata sebagai pelaksana program politik atau penggerak birokrasi, maka pendidikan kehilangan jiwanya. Guru bukan penyambung propaganda, tetapi penjaga ruang kritis, tempat anak-anak belajar berpikir bebas, merasa dalam, dan hidup selaras dengan sesama.

Di sinilah letak kemuliaan profesi guru: ia tak mencetak manusia patuh, tetapi membimbing manusia yang merdeka.
Neil Postman, dalam bukunya Teaching as a Subversive Activity, menempatkan guru sebagai aktor subversif bukan dalam arti memberontak secara destruktif, tetapi mengganggu status quo demi membuka kesadaran.

Guru yang sejati, menurut Postman, adalah mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengguncang kemapanan berpikir, membebaskan murid dari sekadar menerima apa adanya, dan membimbing mereka menjadi pencari makna, bukan penghafal isi.

Pendidikan, kata Postman, harus melahirkan masyarakat yang mampu berpikir reflektif, bukan hanya tunduk pada sistem. Maka dalam konteks ini, guru adalah kekuatan pembebas: subversif terhadap ketertundukan, tapi setia pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran.

Dalam bukunya The End of Education: Redefining the Value of School yang diterbitkan pada tahun 1995, Neil Postman menegaskan bahwa  tujuan mulia dari pendidikan sangat ditentukan oleh nasib dan peran guru dalam sistem pendidikan itu sendiri.

Ia melihat bahwa pendidikan akan kehilangan arah jika guru direduksi hanya sebagai penyampai informasi atau pelaksana teknis kurikulum.

Sebaliknya, jika guru diposisikan sebagai penjaga narasi besar yang sakral seperti makna hidup, tanggung jawab moral, dan harapan kolektif, maka pendidikan akan menjadi proyek peradaban cinta yang bernilai luhur.

Postman percaya bahwa guru harus diberi ruang sebagai pemikir, pendidik, dan inspirator yang mampu menghidupkan visi pendidikan sebagai pembentuk identitas manusia, mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekadar penghasil tenaga kerja.

Maka, nasib pendidikan sangat bergantung pada bagaimana kita memperlakukan guru: apakah sebagai pelayan sistem atau penjaga nilai.

Harmoni sejati dalam hidup tidak dibentuk oleh keseragaman, tetapi oleh keberanian untuk memahami dan merayakan perbedaan, dan guru adalah penjaga gerbang menuju harmoni itu. Jika guru hanya dijadikan alat negara, maka yang lahir adalah generasi yang diam dan takut bertanya.

Namun bila guru diberi ruang untuk menjadi subversif dalam arti yang Postman maksud, yakni menumbuhkan kesadaran kritis dan cinta pada kehidupan, maka pendidikan akan menjadi jalan menuju masyarakat yang berdaulat, bersantun,  adil, inklusif, dan penuh empati.

Di tangan guru yang merdeka, peradaban cinta bisa bertunas. Di hati guru yang berpikir kritis, kreatif dan merasa bebas, lahirlah masa depan yang humanis ekologis demi kebahagiaan berkelanjutan.

Pater Vinsensius Darmin Mbula Vinsensius Darmin Mbula
Previous ArticleBerkas Perkara Kasus Dugaan Penelantaran Istri oleh DPRD Kota Kupang Dilimpahkan ke Kejati NTT
Next Article DPC Partai Demokrat Manggarai Barat Sumbang Semen untuk Pembangunan Kapela dan Masjid

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.