Oleh: Kristina Leri
Sepuluh tahun aku mengabdi sebagai honorer,
bukan sekadar menghitung hari,
tetapi menenun kisah dengan benang luka dan sabar.
Di ruang kelas aku berdiri,
menyulam ilmu dengan hati,
mengukir cita-cita anak negeri,
meski langkahku sendiri masih rapuh dan tak pasti.
Tiga tahun terakhir di tempat lamaku mengabdi,
aku melihat wajah pengabdian yang tak beradab.
Bukan karena miskin aturan,
bukan karena tiada pengetahuan,
melainkan karena hati yang memilih membisu,
menukar nurani dengan kursi,
menukar kebenaran dengan senyum palsu.
Tahun berganti, belasan orang tetap bertahan,
sementara aku melangkah ke tempat lain.
Bukan karena menyerah,
bukan karena ingin menjatuhkan,
tetapi karena suara jujur
tak selalu diterima di telinga
Para pendusta.
Ada mereka yang membagi jam tanpa acuan resmi,
seolah waktu hanyalah angka
yang bisa dipecah sesuka hati kepada belahan jiwa
Padahal di balik angka dua itu
ada nasib yang menunggu,
ada tanggung jawab yang berat,
ada masa depan yang digenggam erat.
Aku pernah bertanya,
“Hei, bagaimana ini?”
Lalu kudengar jawaban ringan,
“Cari saja di sekolah lain.”
Jawaban sederhana,
namun menorehkan luka panjang
pada hati yang mencoba setia dan menjadi Dugaan dasar.
Ada pula sosok yang tersenyum ramah,
namun tangan tak henti mengatur,
membuat jadwal roster sementara, menentukan siapa mengasuh biologi
yang banyak, siapa yang tersisih.
Bukan karena adil,
melainkan karena titah dari sang empunya ruang gelap,
yang tampak megah,
namun sering menutup mata pada nurani.
Di sebuah panggung aku melihat mereka bersuara lantang,
menggaungkan kata “min” dan “tuntas.”
Seolah-olah pembela kebenaran,
seolah-olah pahlawan sejati.
Padahal yang kutangkap hanyalah drama,
dipertontonkan dengan wajah serius,
namun disimpan dengan hati yang kosong.
Dari tempat pengabdian baruku,
aku sampaikan:
“Lebih baik terlihat sederhana,
meski dianggap pendosa,
daripada menjual nama Tuhan
untuk menutupi kejahatan.”
Sebab aku percaya,
Tuhan tak pernah berpihak pada sandiwara.
Tuhan bukan tameng untuk menutupi dosa,
bukan alasan untuk menindas sesama,
bukan alasan untuk memakan hak yang bukan miliknya.
Sepuluh tahun perjalanan ini mengajariku,
bahwa kejujuran adalah harga mati.
Kadang ia dibayar dengan air mata,
kadang dengan pengasingan,
kadang dengan stigma,
bahkan dengan pengkhianatan.
Namun biarlah begitu,
lebih baik aku berjalan di jalan sunyi,
Nyaman dan sepi,
daripada ikut menari
di atas lantai yang terbuat dari dusta.
Hari-hari panjang sebagai honorer
mungkin tak memberiku harta,
tak memberiku kuasa,
namun menghadiahiku satu hal
yang tak bisa dibeli oleh siapa pun:
Berani dan jujur
Dan di perjalanan hidup ini,
aku ingin dikenal
bukan sebagai pahlawan,
bukan sebagai pecundang,
tetapi sebagai manusia
yang setia pada kata hati.
Maka kuakhiri bait ini
dengan doa yang tenang,
dengan bara yang tetap menyala,
dengan luka yang berubah jadi cahaya:
Salam dari tempat baruku yang sejuk,
untuk kalian yang masih bertahan,
untuk kalian yang memilih jujur meski dihina,
untuk kalian yang yakin
bahwa kejujuran sejati
tak pernah bisa dibeli.

