Mbay, VoxNTT.com – Dua dari tiga korban meninggal dunia akibat banjir bandang yang melanda Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, telah dimakamkan pada Rabu, 10 September 2025 di Kampung Sawu, Kecamatan Mauponggo.
Ketiga korban tersebut sebelumnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah terseret arus banjir. Sementara itu, empat korban lainnya, terdiri dari seorang ayah bersama anak balitanya serta seorang ibu bersama balitanya, hingga kini masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.
Dua korban yang telah dimakamkan di Kampung Sawu adalah Eligius Sopi Bela (34) dan putrinya yang masih berusia tujuh bulan, Maria Condriani Febrian Nua Kio.
Keduanya dimakamkan dalam satu liang lahat. Adapun satu korban lainnya, ibu mertua Eligius, telah dibawa ke Kampung Wudu, Kecamatan Boawae, untuk dimakamkan.
Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman. Isak tangis keluarga pecah saat dua peti jenazah milik ayah dan anak itu dibawa keluar dari rumah duka menuju pemakaman keluarga yang terletak di belakang rumah. Misa pemakaman dipimpin oleh RD Kamilus Ndona, yang juga merupakan sepupu dari almarhum Eligius.
Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Senin malam, 8 September 2025, sekitar pukul 19.00 Wita. Banjir bandang yang meluap dari Kali Koke (Lowo Koke) menghantam sebuah rumah pondok di bantaran sungai, tempat para korban tinggal.

Florianus Sopi (50), sepupu korban, menjadi orang pertama yang berupaya menyelamatkan para penghuni pondok. Dalam kondisi gelap akibat padamnya aliran listrik, ia nekat menyeberangi sungai dengan bantuan tali.
“Saat itu ada enam orang di dalam pondok. Tiga orang berhasil saya selamatkan meski mengalami luka berat, yakni istri Eligius, saudara perempuannya, serta anak kedua Eligius. Namun, tiga lainnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” tutur Florianus.
Proses evakuasi terhadap korban selamat berlangsung sejak pukul 20.00 Wita hingga pukul 02.00 dini hari. Sementara itu, jenazah korban meninggal baru berhasil dievakuasi setelahnya, karena tertimbun material kayu, batu, dan lumpur.
Menurut Florianus, saat ditemukan, Eligius masih dalam posisi memeluk putri kecilnya. Rumah pondok mereka hanyut sejauh empat meter sebelum tersangkut pada pohon lontar dan batu besar.
Dua hari pasca peristiwa, Kecamatan Mauponggo masih lumpuh total. Listrik, air bersih, dan jaringan komunikasi belum pulih. Pemerintah Kabupaten Nagekeo telah mengerahkan dua unit ekskavator dan satu unit beko loader untuk membersihkan material longsor yang menutup badan jalan.
Di Jembatan Teodhae 1, alat berat mulai beroperasi sejak pukul 14.00 Wita, dan pada pukul 19.45 Wita jalan darurat berhasil dibuat sehingga bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Sementara itu, proses pembersihan di Jembatan Teodhae 2 yang menghubungkan ke pusat Kecamatan Mauponggo dijadwalkan dilakukan pada hari berikutnya, dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan.
Operasi pembersihan ini turut dibantu oleh 27 personel TNI dari Batalyon TP 834/Waka Nga Mere Nagekeo, yang terdiri dari Kompi C (10 personel), Kompi Kesehatan (13), Semi Konstruksi/Sipur (2), dan Penerangan (2), masing-masing dipimpin oleh Komandan Kompi (Danki).
Hingga kini, tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap empat korban yang belum ditemukan. Di sisi lain, sejumlah korban selamat yang mengalami luka-luka tengah menjalani perawatan intensif di Puskesmas Mauponggo.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

