Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»AI di Ruang Para Frater: Peluang Ilmu, Risiko Spiritualitas
Gagasan

AI di Ruang Para Frater: Peluang Ilmu, Risiko Spiritualitas

By Redaksi10 Oktober 20255 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Para mahasiswa Filsafat IFTK Ledalero 
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Jozef Wojtyla Baho

Mahasiswa IFTK Ledalero

Sebagai insan yang hidup di era modern tentu tak asing lagi dengan istilah AI yang memiliki andil besar dalam peradaban manusia. Artificial Intelligence (AI), secara harafiah dipahami dengan mudah sebagai kecerdasan buatan dan dengan jelas disimpulkan sebagai kecerdasan yang tidak berasal dari diri manusia tetapi diciptakan oleh kecerdasan manusia.

Apabila ditilik secara lebih mendalam, AI memiliki bidang pemahaman yang sangat kompleks. Term ini menjadi sebuah tanda kemajuan yang luar biasa di bidang IPTEK.

AI menjadi sebuah temuan yang spektakuler dan tidak masuk akal tetapi nyata ada dan sedang ramai digunakan.

Tingkat popularitasnya meningkat dengan sangat singnifikan karena manfaat dan kegunaannya yang nampak dalam berbagai sektor kehidupan manusia.

Di tengah merebaknya pengaruh AI, kita pun ditempatkan pada situasi dilematis. Di satu sisi, AI memiliki pengaruh yang sangat positif yakni membantu manusia dalam memenuhi kebutuhannya.

Sebaliknya di sisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa AI juga menjerumuskan manusia pada sifat ketergantungan dan instan dalam memperoleh sesuatu tanpa usaha dan kerja keras.

Sebagai pengguna teknologi, kita dengan mudah mendapatkan apa yang kita butuhkan melalui bidang kerja AI. Tetapi pernahkah kita bertanya bagaimana sesuatu yang kita inginkan dengan mudah dikerjakan oleh AI yang bahkan memiliki ide yang lebih brilian dari apa yang bisa dipikirkan?

Lantas, apakah AI bisa mengantikan manusia sebagai makhluk rasional? Karena itu, kita punya anggapan yang kuat bahwa AI bukan merupakan suatu sistem abal-abal tetapi sungguh-sungguh ada, cerdas, mendominasi, dan berpengaruh secara luas dalam seluruh aspek kehidupan.

Pengaruh AI yang menjangkau ruang dan waktu yang luas secara nyata berdampak juga dalam kehidupan para calon imam biarawan.

Kehidupan membiara sebagaimana yang dikehendaki oleh Konsili Vatikan II adalah panggilan sebagai murid yang mengikuti Kristus secara radikal dan untuk hidup dalam komunitas murid Kristus yang bermisi.

Sikap radikal sedikit berkonotasi negatif bila dikaitkan dengan gerakan radikalisme. Secara etimologis, ‘radikal’ berasal dari bahasa latin radix yang berarti akar.

Dalam konteks ini, mengikuti Kristus secara radikal berarti melaksanakan teladan dan ajaran Yesus secara menyeluruh dan mendalam. Tentunya, mewujudkan tugas tersebut bukanlah suatu perkara yang gampang dan menyenangkan.

Sebaliknya dibutuhkan suatu latihan dan persiapan yang matang dalam sebuah rumah formasi. Dalam melewati proses formasi itu terutama di era zaman modern ini, para seminaris pastinya tak luput dari pengaruh AI.

Kendati demikian, apakah pengaruh AI dalam kehidupan para frater mengarah kepada hal-hal positif ataukah sebaliknya?

AI dengan berbagai fitur yang menggugah sangat membantu para frater untuk mengakses banyak sumber ilmu pengetahuan. Salah satu tuntutan dalam kehidupan membiara adalah aspek pengetahuan/akademik.

Setiap calon imam dituntut untuk memiliki pengetahuan yang mumpuni, luas, kritis, dan koheren supaya dapat memberikan pengajaran dan pelayanan yang baik kepada umat yang akan dilayaninya.

Selain itu, berbagai persoalan yang dihadapi dalam dunia pelayanan menuntut para biarawan untuk bersikap kritis dan pandai dalam menyikapi persoalan tersebut.

Pada umumnya, setiap calon imam diwajibkan untuk menamatkan studi filsafat dan teologi sebelum ditahbiskan menjadi imam. Dalam hal inilah, para frater terbantu untuk menggali sumber ilmu baik yang berkaitan dengan Gereja katolik, maupun bidang studi yang ditekuninya yakni filsafat dan teologi.

Penggunanaan AI juga membantu para frater dalam membuat konten pastoral digital berupa video renungan, publikasi pengetahuan dan kesaksian iman agama katolik serta ide kreatif lainnya melalui Youtube dan media-media online yang didukung oleh AI.

Topik ini hemat saya menjadi tema yang hangat di era modern ini dan menjadi salah satu metode yang kontekstual digunakan dalam pewartaan.  Metode ini cukup relevan karena masyarakat di era modern ini banyak menghabiskan waktunya dengan penggunaan gadget.

Santo Carlo Acutis adalah salah satu tokoh Gereja yang sungguh-sungguh menggunakan teknologi bukan sekadar hiburan semata tetapi bagi proses evangelisasi.

Teladan ini menjadi sebuah contoh penggunaan teknologi yang berdaya guna bagi pewartaan Kerajaan Allah.

Kendati demikian, penggunaan AI dalam kehidupan para frater juga membawa dampak negatif. Krisis spiritualitas menjadi salah satu komponen yang menjadi sorotan utama.

Keunggulan AI yang dimanfaatkan secara bebas berpotensi menurunkan daya kritis, kemampuan menulis dan memahami, dan kedalaman refleksi pribadi dalam kehidupan para frater.

Tak dapat dielakan bahwa ada segelintir seminaris yang menggunakan AI untuk menghasilkan renungan, refleksi dan mengerjakan. Misalnya penggunaan aplikasi chat GPT dalam pembuatan renungan dan pengerjaan tugas.

Tendensi-tendensi inilah yang mengakibatkan para frater kurang berefleksi dan berpikir secara mendalam tentang wahyu Allah dan panggilan hidupnya.

AI bisa menyajikan banyak sumber dan informasi tentang bidang studi filsafat, teologi dan pengetahuan tentang Gereja Katolik.

Kendati demikian, masih ada beberapa informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kemudahan dalam mengakses fitur-fitur AI bisa berpengaruh pada kebiasaan untuk mengabaikan buku-buku rohani, Kitab Suci dan buku ilmu pengetahuan karena segala informasi bisa diakses secara online.

Akibatnya, pengetahuan dan pendalaman iman para frater mengalami kemunduran serta tuntutan hidup kontemplatif tidak terpenuhi secara baik.

Selain itu, dengan berbagai tawaran menarik yang disuguhkan oleh AI dapat berpotensi menjerumuskan para frater untuk menghabiskan waktu dengan aktif di dunia maya, tapi maya di dunia nyata.

Kecendrungan ini sangat bertentangan dengan salah satu aspek kehidupan membiara yakni hidup persatuan dalam komunitas biara.

Berhadapan dengan realitas di atas, para frater mesti menyadari kembali komitmen panggilannya yang bersifat pribadi dan unik sebagai bentuk jawaban atas inisiatif Allah untuk memanggil.

Di era modern ini, kita tidak luput terhadap penggunaan AI yang canggih dan pintar. Hal yang patut ditegaskan ialah bahwa AI mesti menjadi jembatan dan alat bantu dalam menumbuhkan kesadaran akan panggilan Allah.

Sebaliknya pemanfaatan AI tidak boleh mendominasi atau bahkan menjadi pengganti kegiatan berefleksi dan kontempasi.

Pengaplikasian AI seharusnya mendukung hidup panggilan dan membantu dalam pewartaan iman sebagaimana yang diteladankan oleh St. Carlo Acutis.

Setiap frater yang diberikan ruang dalam menggunakan teknologi diharapakan mampu untuk bertindak bijaksana dan cerdas dalam menggunakan Artificial Intelligence agar mengingatkan bahwa panggilan hidup membiara menyatu dengan perkembangan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan inti dan hakikat dari panggilan tersebut.

Jozef Wojtyla Baho
Previous ArticlePerpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa: Antara Stabilitas dan Ancaman Demokrasi Lokal
Next Article Debat Terbuka Calon Ketua OSIS SMA Katolik St. Josef Freinademetz Digelar dengan Penuh Antusias

Related Posts

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Lagu MBG: Ketika Rakyat Berbicara lewat Nada

2 Juni 2026

Pancasila Sebagai Identitas Nasional: Menjaga Jiwa Indonesia di Tengah Arus Zaman

1 Juni 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.