Oleh: Betrida Purnama Sari, S.Pd.,Gr
Panggil saja aku Sari, lengkapnya Betrida Purnama Sari, seorang guru yang terpilih sebagai pengawas ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMA/SMK di SMAS St. Gregorius Reo tanggal 3-4 Nopember 2025 lalu.
Pagi baru saja menggeliat, suara ayam menyapa terdengar samar di telinga, suasana kamar yang sunyi membuatku enggan membuka mata.
Seketika aku sadar ada tugas besar yang harus dijalani pagi itu.
Aku pun melonjak dari kasur empuk dan buru-buru ke kamar mandi.
Setelah mandi aku pun mengenakan pakaian putih, bawahan hitam, lengkap dengan dasi.
Sesi merias wajah juga tak luput agar tetap kelihatan cantik. Hehehe..
Selepas bersiap, aku beranjak ke tepian jalan raya depan rumahku, menanti jemputan saudara yang sebelumnya memang sudah janjian boncengan ke sekolah tempat tugasku mengawas pelaksanaan TKA.
Sembari melihat para remaja yang berlalu di hadapanku dengan berbagai ekspresi di atas kendaraan, aku pun teringat saat-saat itu, berjalan kaki menuju sekolah.
Aku menyukai kenangan itu karena kami dulu sangat kompak, hampir jarang yang memakai kendaraan.
Sejenak memandang jempol kaki, lalu dalam hati berkata; andai dulu saya tidak berjalan kaki, pasti jempol kakiku tidak sebesar ini.
Dari situlah kenangan almamater SMAS St. Gregorius Reo ini mulai pelan-pelan terniang.
Klakson motor butut saudaraku tiba-tiba berbunyi dan ia perlahan menghampiriku, membuat aku sadar dari lamunan.
Ia menyapa dengan basa basi “Hey orang kampung kapan datang”.
Sembari tersenyum aku pun menjawabnya “Kemarin sore kami datang kak”.
Aku pun berboncengan denganya menuju sekolah.
Sepanjang perjalanan kami membagi cerita.
Ia berbagi cerita di Kampung Sengari, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, tempat kami tumbuh bersama dan aku bercerita tentang keadaan, suasana di Loce, Kecamatan Reok Barat tempatku mengabdi dan berdomisili bersama keluarga kecil.
Motor butut saudaraku terus melaju, kami menyusuri jalan yang penuh dengan kenangan indah masa sekolah, melewati bukit Barangkolong yang disekelilingi oleh deretan sekolah SD, SMP, hingga Madrazah.
Hatiku bergejolak, nostalgia masa sekolah seketika tumbuh kembali dalam ingatan, ditambah suara bising kendaraan yang hiruk pikuk mengantar siswa-siswi membuat kenangan dulu kian nyata.
Di bukit Barangkolong inilah segala cita tercipta dan segala rasa diraih.
Dari tempat ini pula tumbuh berkas cahaya yang menerangi dunia dalam diri generasi penerus bangsa.
Budaya toleransi juga kental terasa di bukit Barangkolong ini
Bagaimana tidak, ada lima sekolah besar yang terpusat di tempat ini, mulai dari SD hingga SMA dan Madrazah.
Para guru dan siswa-siswinya berasal dari latar belakang suku, agama, ras dan adat istiadat yang berbeda, tetapi mereka hidup rukun dan saling mendukung layaknya saudara.
Pendatang mungkin berkata “Oh itu hal biasa”, tetapi aku dengan lantang berkata “Aku bangga pernah tumbuh dan berdinamika dalam kbinekaan itu dan aku bangga pernah menuntut ilmu di Barangkolong”.
Cerita pun berlanjut sampai di gerbang sekolah SMAS St. Gregorius Reo lalu kami pun menuju area parkiran.
Angin bertiup sepoi-sepoi seolah menyambut kehadiran kami dengan lembut.
Ini kali pertama aku menginjakan kaki di almamater tercinta setelah satu dekade berlalu.
Perasaan haru dan bangga mulai menyelimutiku.
Jejak-jejak kisah almamaterku masih terlihat di tengah banyaknya gedung, taman dan sarana prasarana baru yang dibangun.
Suasana sekolah begitu ramai, siswa-siswi beraktivitas dengan tugas masing-masing, ada yang membersihkan taman, menyiram tanaman, membersihkan kelas dan ada pula yang wara wiri kesana kemari.
Meski belum berkenalan dalam kesibukannya, jiwa muda itu menyapa dan memberi salam kepadaku.
Aku kagum dengan mental seperti itu, karena menjunjung tinggi etika adalah kunci utama.
Tanpa ragu akupun membalas salam sembari tersenyum dan berkata dalam hati “Ah ingin kembali ke masa putih abu-abu”.
Sampailah aku di ruang Sekretariat TKA yang sudah disulap dengan rapi dan dihiasi bunga-bunga.
Masih terlihat papan tulis, papan informasi, roster harian, visi misi sekolah, gantungan surat sakit, juga ada atribut-atribut sekolah lainnya.
Aku kemudian memasuki ruangan, menarik kursi lalu duduk menunggu pengawas lain, sambil bermain ponsel memantau dashbor profesionalku.
Dalam keasyikan itu, muncul tiba-tiba dihadapanku sosok bapak guru.
Dia adalah mantan guruku dulu, Pa Mex namanya, panggilan kesayangan dari Maksimus.
Tanpa berpikir panjang aku menyambut dan menyalaminya.
Pa Mex menanyakan tentang kabarku dan sekaligus menyampaikan profisiat atas kesuksesan dan pencapianku.
Kami pun saling berbagi cerita dan dalam hati aku bergumam “Terima kasih Tuhan atas kesempatan untuk boleh berjumpa kembali dengan mereka pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah mendidiku hingga aku tumbuh menjadi guru”.
Pengawas lain mulai berdatangan disusul Ketua Kordinator TKA, pak Greis namanya.
Ia datang bersama Romo Sandi, Kepala Sekolah SMAS St. Gregorius Reo.
Kami berjabat tangan untuk menjalin persaudaraan baru, berkenalan juga dengan pengawas lain yang berasal dari MAN 1 Manggarai.
Semua pengawas itu bapak-bapak, dan aku saja guru perempuan di antara bapak-bapak itu.
Pa Greis mengarahkan kami menuju ruangan.
Arahan singkat dari Romo Kepala Sekolah SMAS St. Gregorius Reo dimulai.
Romo menyampaikan selamat datang dan memberikan beberapa poin penting tentang pelaksanaan TKA.
Setelah itu kami diarahkan lagi menuju ruangan laboratoriun komputer tempat ujian TKA berlangsung.
Jalannya Pelaksanaan TKA
Aku bersama Pak Suaib dari MAN 1 Manggarai mendapat tugas mengawas di ruangan laboratorium 2, sedangkan Pak Haris dan Pak Jemadin di ruangan 1.
Kami pun bergegas melakukan pengawasan dengan bergabung ke ruang rapat virtual melalui aplikasi zoom.
Saat zoom dimulai, aku mempersilahkan peserta memasuki ruangan sambil membagikan kartu peserta login, sementara Pak Suaib membimbing mereka mengisi daftar hadir.
Setelah itu peserta ujian diarahkan menuju bilik komputer untuk melakukan login ke aplikasi exam browser untuk mulai mengerjakan soal.
Perasaan gugup peserta ujian terlihat jelas dari gesture tubuh ketika berhadapan dengan komputer.
Ada yang menggoyang kaki, ada tangan yang gemetar memegang mouse dan ada yang pucat sampai keringat dingin bercucuran.
Untuk hari pertama, mata pelajaran yang diujiankan adalah mata pelajaran wajib, yakni bahasa indonesia, matematika dan bahasa inggris.
Kendala Listrik
Selama proses ujian hari pertama berlangsung kami dihadapkan dengan kendala listrik.
Untuk sesi 1 listrik PLN dua kali padam, peserta ujian panik, kami sebagai pengawas berusaha menenangkan para peserta agar tetap menjaga ketertiban.
Proktor dan teknisi menghidupkan mesin genset, komputer dihidupkan kembali dan peserta melakukan login ulang.
Tepat Pukul 11.00 WITA ujian untuk sesi 1 pun berakhir, peserta boleh meninggalkan ruangan.
Di luar ruangan mereka meluapkan perasaan dengan berteriak mengisyaratkan kegembiraan seakan telah melewati masa-masa sulit dalam hidup.
Sesi kedua TKA dimulai Pukul 11.30 WITA, kami kembali bergegas ke ruang laboratorium 2.
Terik matahari membuat ruang begitu panas, seperti sedang terpanggang meski ada tiga buah kipas angin.
Para peserta ujian mengerjakan soal dengan keringat bercucuran di wajah, sesekali mengibaskan tangan.
Sungguh pergulatan yang luar biasa.
Ujian sesi dua berakhir tepat Pukul 14.00 WITA, kali ini tanpa kendala berarti.
Kami kembali ke ruang pengawas untuk makan siang dan ternyata teman-teman pengawas lain sudah menunggu disana.
Setelah makan siang dengan waktu yang cukup singkat sesi kedua Pukul 14.30 WITA dimulai.
Namun ceritanya seakan seperti kembali ke sesi 1, listik padam lagi.
Ponselku yang digunakan untuk zoom juga mati karena kehabisan arus.
Hiruk pikuk suasana di ruangan kembali terjadi, protokor kembali mengidupkan genset.
Aku dan Pak Suaib kembali menggunakan ponsel dan bergabung kembali dalam rapat virtual bersama pengawas penyelia.
Suasana kembali kondusif hingga peserta ujian mengerjakan soal tanpa ada kendala berarti.
Sesi 3 berakhir dengan baik Pukul 17.00 WITA.
Hari pertama yang penuh tantangan dan rintangan telah berakhir, kami kembali ke rumah masing-masing dengan cukup lelah.
Hari kedua dimulai, rasah lelah kemarin tidak menyurutkan semangatku untuk kembali menjalankan tugas pengawasan.
Seperti biasa aku mulai merias diri.
Pakaian hari itu diperbolehkan mengenakan warna bebas tetapi tetap bawahan hitam dan berdasi.
Klakson sepeda motor saudaraku berbunyi, aku pun terburu-buru.
Aku berlari ke jalan menaiki sepeda motor dan kami melaju kencang.
Kali ini rute yang kami lewati sedikit berbeda.
Baru ku tahu ternyata ada jalur lain menuju bukit Barangkolong, melewati sebuah pemukiman kecil, namanya Kampung Ni,u.
Kami menyusuri area persawahan warga, pemandangannya sangat indah.
Hamparan sawah yang hijau membuat pikiran menjadi tenang, ditambah udara yang sejuk khas pedesaan.
Saudaraku bercerita ini jalur kami kalau cari rumput sapi.
Tiba di sekolah kami memang sedikit terlambat, di parkiran sekolah ada pengawas lain yang sudah datang lebih dulu.
Kedatangan kami disambut senyum sumringah teman-teman pengawas itu.
Kami pun memulai hari kedua dengan penuh semangat.
Mata pelajaran yang diuji hari itu adalah mata pelajaran pilihan peserta dengan waktu sesi yang sama seperti sebelum.
Satu hal yang menarik di ujian kedua, seluruh sesi ujian menggunakan genset, tidak lagi menggunakan PLN.
Begitu pun ponsel zoom juga berasal dari aliran listrik.
Pilihan ini diputuskan berdasarkan pengalaman hari pertama, kami tidak mau ujian hari kedua menjadi kendala karena listrik PLN.
Benar kata orang, belajar dari kesalahan akan membawamu kepada kebenaran sejati.
Alhasil, Puji Tuhan semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.
Dalam sambutan terakhir, Romo Sandi menyampaikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf atas semu kendala yang dihadapi selama ujian berlangsung, pengorbanan dan dedikasi para pengawas dari hari pertama juga disampaikan limpah terima kasih.
Kami pengawas membalasnya dengan senyuman sambil menikmati snack dan secangkir kopi manis, ditemani hujan.. “Ah.. nikmatnya”.
Sungguh pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan.
Terima kasih semesta telah memperkenankanku mendapat kesempatan ini.
Sepeda motor butut kami meninggalkan parkiran sekolah.
Cerita pun berakhir..

